Fenomena Deja vu - HadaCircle

4 Februari 2017

Fenomena Deja vu

Fenomena Deja vu (Deja vu Phenomenon) - Artikel ini adalah tentang fenomena perasaan/sensasi pada otak manusia. (Disambiguasi: Deja vu AKB48, JKT48)

Déjà vu, (Speakerlink-new.svgaku/ˌseɪʒɑː ˈvuː/; Perancis pronunciation: [de.ʒa.vy])  dari bahasa Perancis, secara harfiah "pernah melihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.[1][2][3][4] Déjà vu adalah suatu perasaan telah mengetahui dan déjà vécu (perasaan "pernah hidup melalui" sesuatu)[5] adalah sebuah perasaan mengingat kembali.[6]

Deja vu

Pendekatan ilmiah menolak penjelasan bahwa déjà vu adalah "prekognisi" atau "ramalan". Pendekatan ilmiah menjelaskan bahwa déjà vu adalah anomali ingatan, yang membuat kesan berbeda bahwa suatu pengalaman "diingat kembali".[7][8] Penjelasan ini didukung oleh fakta bahwa arti dari "mengingat" pada waktu itu sangat kuat dalam banyak kasus, tetapi keadaan pengalaman "sebelumnya" (kapan, di mana, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terjadi) tidak pasti atau diyakini tidak mungkin. Dua jenis déjà vu yang diperkirakan ada adalah jenis patologis dari déjà vu yang biasanya berhubungan dengan epilepsi dan non-patologis yang merupakan sebuah karakteristik dari orang yang sehat dan fenomena psikologis.[9][10][11][12]

Sebuah survei tahun 2004 menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga populasi pernah mengalami déjà vu.[13] Studi lain menguatkan bahwa déjà vu adalah pengalaman yang umum dialami oleh individu-individu yang sehat, dengan antara 31% dan 96% individu melaporkan pernah mengalaminya. Pengalaman déjà vu yang terjadi berkepanjangan atau sering (merupakan hal yang tidak umum), atau berhubungan dengan gejala lain, seperti halusinasi, mungkin menjadi indikator penyakit neurologis atau psikiatris.[14]

Hubungan dengan gangguan

Peneliti-peneliti awal mencoba membangun hubungan antara déjà vu dan gangguan mental, seperti kecemasan, gangguan kepribadian terpecah, dan skizofrenia, tetapi mereka gagal menemukan korelasi penilaian diagnosis.[15] Tidak terlihat hubungan istimewa antara déjà vu dan skizofrenia.[16][17]

Patologis terkuat terkait dengan déjà vu adalah epilepsi lobus temporal.[18][19][20][21][22][23] Korelasi ini menyebabkan para peneliti berspekulasi bahwa pengalaman déjà vu mungkin adalah sebuah anomali neurologik terkait dengan luahan listrik yang tidak wajar dalam otak. Kebanyakan orang mengalami kejadian-kejadian epileptik ringan (non-patologi) secara teratur (e.g. suatu sentakan hipnagogik, sentakan tiba-tiba yang sering, tetapi tidak selalu, terjadi sesaat sebelum tertidur), sehingga diduga kelainan neurologis (ringan) yang serupa terjadi saat mengalami déjà vu, menyebabkan sensasi ingatan yang keliru. Para ilmuwan bahkan telah meneliti genetika saat mempelajari déjà vu. Meskipun saat ini tidak ada gen yang terkait dengan déjà vu, gen LGII pada kromosom 10 sedang diteliti lebih lanjut yang mungkin ada hubungannya. Beberapa bentuk tertentu dari gen berhubungan dengan epilepsi ringan, meskipun tidak pasti, déjà vu terjadi cukup sering selama kejang, sehingga para peneliti memiliki alasan untuk mencurigai adanya keterkaitan.[24]

Sebuah studi tahun 2008 menyatakan bahwa pengalaman déjà vu tidak diyakini sebagai pengalaman disosiatif patologis.[25]

Contoh Kasus

Untuk pertama kalinya sejumlah ilmuwan meyakini adanya kaitan antara perasaan “déjà vu terus-menerus” dengan kegelisahan.

Kasus ini dialami oleh seorang warga negara Inggris berusia 23 tahun. Namun apakah itu déjà vu – dan apakah kita tahu penyebabnya?

Sebagian besar orang mengerti bahwa ini adalah sensasi sekilas bahwa anda pernah melewati suatu tempat atau melakukan sesuatu, padahal anda tidak mungkin pernah disana atau melakukan hal tersebut.

Kata “déjà vu” sendiri berasal dari bahasa Prancis yang artinya “pernah merasa atau melihat”. Contoh paling gamblang akan perasaan ini diangkat dalam film 'Groundhog Day' yang dibintangi Bill Murray.

Menurut riset, sekitar dua pertiga orang pernah mengalami déjà vu setidaknya sekali seumur hidup, namun sedikit sekali yang mengetahui penyebabnya.

Sekelompok peneliti dari Inggris, Perancis dan Kanada yang mempelajari kasus seorang pria dengan “déjà vu kronis” berpikir bahwa kegelisahan mungkin menjadi penyebab fenomena tersebut.

Kondisi pria tersebut sungguh parah sehingga ia menghindar dari menonton televisi, mendengarkan radio dan membaca koran karena ia merasa sudah pernah “mengalami itu semua”.

Dr Chris Moulin, seorang neuropsikolog kognitif dari University of Bourgogne yang melakukan penelitian ini, mengatakan pria itu sangat sehat namun memiliki riwayat depresi dan kecemasan, dan pernah mengkonsumsi LSD selama kuliah.

"Kasus ini menarik perhatian karena pria ini masih muda, sadar diri, namun sangat trauma dengan sensasi konstan yang ada dalam pikirannya," katanya.
Lingkaran waktu yang menakutkan

Selama beberapa menit, atau bahkan lebih lama, pasien ini merasakan bahwa ia mengalami lagi kejadian yang sudah dilaluinya.

Ia mengibaratkan episode "menakutkan" itu seperti berada dalam film thriller Donnie Darko.

"Ada satu peristiwa ketika ia pergi untuk memotong rambut. Saat ia masuk, ia punya perasaan deja vu. Kemudian ia mengalami déjà vu. Ia tidak bisa memikirkan hal lain," kata Dr Moulin.

Selama delapan tahun, pria itu merasa "terperangkap dalam lingkaran waktu". Ia menjadi tertekan dan kondisinya pun makin buruk.

Istilah déjà vu ini diciptakan pada tahun 1876 oleh filsuf Perancis Emile Boirac untuk menggambarkan perasaan kuat bahwa anda telah mengalami sesuatu sebelumnya. Namun ada beberapa fenomena lain yang masih berkaitan, namun belum begitu dikenal.

Berikut tiga jenis deja vu yang sudah diidentifikasi oleh para ahli.

Jamais vu - diartikan sebagai "tidak pernah melihat", untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya akrab dan biasa menjadi aneh dan asing, misalnya sebuah kata yang biasa digunakan namun tiba-tiba terdengar ganjil.

Presque vu - artinya "hampir melihat", adalah suatu perasaan yang sedang berada di tepi sebuah pencerahan, misalnya mencoba mengingat sesuatu.

Déjà entendu - artinya "sudah pernah mendengar", ini adalah keyakinan anda yang telah mendengar sesuatu sebelumnya, seperti sebuah percakapan atau lirik musik.
Comments


EmoticonEmoticon