Tujuan Kunjungan Menhan AS ke Jepang & Korsel

Tinjauan Tujuan Kunjungan Menhan AS ke Jepang & Korsel - Dalam Tinjauan hari ini, kami akan menyimak penjelasan Ken Jimbo, Profesor Madya Fakultas Manajemen Kebijakan Universitas Keio, mengenai tujuan kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) John Mattis ke Korea Selatan dan Jepang, yang dimulai hari Kamis 2 Februari mendatang.

John Mattis


Menteri Mattis menekankan, termasuk pada sidang dengar pendapat untuk mendapatkan jabatannya di bulan Januari, bahwa landasan kebijakan pertahanan AS adalah hubungannya dengan sekutu-sekutunya. Korea Selatan, salah satu sekutunya, tengah terancam oleh ketidakstabilan atas masalah domestik, akibat isu pemakzulan Presiden Park Geun-hye.

Prof. Jimbo meyakini bahwa Mattis berpikir bahwa kekacauan ini akan mengguncang, tidak hanya hubungan AS dengan Korea Selatan, namun itu dapat membahayakan hubungan keamanan nasional antara Jepang, Korea Selatan dan AS. Itulah mengapa, dirinya berencana mengunjungi Korea Selatan dulu untuk memberitahukan negara tersebut mengenai niat AS guna mempertahankan hubungan bilateral.

Secara khusus, AS telah mendorong rencana untuk mengerahkan sistem pertahanan rudal AS canggih yang disebut Sistem Pertahanan Rudal Mutakhir atau THAAD di Korea Selatan, sebagai tanggapan atas program nuklir Korea Utara. Tetapi Korea Selatan, mungkin mengadakan pemilu untuk memilih presiden baru pada akhir April, serta partai-partai oposisi liberal meraih pengaruh yang semakin besar. Selain dari THAAD, partai-partai oposisi menuntut pengkajian ulang kesepakatan Korea Selatan dengan Jepang, akan isu mereka yang dirujuk sebagai wanita penghibur. Tujuan utama Mattis dalam mengunjungi Korea Selatan adalah untuk menginformasikan Seoul untuk tidak membuat pengerahan THAAD sebagai isu domestik, dengan membuatnya sebagai fokus dalam kampanye pemilu.

Tujuan kunjungan ke Jepang, diyakini Prof. Jimbo adalah untuk memastikan aliansi Jepang-AS terus memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik meskipun di bawah pemerintahan Trump. Pada saat yang sama, jelas bahwa Presiden Trump ingin Jepang menanggung bagian yang pantas atas beban mempertahankan aliansi ini.

Ini termasuk tuntutan bahwa Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang memainkan peran yang lebih besar, termasuk di bidang bela diri kolektif. Kemungkinan lain yang terkait pada anggaran, adalah meminta Jepang meningkatkan pengeluaran pertahanannya dari sekitar 1 persen Produk Domestik Bruto atau untuk menanggung lebih banyak biaya penempatan pasukan AS di Jepang.

Suatu pertemuan antara para pemimpin Jepang dan AS dijadwalkan akan berlangsung di Washington setelah kunjungan Mattis. Kunjungannya juga penting dari sudut pandang menyiapkan situasi bagi pertemuan bilateral itu.

Penjelasan Ken Jimbo, Profesor Madya Fakultas Manajemen Kebijakan Universitas Keio dalam Tinjauan hari ini.

0 komentar

Posting Komentar