Asbab Annuzul (1) - HadaCircle

Rabu, April 26, 2017

Asbab Annuzul (1)

Asbab Annuzul (1)

Al-Qur'an

Bagian 1

Asbab Annuzul ( Bagian 1 )

Al-Qur’an adalah kitab yang terdiri atas ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang timbul. Proses turunnya al-Qur’an secara bertahap juga sangat membantu manusia dalam memahami dan mengikuti kandungan petunjuk kitab suci tersebut.

Beradasarkan realitas sejarah, ayat-ayat al-Qur’an ada yang turun dengan didahului oleh sebab tertentu yang melatarbelakanginya, dan ada pula yang turun tanpa didahului oleh sebab tertentu. Dan diantara ayat-ayat yang turun dengan didahului oleh sebab tertentu, ada yang sebabnya tergambar secara tegas dan gamblang dalam teks ayat itu, dan ada pula yang tidak dinyatakan secara jelas dalam ayat yang bersangkutan. Ayat al-Qur’an yang secara tegas menyatakan sebab turunnya, antara lain tampak dalam ayat yang memuat kata-kata “يسئلونك” (mereka bertanya kepadamu) atau “يستفتونك” (mereka meminta fatwa kepadamu). Sedangkan ayat yang tidak memuat secara tegas sebab turunnya dapat dilacak dan dipelajari melalui hadits-hadits Nabi Saw.

Oleh karena itu, salah satu hal penting dalam upaya memahami kandungan pesan al-Qur’an secara utuh adalah mempelajari dan mengetahui konteks latar belakang yang menjadi sebab turunnya al-Qur’an tersebut.

1. Pengertian Asbab al–Nuzul

Sebelum dikemukakan pengertian “Asbab al-Nuzûl” secara utuh dalam pandangan ulama ‘Ulum al-Qur’an, maka perlu dikemukakan pengertian dari kedua kata yang merangkainya secara kebahasaan. Kata “Asbab” merupakan bentuk plural dari kata tunggal “sebab”, yang secara kebahasaan bermakna: “segala sesuatu yang dijadikan jalan yang dapat menghubungkan atau menyampaikan kepada sesuatu lainnya”. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah [2] ayat 166:

Artinya: “(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 166)

Sedangkan kata “nuzul”, menurut bahasa setidaknya memilik dua pengertian, yaitu: (1) “Gerakan menurun dari suatu tempat yang tinggi ke tempat yang rendah” (al-inhidar aw al-inhithath min ‘uluwwin ila safalin), seperti ungkapan “نزل فلان من الجبل”, Si A turun dari atas gunung; dan (2) “Mendiami, menempati, atau mampir pada suatu tempat” (al-hulul), sebagaimana dalam ungkapan “نزل فلان في المدينة”, Si A tinggal di kota.

Dan sebelum diuraikan tentang pengertian “asbab al–Nuzul” lebih lanjut, maka perlu untuk diperhatikan bahwa istilah “sebab” di sini, tidak sama dengan istilah “sebab” yang dikenal dalam hukum sebab-akibat. Istilah “sebab” dalam hukum sebab-akibat mengandung pengertian keharusan adanya “sebab” untuk menimbulkan adanya “akibat”; dan suatu “akibat” tidak akan pernah terjadi tanpa ada “sebab” yang mendahului.

Dan bagi al-Qur’an, meski diantara ayatnya yang turun didahului oleh sebab tertentu, namun keberadaan sebab itu tidak mutlak adanya walaupun secara realita telah terjadi peristiwanya. Adanya sebab bagi turunnya al-Qur’an tak lain merupakan bentuk wujud nyata kebijaksanaan Allah SWT dalam memberikan petunjuk kepada hamba-Nya. Dengan adanya sebab yang mendahului, maka akan lebih tampak dan terasa kebenaran al-Qur’an selaku petunjuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia.

Menurut Imam al-Zarkasyi sebab turunnya ayat al-Qur’an ada dua kemungkinan, yaitu: (a) adanya pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi Saw; dan (b) adanya peristiwa tertentu yang bukan dalam bentuk pertanyaan.

Sedangkan dalam istilah ‘ulum al-Qur’an, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama untuk memberikan batasan makna “Asbab al-Nuzul”. Diantaranya adalah:

(a)    Menurut ‘Abd al-‘Azim al-Zarqani:

هو ما نزلت الآية أو الآيات متحدثة عنه أو مبينة لحكمه أيام وقوعه

“Asbab al-Nuzul adalah sesuatu, yang satu ayat atau beberapa ayat turun dalam rangka berbicara tentangnya atau menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut”.

(b)   Menurut Dr. Subhi al-Shaleh:

ما نزلت الأية أو الآيات بسببه متضمنة له أو مجيبة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه

“Asbab al-Nuzul ialah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang memang mengandung peristiwa itu atau sebagai jawaban pertanyaan darinya atau sebagai penjelasan terhadap hokum-hukum yang terjadi pada saat terjadinya peristiwa tersebut”.

(c)    Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan:

ما نزل قرآن بشأنه وقت وقوعه كحادثة أو سؤال

“Asbab al-Nuzul adalah sesuatu yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengannya pada waktu terjadinya, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Saw”.

(d)   Adapun M. Quraish Shihab memperjelas pengertian “asbab nuzul al-Qur’an” dengan cara memilah peristiwanya. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “asbab nuzul al-Qur’an” adalah: (1) Peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat, di mana ayat tersebut menjelaskan pandangan al-Qur’an tentang peristiwa tadi atau mengomentarinya; (2) peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah turunnya suatu ayat, di mana peristiwa tersebut dicakup pengertiannya atau dijelaskan hukumnya oleh ayat tadi.

Meskipun berbagai definisi “asbab al-Nuzul” yang dikemukakan di atas tampak agak sedikit berbeda, namun secara substansial semuanya sepakat untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “asbab al-Nuzul” adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat. Dan ayat itu sendiri merupakan jawaban, penjelasan, dan penyelesaian dari pada permasalahan yang timbul dalam kejadian atau peristiwa tersebut.

“Asbab al-Nuzul” merupakan bahan-bahan sejarah yang mencakup peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya al-Qur’an (‘ashr al-Tanzil) yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-keterangan terhadap maksud dan pemahaman suatu ayat yang dilatarbelakanginya.

Bentuk-bentuk peristiwa yang melatarbelakangi turunnya al-Qur’an itu sangat beragam, diantaranya berupa: (a) konflik sosial, seperti ketegangan yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj; (b) adanya suatu kesalahan fatal atau kesalahan pandangan yang membutuhkan arahan dan teguran, seperti kasus salah seorang sahabat yang mengimami sholat dalam keadaan mabuk; (c) adanya kasus pencemaran nama baik, seperti yang dituduhkan kepada salah seorang Umm al-Mukminin Siti ‘Aisyah ra; (d) adanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad Saw, baik yang berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat, sedang, atau yang akan terjadi.

2. Pandangan Ulama Tentang Asbab al–Nuzul

Salah satu persoalan yang diperdebatkan dikalangan para ulama adalah apakah seluruh ayat al-Qur’an itu memiliki sebab yang melatarbelakangi turunnya atau tidak? Dalam menyikapi hal ini ada dua pandangan para ulama, yaitu:

Pertama, mayoritas ulama menilai bahwa tidak semua ayat al-Qur’an itu memiliki “asbab al-Nuzul”, sehingga ada ayat-ayat yang diturunkan dengan dilatarbelakangi oleh suatu sebab (ghair ibtida’), dan ada ayat-ayat yang diturunkan tanpa dilatarbelakangi oleh suatu sebab (ibtida’).

Kedua, sebagian mereka memandang bahwa seluruh ayat al-Qur’an itu pasti memiliki “asbab al–Nuzul” yang melatarbelakanginya, baik dalam skala mikro maupun makro. Riwayat-riwayat yang mengemukakan tentang “asbab al–Nuzul” suatu ayat merupakan sebab-sebab yang bersifat mikro; sementara kesejarahan bangsa Arab pra-Qur’an pada masa turunnya al-Qur’an merupakan latar belakang yang bersifat makro.

Disamping perbedaan dalam penetapan apakah seluruh ayat memiliki “asbab al–Nuzul” atau sebagian ayat saja, para ulama juga berbeda pandangan dalam menetapkan jarak waktu antara suatu peristiwa yang mendahului ayat yang turun. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa antara peristiwa dengan ayat yang turun, dapat berjarak dengan interval waktu yang relatif lama. Pendapat ini antara lain dianut oleh al-Wahidi dengan mengemukakan contoh surat al-Fil. Menurut al-Wahidi, surat ini turun karena peristiwa terjadinya penyerangan Ka‘bah oleh pasukan bergajah di bawah pimpinan Gubernur Abrahah. Berdasarkan realitas sejarah, penyerangan itu terjadi pada tahun Nabi Saw dilahirkan. Itu berarti, jarak waktu antara peristiwa yang terjadi dengan turunnya ayat sekitar 40 tahun. Sebagian ulama menyatakan bahwa jarak waktu antara peristiwa dengan ayat yang turun tidak boleh terlalu lama. Kelompok ini mengkritik pandangan sebelumnya dan membantah pernyataan al-Wahidi dengan menegaskan bahwa kedudukan peristiwa penyerangan Ka‘bah oleh tentara bergajah itu sama dengan kisah-kisah umat terdahulu, pembangunan Ka‘bah, dan kisah-kisah lainnya, yang bukan merupakan sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat, karena jarak waktunya dengan ayat yang turun lama sekali.

Para ulama juga berbeda pendapat dalam memandang suatu peristiwa selaku “sebab”, apakah peristiwa itu terbatas pada peristiwa yang mendahului turunnya ayat atau juga peristiwa yang menyusul turunnya ayat? Artinya apakah pernyataan “sebab” itu disematkan pada peristiwa yang mendahului turunnya ayat saja, ataukah juga pada peristiwa yang terjadi tidak lama setelah turunnya ayat? Pada umumnya, para ulama mengakui adanya ayat yang turun lebih dahulu dari suatu peristiwa yang tetap dipandang sebagai “asbab al–Nuzul” bagi ayat tersebut. Diantara contohnya adalah surat al-Balad yang merupakan kelompok surat makkiyah. Sementara kalimat “Wa anta hillun bi haza al-Balad” (وأنت حل بهذا البلد) dalam salah satu ayat dari surat tersebut menunjukkan kepada tinggalnya Nabi Saw beberapa saat di Makkah yang terjadi pada saat terjadi penaklukan kota Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-8 H. Ketika itu Nabi Saw menyatakan: “أحلت لي ساعة من النهار ” (Saya telah diberi kesempatan tinggal di Makkah suatu saat di siang hari). Jarak waktu antara ayat dengan peristiwa tersebut cukup lama. Tetapi karena terjadiannya masih pada zaman Nabi Saw, maka tetap dapat dinyatakan sebagai “asbab al–Nuzul”; meskipun di sisi lain, tampaknya dapat dinyatakan bahwa ayat tersebut merupakan ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi yang dikemukakan oleh Rasulullah Saw sesuai petunjuk Allah SWT.

3. Urgensi Mengetahui Asbab al–Nuzul

Dalam menilai urgensi dan kegunaan mengetahui “asbab al–Nuzul”, terjadi perbedaan sikap dan pandangan diantara para ulama, yaitu:

a). Diantara mereka ada yang memandang bahwa mengetahui “asbab al–Nuzul” merupakan hal yang tidak penting dalam memahami al-Qur’an. Hal itu dikarenakan “asbab al–Nuzul” hanyalah bentuk sejarah penafsiran awal yang hanya berlaku pada saat turunnya al-Qur’an, dan tidak berlaku untuk saat-saat seterusnya. Pandangan ini tidak melihat “asbab al–Nuzul” sebagai salah satu instrumen penting dalam membantu upaya menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami al-Qur’an dengan meletakkan ke dalam bingkai konteks sejarah (historis) saat al-Qur’an diturunkan, berarti sama saja dengan membatasi pesan-pesan al-Qur’an itu sendiri dalam ruang dan waktu tertentu yang sangat terbatas dan sudah selesai. Hal itu dapat berdampak pada penyempitan makna pesan dan maksud kandungan ayat yang begitu luas dan kompleks, dan dapat mencabut keuniversalitasannya. Kelompok ini meyakini bahwa memahami al-Qur’an tidak perlu, bahkan tidak boleh dengan melihat konteks kesejarahan tertentu, termasuk konteks kesejarahan yang melingkupi saat-saat turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Pemahaman yang baik adalah yang bersifat dinamis dengan melepaskan ayat-ayat al-Qur’an dari ikatan-ikatan sejarah tertentu dan disesuaikan dengan konteks perkembangan zaman.

Diantara ulama yang ditengarai menganggap tidak terlalu penting pengetahuan tentang “asbab al–Nuzul” dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad ‘Abduh. Penilaian ini didasarkan atas pandangan Muhammad ‘Abduh yang tidak menyinggung keberadaan “asbab al–Nuzul” dalam prinsip-prinsip pokok penafsirannya. Dalam membangun konstruksi penafsirannya, Muhammad ‘Abduh berpegang kepada sembilan dasar, yakni: (1) Universalitas dan komprehensifitas al-Qur’an; (2) kesatuan tema dalam surat dan koherensi antar ayat-ayat al-Qur’an; (3) Memposisikan al-Qur’an sebagai sumber utama dalam syariat dan mengedepankannya atas pandangan para Fuqaha’ dan mazhabnya; (4) Anti terhadap sikap taklid (membeo) dan stagnan; (5) Mengerahkan segenap pandangan dan pikiran  serta menggunakan metode ilmiah dalam pembahasan dan pengistinbatan; (6) Mengedepankan otoritas rasio; (7) Tidak memaksakan diri untuk terlalu jauh dalam menentukan hal-hal yang bersifat umum (mubham) dalam al-Qur’an; (8) Menghindari Israiliyyat; dan (9) Membangun tatanan kehidupan sosial berdasarkan petunjuk al-Qur’an. Dari kesembilan dasar konstruksi penafsiraannya, tampak tidak sedikitpun Muhammad ‘Abduh menyinggung urgensitas kegunaan “asbab al–Nuzul” didalamnya.

Diantara tokoh yang dinilai tegas dalam memandang tidak pentingnya pengetahuan tentang “asbab al–Nuzul” dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad Husein al-Thabathaba’i. Dalam kitab “al-Qur’an fi al-Islam”, al-Thabathaba’i mengajukan tiga alasan untuk menunjukkan bukti kuat atas penilaiaannya ini, yaitu:

Pertama, Hadits-hadits yang berkaitan dengan “asbab al–Nuzul” tidak shahih, karena tidak ada yang mempunyai sanad;

Kedua, Periwayatan hadits-hadits tersebut tidak dilakukan secara berhadapan muka antara pemberi dan penerima riwayat, dan tidak juga dengan cara tahamul dan hapalan. Para perawi hanya mengaitkan suatu ayat dengan kisah-kisah tertentu. Jadi, pada hakikatnya “asbab al–Nuzul” hanyalah sebuah hasil ijtihad semata. Karenanya, banyak riwayat yang saling bertentangan; dan

Ketiga, Sampai akhir abad I Hijriyah, penulisan hadits masih tetap dilarang oleh Nabi Saw. Ketika itu orang-orang yang mengemukakan catatan hadits, segera dibakar catatannya. Akhirnya, periwayatan hadits tentang “asbab al–Nuzul” termasuk hanya dalam bentuk makna saja. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya perubahan kandungan hadits itu sendiri.

Dan diantara tokoh yang akhir-akhir ini memandang pengetahuan tentang “asbab al–Nuzul” tidak ada urgensitasnya dalam memahami al-Qur’an adalah Muhammad Syahrur. Dalam buku “Nahwa Ushul Jadidah”, Syahrur dengan gamblang menyatakan bahwa penafsiran saat ini tidak memerlukan asbâb al-Nuzûl. Sebab menurutnya, hal itu hanyalah bentuk sejarah penafsiran awal yang hanya berlaku pada saat turunnya al-Qur’an (abad ke-VII M), dan tidak berlaku untuk waktu dimana kita berada saat ini (abad ke-XXI).

b). Mayoritas ulama memandang bahwa pengetahuan tentang konteks kesejarahan yang melingkupi al-Qur’an pada masa-masa turunnya yang terkumpul dalam riwayat-riwayat “asbab al–Nuzul” merupakan salah satu hal yang signifikan dalam membantu upaya memahami maksud dan kandungan pesan-pesan al-Qur’an. Pandangan ini didukung oleh umumnya ulama-ulama klasik dan diikuti oleh kebanyakan ulama-ulama muta’akhkhirin sampai kontemporer.

Al-Wahidi misalnya, dengan tegas menyatakan ketidakmungkinan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tanpa mempertimbangkan aspek pengetahuan tentang kisah dan “asbab al–Nuzul” dari pada ayat-ayat tersebut (لا يمكن معرفة تفسير الآية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولـها).

Ibnu Taymiyah juga melihat kemestian untuk mempertimbangkan aspek “asbab al–Nuzul” dalam membantu pemahaman terhadap ayat. Karena pengetahuan tentang “sebab” pasti mengarah kepada pemahaman tentang “musabbab”nya (معرفة سبب النزول تعين على فهم الآية؛ فإن العلم بالسبب يورث العلم بالمسبب).

Pernyataan ini juga dikemukakakan oleh Ibnu Daqiq al-‘Id yang mengukuhkan bahwa penjelasan tentang “asbab al–Nuzul” merupakan jalan yang valid dalam memahami makna-makna al-Qur’an (بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني الكتاب العزيز). Demikian juga dengan Imam al-Sayuthi yang mengidentifikasi bahwa mengabaikan aspek “asbab al–Nuzul” dapat mengarah kepada kesulitan dalam memahami maksud ayat-ayat al-Qur’an seperti kasus yang dialami oleh Marwah bin al-Hakam ketika mencoba memahami maksud firman Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 188 yang berbunyi:

Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 188)

Kesulitan yang dihadapi oleh Marwan adalah pengertian dari pernyataan dalam ayat tersebut yang mengemukakan bahwa orang yang merasa gembira dengan apa yang telah diperbuatnya dan merasa senang dengan pujian atas perbuatannya tersebut akan berujung kepada siksaan Allah SWT yang amat pedih. Marwan mencoba memikirkan hubungan hal tersebut, namun dia tetap tak habis pikir bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Akhirnya Marwan menanyakan hal itu kepada Ibnu ‘Abbas ra. Ibnu ‘Abbas ra menjelaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan kasus orang-orang Yahudi yang ditanya oleh Rasulullah Saw, dan mengabaikan pertanyaan Rasulullah saw, bahkan menceritakan sesuatu yang tidak ditanyakan oleh Rasulullah Saw. Dengan sikap dan perbuatan yang demikian itu, mereka mengira akan menimbulkan respek Rasulullah Saw terhadap mereka. Dan mereka merasa gembira dengan hal tersebut. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Abbas ra yang mengemukakan “asbab al–Nuzul” dari ayat tersebut, maka Marwan al-Hakam dapat memahami maksud dari ayat yang tadinya terasa sulit untuk dipahami.

Pandangan ulama-ulama klasik ini juga didukung oleh ilmuwan dan pemikir kontemporer yang  mengkaji secara intensif tentang diskursus-diskursus ke-Qur’an-an, seperti Muhammad ‘Abdullah Diraz, Fazlurrahman dan Nashr Hamid Abu Zaid. ‘Abdullah Diraz menyatakan dalam buku “Hashshad Qalam” bahwa tidak mungkin bagi siapapun untuk membatasi maksud ucapan seorang pembicara atau mengarahkannya kepada satu bentuk makna tertentu, tanpa melihat kepada tanda-tanda dan indikator-indikator yang menunjukkan kepada maksud dan makna tersebut. Dan diantara tanda-tanda dan indikator itu, ada yang bersifat tekstual (maqali), ada yang bersifat situasional dan kondisional (hali), ada yang melekat dengan ungkapannya (internal), dan ada yang terpisah di luar ungkapan tersebut (eksternal). Dan pengetahuan tentang “asbab al–Nuzul” dari suatu ayat mencakup pemahaman tentang tanda-tanda dan indikator yang tidak terdapat dalam teks tersebut secara verbal. Mengabaikan aspek pengetahuan tentang tanda-tanda dan indikator ini dapat menghalangi seseorang dalam memahami al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena pemahaman tentang tanda-tanda dan indikator dapat memberikan rincian dari penjelasan yang bersifat global sekaligus menghilangkan kepelikan yang melingkupi teks itu sendiri sebagaimana tampak dalam kasus ayat-ayat yang dinilai kontras, ambigu, dan musykil.

Adapun Fazlurrahman menggambarkan al-Qur’an sebagai puncak dari sebuah gunung es; dimana sembilan persepuluh bagiannya terendam di bawah perairan sejarah, dan hanya sepersepuluh yang tampak terlihat. Rahman menegaskan bahwa sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi sejarah tertentu, yang mendapat solusi, komentar, dan atau tanggapan dari al-Qur’an. Dalam buku “Islam and Modernity”, Rahman kembali menegaskan bahwa “asbâb al-Nuzûl”; baik dalam skala mikro maupun makro tetap dipandang sebagai informasi historis yang harus diketahui dan dijadikan pertimbangan dalam penafsiran. Penegasan Rahman ini juga dikemukakan oleh Nashr Hamid Abu Zaid. Dalam kitab “Mafhum al-Nash”, Abu Zaid menegaskan bahwa “asbab al–Nuzul” disamping dipandang selaku informasi historis atau data-data sejarah, juga harus tetap dijadikan sebagai suatu pertimbangan dalam penafsiran al-Qur’ân.

Kelompok yang memandang sangat pentingnya pengetahuan tentang “asbab al–Nuzul” dalam memahami al-Qur’an mengemukakan beberapa bentuk kegunaannya, diantaranya yaitu:

(1) Membantu dalam memahami pesan ayat-ayat al-Qur’an sekaligus cara efektif dalam mengatasi kesulitan untuk menangkap maksudnya (thariq daf‘i isykal al-Qur’an), sehingga terhindar dari kesalahan fatal dalam menafsirkannya; sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad ra dan al-Nasa’i tentang kasus yang dialami oleh Qudamah bin Mazh‘un yang salah dalam memahami maksud firman Allah SWT dalam ayat 93 surat al-Maidah [5]. Ketika Sayyidin ‘Umar ra menugaskan Qudamah bin Mazh‘un di Bahrain, maka menghadaplah kepada Khalifah ‘Umar ra seorang yang bernama Jarud yang melaporkan kebiasaan Qudamah bin Mazh‘un yang masih suka minum khamar sampai mabuk-mabukan. ‘Umar berkata: “Apakah kamu mempunyai saksi yang menguatkan laporanmu?”, Jarud menjawab: “Ada saksi laporanku, yaitu Abu Hurairah”. ‘Umar lalu mengatakan kepada Qudamah bin Mazh‘un: “Jika begitu aku harus mencambukmu wahai Qudamah”. Qudamah bin Mazh‘un membela diri dengan mengatakan: “kenapa engkau mau mencambukku? Padahal ada ayat al-Qur’an yang menjadi peganganku”. Umar bertanya: “ayat manakah dalam al-Qur’an yang membelamu sehingga aku tidak perlu mencambukmu?”. Qudamah menjawab: “Bukankah Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh dikarenakan memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. al-Maidah [5]: 93); dan bukankah aku juga termasuk orang yang beriman yang dimaksudkan dalam ayat tersebut? Bukankan aku juga orang yang tetap bertakwa dan berbuat kebaikan dengan ikut bersama Rasulullah Saw dalam peperangan Badar, Uhud, Khandaq, dan peperangan-peperangan lainnya?”. ‘Umar ra berkata kepada para hadirin: “Apakah diantara kalian tidak ada yang mau membantah ucapan Qudamah?”. Ibnu ‘Abbas ra berkata: “ayat tersebut dan rentetannya diturunkan sebagai bentuk penegasan pemberian maaf bagi orang-orang mukmin yang suka meminum khamar dan menkonsumsi makanan yang saat itu belum diharamkan, sekaligus sebagai dalil kuat (terhadap kejahatan) orang-orang yang tetap mengkonsumsinya setelah hal tersebut dilarang sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. al-Maidah [5]: 90). Kemudian Ibnu ‘Abbas ra membacakan ayat lain yang tegas mengemukakan pengharaman khamar, dan mengatakan: “siapapun yang merasa sebagai orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh serta betakwa, beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan; maka ketahuilah bahwa Allah SWT telah melarang mereka untuk mengkonsumsi khamar”. ‘Umar ra berkata: “Sungguh benar engkau wahai Ibnu ‘Abbas”. Demikianlah, satu bentuk kesalahan dalam memahami teks al-Qur’an yang disebabkan karena ketidaktahuan tentang latar belakang turunnya ayat. Dan setelah latar belakang dikemukakan, akhirnya pemahamannyapun menjadi jelas.

 (2) Mengatasi keraguan dalam ayat yang diduga mengandung pengertian umum, seperti pengertian ayat 145 surat al-An‘am [6]:

Artinya: “Katakanlah: “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (Q.S. al-An‘am [6]: 145)

Imam al-Syafi‘i ra menegaskan bahwa pesan dalam ayat ini tidaklah bersifat umum, namun didalamnya ada ketentuan pembatasan (al-hashr). Pemahaman ini akan tampak secara jelas dengan merujuk kepada “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat. Menurut al-Syafi‘i ra, ayat ini diturunkan berkenaan dengan pandangan orang-orang kafir yang tidak mau mengkonsumsi suatu makanan, kecuali apa yang telah mereka sendiri halalkan. Karena sikap mengharamkan apa yang Allah SWT halalkan dan menghalalkan apa yang Allah SWT tentukan keharamannya merupakan kebiasaan orang-orang kafir, termasuk orang Yahudi, maka turunlah ayat tersebut. Ayat itu tidaklah dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa selain dari apa yang disebut dalam ayat, dengan sendirinya hukumnya menjadi halal semua. Karena penekanan dalam ayat ini tidak terletak pada kehalalan sesuatu, namun keharamannya.

Karena kesalahan dalam memandang sisi keumumuan cakupan ayat ini, sering mengarah kepada kesalahan fatal dalam memahami dan menarik suatu kesimpulan hukum. Padahal jika dirujuk kepada “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat, akan tampak adanya ketentuan pembatasan cakupan ayat yang dipandang umum tersebut. Hal inilah yang menyebabkan kesalahan kelompok Khawarij dalam menghukumi para pelaku dosa besar dari kalangan kaum Mukmin selaku orang-orang yang akan kekal dalam siksa neraka. Kesalahan ini berawal dari kekliruan cara pandang mereka terhadap ayat-ayat yang mengemukakan ancaman (al-wa‘ id). Mereka menetapkan ayat-ayat tersebut berlaku secara umum. Padahal berdasarkan realitas “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya, ayat-ayat tersebut dialamatkan kepada orang-orang kafir. Namun kerena mereka tidak mengetahui “Sabâb al-Nuzûl” yang melatarbelakangi turunnya ayat, mereka menggeneralisir pengertiannya dan memberlakukan hukumnya secara umum, termasuk orang-orang Mukmin.

(3) Memberikan petunjuk tentang adanya ayat-ayat tertentu yang memiliki kekhususan hukum tertentu, sebagaimana pemahaman yang dikemukakan oleh kalangan yang mengedepankan bahwa yang menjadi pegangan adalah “sebab yang bersifat khusus”, bukan bentuk “keumuman lafaz” (العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ). Berdasarkan ini, maka ayat “zhihar” dalam permulaan surat al-Mujadalah [58] yang diturunkan berkenaan dengan kasus yang terjadi pada sahabat Aus bin Shamit yang men-zhihar istrinya Khaulah binti Hakim bin Tsa‘labah, hanya berlaku bagi kedua orang tersebut. Hukum zhihar yang berlaku bagi selain keduanya ditentukan melalui jalan qiyas (analogi), karena adanya kesamaan dalam ‘illat-nya.

(4) Membantu dalam mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan turunnya ayat dan menghindarkan kesalahan dalam menentukan pelaku tersebut, seperti dalam kasus Marwan yang menunjuk ‘Abd al-Rahman bin Abu Bakar ra selaku orang yang menyebabkan turunnya ayat 17 surat al-Ahqaf [46] yang berbunyi:

Artinya: “Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (Q.S. al-Ahqaf [46]: 17)

Marwan menganggap bahwa ‘Abd al-Rahmanlah orang yang mengatakan “Cis“ (uffin) kepada kedua orang tuanya; sehingga ayat tersebut turun untuk menegurnya. ‘Aisyah membantah kekeliruan anggapan Marwan dan meluruskannya seraya menegaskan: “Demi Allah bukan dia yang menyebabkan ayat itu turun, dan aku bisa menyebutkan kepadamu siapa orang yang sebenarnya”.

(5) Membantu dalam memudahkan penghapalan dan peresapan kandungan makna ayat ke dalam hati orang yang memperhatikannya. Sebab, hubungan sebab-akibat (musabbab), hukum, peristiwa, pelaku, masa, setting, dan latar merupakan satu jalinan yang bisa mengikat dan membekas di hati.

(6) Memudahkan dalam mengidentifikasi gejala-gejala moral dan sosial yang terjadi dikalangan masyarakat Arab pada masa turunnya al-Qur’an (‘ashr al-Tanzil), dan bagaimana sikap dan cara al-Qur’an dalam mentransformasikan gejala tersebut sehingga sejalan dengan pandangan dunia dan petunjuknya. Hal ini tentu, dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam dalam mengidentifikasi, dan menangani berbagai problema yang mereka hadapi.
Comments


EmoticonEmoticon