Analisis Pakar atas Negosiasi Brexit - HadaCircle

Jumat, Maret 31, 2017

Analisis Pakar atas Negosiasi Brexit

Analisis Pakar atas Negosiasi Brexit - Perdana Menteri Inggris Theresa May secara resmi telah memberitahu Uni Eropa atas niat negaranya untuk meninggalkan blok tersebut. Dalam Tinjauan kali ini, Kepala Ekonom Institut Riset DAI-ICHI Life, Osamu Tanaka, mengulas tentang poin-poin negosiasi Brexit yang patut dicermati.

Brexit

Tanaka mengatakan, dalam negosiasi Brexit yang akan datang diyakini bahwa yang menjadi poin paling bertentangan adalah permintaan Uni Eropa atas kontribusi yang harus dibayar Inggris. Uni Eropa membuat anggaran untuk beberapa tahun fiskal dengan kontribusi dari negara-negara anggotanya. Inggris belum membayar kontribusi dan bagian dari pembayaran pensiun bagi para birokrat Uni Eropa, totalnya mencapai sekitar 60 miliar euro atau sekitar 65 miliar dolar. Uni Eropa menuntut Inggris untuk membayar jumlah total tersebut, tetapi Inggris diperkirakan akan mengklaim bahwa pihaknya tidak perlu membayar dengan alasan meninggalkan blok tersebut. Salah satu alasan utama mengapa orang-orang Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa sebagian besar karena besarnya kontribusi yang harus dibayar. Jadi secara politis akan sulit bagi pemerintah Inggris untuk menerima hal itu dan membayar jumlah total kontribusi tersebut.

Inggris mengharapkan bisa melanjutkan negosiasi pembayaran berjalan secara paralel dengan pembicaraan perdagangan usai keluar dari blok. Inggris berupaya mencari kesamaan dengan membahas masalah-masalah secara menyeluruh. Tetapi pihak Uni Eropa menyatakan tidak memiliki niat untuk membahas kerja sama pasca Brexit kecuali sejumlah masalah telah dituntaskan terlebih dahulu seperti misalnya terkait kontribusi Inggris yang belum dibayar, hak-hak warga Uni Eropa yang tinggal di Inggris serta para pekerja Inggris yang ada di Uni Eropa.

Inggris dan Uni Eropa sekarang memiliki waktu dua tahun guna membahas keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Tapi tahun ini, Prancis menggelar pemilihan presiden dan Jerman akan melaksanakan pemilihan umum. Menurut Tanaka bisa ada perubahan pemerintahan di dua negara utama Uni Eropa tersebut, jadi diyakini bahwa tidak akan ada kemajuan berarti dalam pembahasan Brexit sampai pemilihan di kedua negara tersebut bisa diketahui hasilnya. Akan sulit bagi Inggris dan Uni Eropa untuk merampungkan negosiasi dalam waktu tersisa yang singkat. Skenario terburuknya adalah, Inggris mungkin keluar dari blok sebelum pembicaraan tuntas. Jika demikian kasusnya, maka bea masuk akan diberlakukan bagi barang-barang ekspor dari Inggris ke Uni Eropa, dan hal itu akan memberi dampak ekonomi riil, termasuk bisnis Jepang yang beroperasi di Inggris.

Perhatiannya berpusat pada apakah negosiasi Brexit akan berakhir dengan perpisahan dengan kata-kata yang keras di antara Inggris dan Uni Eropa, atau akan diselesaikan dalam pembicaraan yang mengarah kepada hubungan kerja sama bahkan meski setelah Inggris keluar. Tanaka meyakini hal-hal itu akan menjadi poin penting dalam hubungan masa depan antara Inggris dan Uni Eropa.

Sekian Tinjauan hari ini.
Comments


EmoticonEmoticon