Idealis dan Realis

Idealis dan Realis - Idealis adalah orang bertipe atau berkeyakinan dan berpandangan hidup, cara hidup yang ia sadari atau tidak menjalankan Idealisme, yaitu cara hidup mempertahankan ide atau keyakinan yang dianggap benar, sekuat tenaga dan teguh.

Realis adalah orang dengan cara hidup realisme, yaitu selalu Realistis, mampu menganalisa dan memahami keadaan, menentukan pilihan, membuat jutaan kemungkinan dan memilih pilihan terbaik dengan pertimbangan matang dan pilihan yang jauh lebih banyak dari pada orang Idealis.

Idealis Realis

Perbedaan

Orang Idealis akan mengemukakan semua pikiran yang terbersit, yang ia pikirkan tanpa terlalu mempertimbangkan keadaan dan konteks disekililingnya. Kecenderungannya ini sering mengantarkannya pada kehancuran. Idealis akan berjaya jika ia punya sumber daya yang cukup untuk menyokong keidealisannya.

Contoh:

Orang idealis selalu punya pikiran untuk memperjuangkan suatu hak bahkan jika usaha yang dilakukannya justru akan berpotensi semakin memperburuk keadaan, karena salah satunya ia tidak mempunyai sumber daya yang cukup.

Seperti

Dalam suatu perkuliahan terdapat masalah sederhana dimana seorang dosen hampir tidak pernah mengajar dan hal itu dirasa oleh sebagian mahasiswa akan mempengaruhi nilai ujian dan nilai akhir nanti. Pada tahap ini orang idealis masih belum berbicara, orang realis pada tahap ini akan memikirkan solusi untuk mencegah hal yang ditakutkan, namun jika lebih banyak idealis di lingkungan tersebut, seorang realis akan memilih diam karena realis adalah pemikir yang cerdas dimana ia tidak akan melakukan hal yang akan dianggap sia-sia.

Seorang realis dilingkungan diatas lebih memilih untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar lulus dengan baik pada mata kuliah tersebut meski dengan minimnya bimbingan dosen bersangkutan dan mungkin juga menyampaikan pikirannya pada beberapa orang yang menurutnya sejalan. Bukan untuk mendominasi tapi karena ia sadar bahwa akan percuma jika menyampaikan pikirannya kepada seluruh isi kelas tersebut.

Saat penilaian akhir tiba dan dosen mengeluarkan nilai dengan hanya penilaian UAS dan 1 pertemuan perkuliahan, menghasilkan nilai yang sudah ditebak. Realis menjadi pemenang dengan minimal nilai B+ dan idealis dengan nilai dibawah B.

Apa yang dilakukan oleh seorang idealis?

Ia langsung mengungkapkan pikirannya, mengajak mendemo dosen, protes bernada ajakan yang bernada tinggi, menggalang dukungan teman sekelas, dan mengancam akan tidak membantu kesusahan dikemudian bagi yang tidak sejalan. Semua ini terbukti sia-sia karena seorang idealis yang tidak memiliki kemampuan atau sumber daya (materi, kecerdasan, wibawa, dll) akan berakhir hanya sebatas seruan ide atau pemikiran, pada saat hari H, apa yang terjadi? Semua yang mereka tuntut dipatahkan hanya dengan sepatah-dua patah kata dari dosen bersangkutan.

Seorang realis yang paham dirinya dan kekuatan atau sumber daya yang ia miliki tidak ikut dalam aksi tersebut bukan karena tidak punya solidaritas namun karena tau itu akan percuma.

Baiknya?

Idealis itu baik, selama ia seorang yang punya kekuatan, punya integritas, minimal punya kepiawaian komunikasi, lobi, negosiasi, persuasi, moderasi, dsb.

Salam,
Saya Humaedi Suhada, seorang berpaham Realis.
Saya bertindak atas pertimbangan cermat, cepat, sesuai konteks dan sesuai sumber daya yang saya miliki.

Terakhir,


Suatu saat, uji sederhana Realis vs Idealis
saya membawa dua buah brosur motor keren yang hargnya fantastis untuk saya berikan ke dua orang teman, pastinya satu orang tersebut realis dan lainnya idealis menurut pengalaman dan pengamatan saya sebelumnya, seorang idealis akan melihat-lihat padahal belum tentu punya uang, seorang realis yang sudah sadar bahwa sumber dayanya sampai mana, tidak akan memperdulikan brosur tersebut.

Dll. Banyak contoh sederhana yang bisa kita amati.

0 komentar

Posting Komentar