Undang Undang ITE

UU ITE - Sering posting di media sosial? Atau suka comment pakai kata-kata negatif? Ingat, revisi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) udah berlaku sejak Senin, 28 November 2016. Jadi, ada baiknya kita semakin hati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Tapi enggak cuma di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, atau blog aja. UU ITE juga berlaku untuk penggunaan aplikasi komunikasi seperti SMS, Whatsapp, Line, BBM, dan lainnya.

UU ITE

Ngomongin soal UU ITE, ini beberapa faktanya yang kamu harus tahu:

1. UU ITE melewati proses panjang sejak dirancang hingga direvisi.

UU ITE pertama kali dirancang pada Maret 2003 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika  (Kemenkominfo). Pada 5 September 2005, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menyerahkan draf RUU ITE untuk dibahas di DPR.

Setelah melewati perjalanan panjang, baru pada Maret 2008, DPR menyetujui naskah RUU ITE untuk ditetapkan sebagai undang-undang dan ditandatangani oleh SBY.

Sejak saat itu, UU ITE mulai diberlakukan di Indonesia. Prita Mulyasari, pasien Rumah Sakit Omni Internasional menjadi orang pertama yang dikenai UU ITE dengan tudingan pencemaran nama baik.

Setelah 7 tahun berjalan, pemerintahan Presiden Joko Widodo mengajukan revisi UU ITE, pada 2015. Baru setahun kemudian, tepatnya 27 Oktober 2016, Revisi UU ITE disahkan dalam rapat paripurna DPR RI.  Setelah disahkan, sebulan kemudian revisi UU ITE mulai diberlakukan.

2. Ada alasan kenapa Indonesia harus menerapkan UU ITE.

Guys, something happen for a reason. Begitu juga dengan UU ITE ini. Intinya, sejak 2003 lalu pemerintah udah sadar kalau kemajuan teknologi di Indonesia berkembang pesat.

UU ITE ini hadir untuk menjaga siapapun yang memanfaatkan teknologi informasi, khususnya internet.  Selain untuk tujuan keamanan, ruang gerak di dunia maya juga enggak boleh menyimpang dari nilai-nilai agama dan sosial budaya di negara kita.

Tenang aja, UU ITE ini enggak bermaksud membatasi kita berekspresi di media sosial kok. Tapi untuk menjadi pedoman supaya kita bisa bersikap bijak di dunia maya.

3. Udah banyak yang tersandung UU ITE.

Sejak diberlakukan pada 2008, udah banyak orang yang dijerat dengan UU ITE. Ada beberapa kasus yang berawal dari media sosial kemudian berujung ke ranah hukum. Prita Mulyasari dan Florence Sihombing adalah dua contoh kasus yang pernah tersandung UU ITE.
Aksi penggalangan dana untuk Prita Mulyasari di Facebook. (FACEBOOK)

Kasus Prita Mulyasari berawal dari ketidakpuasannya terhadap pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional. Prita mengirimkan surat elektronik berisi keluhan kepada pihak rumah sakit. Namun kemudian e-mail tersebut tersebar luas secara berantai di internet. Pihak RS lalu menggugat Prita atas pencemaran nama baik.

Kasus Prita Mulyasari berakhir setelah Majelis Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung membebaskannya dari seluruh dakwaan, pada September 2012. Selain perkara pidana, Mahkamah Agung juga menolak gugatan perdata yang dilayangkan RS Omni Internasional, pada September 2010.
Permintaan maaf Florence Sihombing kepada warga Yogyakarta. (PATH)

Agustus 2014, kasus Florence Sihombing sempat ramai. Florence menulis status di Path dengan kata-kata kasar tentang Yogyakarta. Status Florence pun menyebar luas di media sosial.

Meski sempat meminta maaf, banyak komunitas di Yogyakarta yang akhirnya melaporkan Florence melalui jalur hukum. Ujungnya, Florence harus mendekam di penjara selama 2 bulan.

4. Jangan posting ini kalau enggak mau dijerat UU ITE!

Siapa sih yang mau berurusan dengan hukum cuma karena media sosial? Makanya, mulai sekarang kita harus ekstra hati-hati terutama menyangkut konten-konten ini:
-Pornografi atau kesusilaan.
-Perjudian, minum-minuman keras, dan obat-obatan terlarang.
-Memancing isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).
-Menghina, mem-bully, atau melakukan pencemaran nama baik.
-Mengancam atau memeras seseorang.
-Merugikan atau menipu konsumen.

0 komentar

Posting Komentar