Brexit dan Imbasnya Pada Ekonomi Jepang - HadaCircle

31 Januari 2017

Brexit dan Imbasnya Pada Ekonomi Jepang

Tanggal 26 Januari lalu, pemerintahan Perdana Menteri Inggris Theresa May menyerahkan rancangan undang-undang (RUU) kepada Parlemen, yang memberikan May kekuatan untuk memulai negosiasi pemisahan negara itu dari Uni Eropa (Brexit). Dalam Tinjauan hari ini, kami akan menyimak penjabaran Osamu Tanaka, Kepala Ekonom Institut Riset DAI-ICHI Life mengenai masa depan Brexit dan kemungkinan imbasnya pada perekonomian Jepang.

Partai oposisi Inggris, Partai Buruh, telah mengarahkan serangan semenjak pembahasan dimulai di Parlemen setelah penyerahan RUU tersebut. Tetapi Parlemen meloloskan sebuah mosi pada awal Desember yang mengatakan negosiasi untuk meninggalkan Uni Eropa harus dimulai sebelum akhir Maret 2017. Maka dari itu kericuhan besar tampaknya tidak akan terjadi sebelum dimulainya pembicaraan resmi. Terdapat kecenderungan bahwa masalah-masalah panas, seperti menyusutnya hubungan dengan Uni Eropa dan perdagangan Inggris setelah negara itu meninggalkan Uni Eropa, akan muncul setelah perundingan dimulai. Dengan mempertimbangkan pendapat masyarakat yang ditunjukkan oleh referendum, Perdana Menteri May telah menjelaskan bahwa Inggris tidak akan mengalah akan isu membatasi imigrasi ke dalam negara itu meskipun harus berpisah dengan pasar tunggal Eropa. Namun demikian, May akan mencoba meminta Uni Eropa untuk membuat pengecualian dan sepakat untuk mempertahankan lingkungan bisnis saat ini atas area bisnis penting seperti otomotif dan keuangan. May juga telah mengungkapkan keinginan Inggris untuk menandatangani kesepakatan perdagangan bebas komprehensif baru dengan Uni Eropa, negara-negara dan kawasan-kawasan lain setelah meninggalkan Uni Eropa, serta berupaya untuk menjadi negara yang benar-benar global.

Jumat lalu (27/01/2017), May menyelenggarakan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump. Tanaka meyakini bahwa dengan mengangkat topik kesepakatan perdagangan bebas pada pertemuan itu, May mengirimkan pesan ke negara-negara lain bahwa negaranya ingin merundingkan kesepakatan perdagangan bebas. Pada saat yang sama, May mungkin mencoba untuk mendapatkan keunggulan dalam perundingannya bersama Uni Eropa dengan menunjukkan peluang kesepakatan perdagangan bebas dengan AS.

Di sisi Uni Eropa, pihaknya tidak dapat mengalah atas jaminannya akan perpindahan bebas barang, modal, jasa dan orang. Uni Eropa mengatakan bahwa Inggris tidak dapat memilih beberapa bagian saja yang ingin dimilikinya dari kerangka kerjasama Uni Eropa. Inggris berkeras dalam membatasi imigrasi. Tak dapat dipungkiri bahwa perundingannya akan rumit.

Keluar dari Uni Eropa berarti bahwa Inggris tidak akan lagi punya akses terhadap sistem paspor tunggal yang memungkinkan perusahaan-perusahaan yang didirikan secara sah di salah satu negara anggota, untuk menyediakan jasa ke seluruh wilayah Uni Eropa. Ini mungkin memaksa berbagai institusi keuangan Jepang yang bisnisnya berbasis di Inggris untuk mempertimbangkan kembali rencananya. Para produsen otomotif Jepang masuk ke Inggris karena akan mendapat akses ke pasar Uni Eropa yang memiliki populasi 500 juta orang. Bea masuk yang harus dibayar setelah Inggris keluar dari Uni eropa akan menjadi masalah besar bagi berbagai perusahaan itu.

Hanya ada sedikit yang dapat kita lakukan selain dari mengikuti kemajuan perundingan selama dua tahun mendatang. Namun, sudah pasti bahwa perusahaan-perusahaan Jepang akan menghadapi keputusan yang sulit.

Demikian penjelasan Osamu Tanaka, Kepala Ekonom Institut Riset DAI-ICHI Life.

Brexit

Comments


EmoticonEmoticon