Media Sosial, Diary Tanpa Gembok - HadaCircle

Kamis, Maret 30, 2017

Media Sosial, Diary Tanpa Gembok

Media Sosial, Diary Tanpa Gembok - “Saya udah ga butuh cowok seperti Anda. Saya lebih baik sendiri. Emang dikira saya ga bisa hidup tanpa Anda? Sorry ya Anda salah besar. Justru saya bersyukur karena Allah sudah menunjukan jalan terbaik.”

Diary

Bagi Anda yang menebak kalimat di atas adalah kutipan sinetron Anak Jalanan. Anda salah besar. Terlalu elok susunan kata-kata tersebut bagi drama Indonesia. Perkataan di atas saya ambil dari salah satu status pribadi teman saya. Sebut saja Lita (PS. nama samaran)

Sebagai seorang pengamat tingkah laku netizen, tentu Lita tak luput dari radar saya. Menurut teori Hipocrates-Galenus, Lita adalah seorang melankholis. Terbukti dari status-statusnya yang terpajang pada akun medsosnya.

Luapan kemurkaan dan kegundahan dalam hatinya selalu ia pertontonkan pada medsosnya. Kurang afdol rasanya jika pemasalahan mengenai asmara, hasrat, dan hal-hal yang berbau “kasih sayang” tidak dibagikan kepada teman-teman di dunia maya. Maklum, Lita adalah pujangga cinta yang selalu memberikan 110% untuk urusan asmara. Tidak mengapa menjadi budak cinta yang peting tak pakai narkoba. Hobinya tersebut tak luput dari faktor generasi milenial yang haus akan eksistensi.

Hal yang paling sering masuk list curhat generasi digital tentu urusan cinta. Si Cinta tidak membalas chat Anda? Deskripsikan di timeline! Si Cinta lebih mementingkan sahabat-sahabatnya dari pada Anda? Ceritakan di timeline! Si Cinta punya gelagat berselingkuh? Ekspos di timeline! Kalo yang tak punya pasangan, gimana? Curhatlah di medsos. Tapi percayalah, curhat di medsos perihal tak memiliki “sandaran hidup” akan merendahkan dirimu.

Tidak melulu mengenai Si Cinta. Banyak hal yang membuat gatel jari-jari unyu anak kekinian untuk melukiskan objek pada dinding rimba maya. Misal,saat makan di restoran yang harga secangkir kopi setara 7 bungkus nasi uduk di pasar tradisional atau ketika masuk rumah sakit karena terindikasi positif terkena stomatitis aftosa (read: Sariawan).

Demi rumput yang bergoyang, dua puluh dua tahun saya hidup, tak pernah sekalipun saya ceritakan pada jagat maya saat tubuh saya dalam kondisi tidak sehat. Apakah dengan semakin banyaknya jumlah like dan komentar berpengaruh nyata terhadap virus dan bakteri pada tubuhmu? Tak mengerti saya apa faedahnya melapor kondisi tubuh pada sosial media. Kalo situasinya seperti ini, tampaknya di masa depan sarjana kedokteran sudah tidak dibutuhkan lagi.

Belum lagi ketika Instagram mengeluarkan fitur terbarunya Instagram Stories. Darah muda semakin aktif mempromosikan daily activity-nya kepada dunia. Mulai dari pergi ke mal, dengerin lagu EDM, sampai saat makan burger dan kentang goreng. Yang menjadi pertanyaan saya, kalo pergi ke warteg sambil dengerin lagu dangdut koplo yang disetel mamang warteg trus makanya sama nasi, tempe oreg, sayur toge, sate usus, plus sambal terasi kira-kira dibikin live report-nya gak ya?

Dulu saat masih menempuh pendidikan Sekolah Dasar, buku diary ibarat Instagram Stories versi lawas. Buku diary itu berisi kekesalan kita pada guru, kesukaan kita pada pelajaran tertentu, hingga cita-cita masa kecil yang 80% dari kalian semua yang membaca ini setidaknya pernah terbesit cita-cita menjadi dokter dan pilot.

Asal kalian tahu, dahulu ada pula buku diary yang bergembok. Sehingga tak sembarang orang mampu melihat sisi dalam dari kehidupan Si Penulis. Anak SD saja sudah paham, gembok itu berarti hanya orang-orang yang diberi izin si penulis saja yang boleh mengetahui hal-hal yang bersifat personal. Saya yakin, tentu khalayak para pembaca tulisan ini mempunyai tingkat kecerdasan IQ melampaui anak SD.

Apa jadinya jika Anne Frank bocah 13 tahun yang menjadi korban holocaust mengetahui bahwa buku diary-nya yang konon menjadi dokumentasi paling krusial abad 20 telah dibaca oleh orang-orang di seluruh dunia. Tentu kejadian itu membuat arwahnya menjadi gelisah di alam baka sana.

Anak muda, curhat, dan media sosial. Tiga elemen yang tak dapat terpisahkan. Rasa seperti akhir bulan tanpa Indomie goreng. Mustahil terpisahkan. Alasan utama masyarakat bermedia sosial tentu untuk memperoleh informasi-informasi penting untuk menambah ilmu dan wawasan. Jadi jika Anda mengunggah video di Youtube curhat sembari mewek-mewekan karena habis diputusin pacar yang umurnya dua tahun di bawah Anda trus yang liat video sampean dapet apanya? Faedah? Gitu aja kok nangis. Belum pernah ngerasain masak nasi pakai rice cooker tapi gak mateng-mateng, gak taunya masih mode warm?

Jadi bagi para curhaters dan netizen yang risih (PS. selanjutnya saya akan sebut dengan Netijen) .Sebaiknya kalian mencontoh persahabatan simbiosis mutualisme antara burung jalak dan kerbau. Bagi para netijen, ingat lah salah satu lagu Sheila on 7. Lapang dada. Kalian harus mengerti bagaimana retaknya perasaan kawan anda. Asumsinya seperti ini, Jika seseorang sampai meluapkan curahan hatinya pada media sosial berarti tidak ada yang mengerti perasaannya di dunia nyata sehingga dia membutuh solusi pada jagat maya (padahal ada Sang Pencipta loh). Kalo sudah tahap seperti ini, jangan dibercandain.

Marahnya orang yang lagi galau melebihi murkanya Franklin Delano Roosevelt saat ratusan pesawat tempur Jepang sukses membombardir Pearl Harbour. Lebih baik kita kasih solusi dengan personal message. Atau jika tak mengerti masalahnya lebih baik diam. Kalo dalam Bahasa Sundanya itu if you don’t know anything, better don’t say anything.

Nah bagi para curhaters, sebaiknya apa yang kalian tumpahkan di timeline medsos sampean lebih baik difilter terlebih dahulu. Jangan pikir dua atau tiga kali, tapi pikir sepuluh kali terlebih dahulu apakah status yang anda tulis menyinggung seseorang, kelompok, atau lembaga tertentu. Apakah dengan menulis permasalahan hidup mu di medsos, semua akan teratasi? Dan apakah pantas hal-hal yang bersifat privasi kalian tampilkan pada Instagram Stories?

Saran dari saya, sebaiknya semua problema hidup kita ceritakan dalam sujud panjangmu pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Karena Allah adalah tempat paling aman untuk kita berkeluh kesah. Contohlah BJ Habibie muda yang konsisten menuturkan segala curahan hatinya kepada Allah SWT perkara masalah akademik, ekonomi, serta cinta pertamanya Illona Ianovska meskipun semua itu ia lakukan di gereja.

Sudah tahukan inti tulisan ini. Media sosialmu bukanlah buku diary-mu. So jangan sembarang curhat yang aneh-aneh atau live report absurd di Instagram Live yang sampe lebaran kuda pun saya tidak akan mengerti fungsinya. Tapi setidaknya saya bersyukur, berkat netizen, saya jadi tahu saat menggunakan video Instagram Live tidak harus dimulai dengan kata “hai guys…”.

NB: artikel ini mengandung banyak unsur jenaka. So, yang mudah tersinggung sebaiknya tidak membaca tulisan saya. Tapi udah terlanjur ya? gapapa deh, semoga 5 menitmu untuk membaca esai ini insyaAllah barokah HAHA.
Comments


EmoticonEmoticon