Asbab Annuzul (3) - HadaCircle

Rabu, April 26, 2017

Asbab Annuzul (3)

Asbab Annuzul (3)

Al-Qur'an

Bagian 3

6. Hubungan Sebab-Akibat Dalam Kaitannya Dengan“Asbab al-Nuzul”


Pembahasan tentang “asbab al-Nuzul”  merupakan salah satu kajian penting dalam memahami syari‘at Islam. Hal ini dikarenakan kejadian atau peristiwa dan pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya ayat dapat memberikan gambaran dalam penetapan suatu hukum. Dan dalam hal ini, ungkapan yang dikemukakan oleh ayat menggunakan redaksi  umum (‘am), sehingga secara logis mencakup pengertian yang luas dan tidak terbatas pada kasus peristiwa atau pertanyaan yang melatarbelakangi turunnya. Berdasarkan persoalan ini, muncul suatu pertanyaan apakah pemahaman terhadap ayat tersebut didasarkan pada keumuman cakupan lafaznya ataukah pada pertimbangan kekhususan sebab turunnya? Puncak dari perdebatan ulama dalam persoalan pemahaman terkait sebab-akibat dalam konteks “asbab al-Nuzul” ini adalah lahirnya dua buah formulasi kaidah yang saling berhadapan, yaitu:


(1)العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب  (yang dipandang adalah keumuman kandungan lafaz, bukan kekhususan sebab); dan


(2)العبرة بخصوص السبب, لا بعموم اللفظ  (yang dipandang adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafaz).


Muhammad ‘Abdullah Diraz menyatakan bahwa jawaban atau respon atas suatu sebab itu mengandung dua kemungkinan, yaitu:


Pertama, Jawaban atau respon itu dalam bentuk pernyataan yang tidak bebas dan terkait secara langsung dengan sebab yang ada, seperti jawaban dengan kata “Ya” atau “Tidak”. Kata “Ya” atau “Tidak” sangat terikat dengan pertanyaannya. Kata “Ya” atau “Tidak”, tidak akan dapat dipahami dengan baik dan benar, jika tidak dikaitkan secara langsung dengan maksud pertanyaan yang telah diajukan. Dalam jawaban yang tidak bebas ini disepakati pemberlakuan hukumnya sesuai dengan sebabnya. Jika sebabnya menunjukkan kepada keumuman, maka jawabannya juga diberlakukan secara umum. Dan jika sebab menunjukkan kepada kekhususan, maka jawabannya harus diberlakukan secara khusus. Misalnya, kasus seorang yang bertanya tentang kebolehan berwudhu’ dengan air laut. Seandainya pertanyaanya itu diungkapkan dengan: “Apakah boleh hukumnya berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab: “Ya”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara umum, baik untuk pribadi si penanya dan untuk semua orang selain penanya. Hal ini dikarenakan pertanyaannya diungkapkan secara umum. Namun, jika orang yang bertanya tersebut bertanya dengan ungkapan: “Apakah boleh bagi saya untuk berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab: “Ya”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara khusus untuk si penanya saja. Jika hukum tersebut ingin diberlakukan untuk orang lain, maka pemberlakuannya ditetapkan melalui qiyas (analogi) atau teks lain yang menunjukkan bahwa hukum-hukum agama pada dasarnya bersifat umum selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.


Kedua, jawaban atau respon itu dalam bentuk pernyataan bebas, berdiri sendiri, dan terlepas dari sebab yang ada. Dalam hal ini berlaku ketentuan bahwa jika jawaban menggunakan redaksi khusus, maka hukum yang ditetapkan juga bersifat khusus; meski sebabnya bersifat umum. Misalnya, kasus seorang yang bertanya tentang kebolehan berwudhu’ dengan air laut. Seandainya pertanyaan dikemukakan dengan ungkapan: “Apakah boleh berwudhu’ dengan air laut?”, Lalu dijawab dengan: “Boleh untukmu berwudhu’ dengan air laut”. Maka hukum yang terdapat dalam jawaban berlaku secara khusus untuk si penanya saja, dan tidak berlaku untuk orang lain sesuai dengan tunjukan redaksi jawaban. Namun, bagaimana jika jawabannya menggunakan pernyataan yang bersifat umum? Apakah hukumnya berlaku secara umum meski dilatarbelakangi oleh sebab yang bersifat khusus? Disinilah letak pangkal perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan ketentuan hukumnya, apakah yang dipandang keumuman lafaz dan mengabaikan kekhususan sebabnya? Ataukah sebaliknya bahwa yang harus diperhatikan adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafaz.


Mayoritas ulama berpegang pada sikap untuk mempertimbangkan keumuman lafaz, bukan pada kekhususan sebabnya. Karena dalam kenyataannya, meski turunnya ayat-ayat al-Qur’an dilatarbelakangi oleh peristiwa tertentu atau menunjuk kepada pribadi tertentu, namun pemberlakuan hukumnya tetap bersifat umum dan tidak terbatas pada peristiwa dan pribadi itu saja. Misalnya, ayat zhihar turun terkait kasus Salman bin Shakhr, ayat li‘an terkait kasus Hilal bin Umayyah dan ‘Uwaimir, ayat qazaf  terkait dengan tuduhan yang dialami oleh Siti ‘Aisyah ra, dan ayat-ayat lainnya yang merupakan respon peristiwa tertentu. Namun, faktanya hukum dalam ayat-ayat tersebut juga diberlakukan pada peristiwa-peristiwa dan kasus-kasus lain yang serupa.


Setidaknya ada tiga argumen yang dikemukakan oleh mayoritas (jumhur) ulama dalam berpegang pada keumuman lafaz dan bukan kekhususan sebab, yaitu:


(1)    Dalil yang harus dipegang adalah lafaz ayat; sementara sebab-sebab yang timbul hanya berfungsi sebagai penjelasan. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Imam al-Syafi‘i ra yang menegaskan dalam kitab “al–Umm” bahwa suatu sebab tidak dapat berbuat banyak dalam menetapkan ketentuan suatu hukum, namun lafazlah yang memiliki peran besar didalamnya (إن السبب لا يصنع شيئا إنما تصنعه الألفاظ).


(2)    Pada dasarnya, kandungan lafaz memiliki pengertian umum, kecuali ada qarinah atau dalil lain yang membatasi keumumannya dan mengalihkannya kepada pengertian khusus. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa banyak ayat al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan suatu kasus tertentu atau menunjuk kepada kaum atau pribadi tertentu. Namun, hal itu harus tetap dipahami dan diberlakukan secara umum, bukan dibatasi dengan kasus, kaum, atau pribadi tersebut. Misalnya ayat 49 surat al-Ma’idah [5] yang berbunyi:


Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.


Ayat ini diturunkan terkait perintah kepada Nabi saw untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan prisnsip keadilan sebagaimana diamanatkan dalam kitab Allah. Perintah kepada Nabi saw terkait dengan kasus Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Namun, sungguh tidak tepat jika perintah kepada Nabi saw untuk berlaku secara adil hanya terbatas kepada kedua kelompok suku tersebut.


(3)    Para sahabat Nabi saw dan para mujtahid di berbagai tempat dan masa berpegang pada teks suatu ayat, bukan terpaku pada sebab yang terjadi.


Disisi lain, ada juga ulama yang mengedepankan bahwa yang harus dipandang dalam pemahaman terkait sebab-akibat dalam konteks “asbab al-Nuzul” adalah kekhususan sebab, bukan sisi keumuman lafaz. Dengan demikian, maka cakupan kandungan ayat atau tunjukan hukumnya terbatas pada kasus atau pribadi yang menyebabkan diturunkannya suatu ayat. Sedangkan kasus lain yang memiliki kesamaan, penyelesaiannya ditetapkan melalui jalan qiyas, jika memenuhi kriteria dan syarat-syarat pemberlakuan qiyas tersebut. Jadi, pemberlakuan hukum terhadap kasus atau untuk pribadi selain yang menjadi sebab turunnya ayat tidak serta merta berdasarkan keumuman tunjukan lafaz ayat itu sendiri, tapi melalui dalil lain diluar ayat tersebut. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa kita sering menemukan komentar atau ungkapan para ulama terkait dengan riwayat “asbab al-Nuzul” yang terkesan menunjukkan kepada keberadaan ayat yang turun untuk menjawab kasus tertentu, atau untuk seseorang yang tertentu, atau untuk suatu kaum tertentu (هذه الآية نزلت في كذا, أو في فلان, أو في قوم من كذا). Namun, melaui komentar-komentar seperti itu, mereka bukan bermaksud membatasi pemberlakuan ayat secara khusus kepada orang-orang atau individu-individu tertentu saja dan tidak berlaku bagi orang lain. Semua orang Muslim yang berakal pasti tidak setuju dengan pemahaman yang membatasi pemberlakuan ayat secara khusus kepada individu tertentu itu. Para ulama umumnya, meski mereka berbeda pendapat dalam memandang suatu lafaz umum yang menunjuk kepada pribadi atau kejadian tertentu apakah pemahamannya dapat dibatasi pada kekhususan sebabnya? Yang jelas tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa pemahaman ayat itu harus dibatasi pada pribadi atau peristiwa tertentu yang melatarbelakanginya. Hanya saja, terkadang yang mereka maksudkan dengan pernyataan mereka untuk mempertimbangkan kekhususan sebab suatu ayat adalah spesifikasi jenis sebab tersebut sehingga mencakup semua peristiwa atau pribadi yang memiliki kesamaan dengan kasus dalam sebab. Berdasarkan pemahaman ini, maka keumuman kandungan dan tunjukan makna suatu ayat tidak serta merta atau spontan berasal dari sisi lafaznya.


DAFTAR PUSTAKA:


Abu Syuhbah, Muhammad, al-Madkhal Li Dirasat al-Qur’an al-Karim, (Riyadh: Dar al-Liwa’, 1987)


Abu> Zahrah, al-Ima>m Muhammad, al-Mu‘jizah al-Kubra> al-Qur’a>n: Nuzu>luhu>, Kita>batuhu>, Jam‘uhu>, I‘ja>zuhu>, Jadaluhu>, ‘Ulu>muhu>, Tafsi>ruhu>, Hukm al-Gina>’ bihi>, (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi, 1418 H/1998 M)


Dira>z, Muhammad ‘Abdulla>h, Hashsha>d al-Qalam  (Kuwait: Dar Al-Qalam, 1424 H/2004 M)


Khallaf, ‘Abd al-Wahhab, Ilmu Ushul al-Fiqh, (Dar al-Rasyid, 2008)


Al-Manshur, ‘Abdullah bin Hamd, Musykil al-Qur’an al-Karim, (KSA: Dar Ibn al-Jauzi, 1426 H)


Al-Qaththan, Manna‘ Khalil, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tt)


Al-Sayu>thi, Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rahma>n, Al-Itqa>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqi>q: Muhammad Abu> al-Fadl Ibra>hi>m (Kairo: Maktabah Da>r al-Tura>ts, tt)


Al-Sha>bu>ni, Muhammad ‘Ali, al-Tibyan Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Damaskus: Maktabah al-Ghaza>li, 1390 H)


Al-Shaleh, Subhi, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ilmi Li al-Malayin, 1988)


Al-Shiddiqi, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988)


Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, (Kairo: Isa Bab al-Halabi, 1968)


Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad bin ‘Abdulla>h, Al-Burha>n Fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahqiq Mushtafa> ‘Abd al-Qa>dir ‘Atho’ (Beirut: Da>r al-Fikr, 1408 H/1988 M)


Al-Zarqa>ni, Muhammad ‘Abd al-‘Azi>m, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Kairo: Maktabah al-Tau>fiqiyyah, tt.)


Zarzur, ‘Adna>n Muh}ammad, Madkhal Ila> al-Tafsi>r al-Qur’a>n wa ‘Ulu>mihi, (Damaskus: Da>r al-Qalam, 1419 H/1998 M)
Comments


EmoticonEmoticon