Ghost Writer - HadaCircle

Kamis, April 06, 2017

Ghost Writer

Ghost Writer - Banyak di antara kita yang sudah sangat kenal dengan profesi Writer, yang lebih dikenal bahasa Indonesianya dengan profesi penulis. Saya yakin, profesi writer sudah sangat lekat di benak orang-orang. Namun, sudahkah kalian kenal dengan profesi “Ghost Writer?”

Ghost Writer

Mungkin bagi masyarakat awan yang belum paham apa itu profesi Ghost Writer, pasti akan mengira, “Ghost writer? Berhubungan dengan hantu dong? Atau profesi apaan nih, nyeremin ya?” Jawabannya: sama sekali gak nyeremin kok profesi ini, justru malah membuat kamu tergiur! atau malah ada yang bilang Ghost Writer itu semacam tim pemburu hantu? Wey, itu Ghost Busters, wey!

Lanjut...

Kok saya tahu? Enggak, ini bukan tanpa bukti. Karena salah satu teman saya ada yang menjadi profesi Ghost Writer tersebut.

Teman saya bercerita dalam sebuah blognya perihal profesi Ghost Writer ini. Banyak suka dan banyak duka yang dialaminya. Sebelum saya lanjut ke pembahasan suka dan dukanya jadi seorang Ghost Writer, maka saya mau menjelaskan dulu, apa itu profesi Ghost Writer ya. Di Indonesia, salah satu orang yang menekuni pekerjaan sebagai Ghost Writer adalah Alberthiene Endah. Melalui tarian tangannya, Alberthiene Endah telah menulis puluhan biografi orang-orang ternama di negeri ini. Sebut saja biografi dari: Susilo Bambang Yudhoyono, Krisdayanti, Joko Widodo, dan sebagainya

Jadi profesi Ghost Writer itu, adalah profesi dalam bidang jasa. Tapi bukan jasa pengiriman barang lho ya, namanya aja ada “Writer” nya. Profesi yang menyangkut bidang jasa sudah pasti berhubungan dengan klien.

Jadi kalau saya gambarkan, kira-kira seperti ini seorang profesi Ghost Writer:

Klien: “Maaf Mbak, gini saya mau cerita. Bentar lagi saya mau mencalonkan diri menjadi seorang Presiden. Daripada saya mengeluarkan budget banyak untuk biaya promosi sana sini, lebih baik uangnya saya gunakan untuk bikin buku. Nah masalahnya saya gak bisa bikin buku, saya cuma bisa ngomong. Kira-kira mbak bisa bantuin saya?”

Saya: “Ya Pak saya bisa bantu.”

Klien: “Ya tapi kan saya nggak bisa nulis, cuma bisa ngomong aja.”

Saya: Tenang aja Pak, Bapak tinggal cerita aja, terus nanti saya rekam. Nah dari hasil rekaman itu nanti kita susun jadi buku.

Klien : Gitu doang?

Aku : Tentunya nanti ada riset dulu dari tim. Biar materi bukunya lebih tajem dan kaya, Pak...

Klien : Terus nanti kalo gitu penulisnya siapa? nanti nama Mbak-nya dong yang muncul di cover depan?

Aku : Penulisnya atas nama Bapak. Namanya aja "ghost" Pak. Kita kan gak keliatan.

Klien : Cocok dah kalo gitu. Deal!
 *kemudian salaman

Nah, kira-kira seperti itulah ilustrasi dari seseorang yang menekuni profesi “Ghost Writer,” jadi seorang Ghost Writer menuliskan buku seseorang dari 0 hingga buku tersebut jadi dan dijual di toko buku. Dan sepenuhnya nama Si Penulis ada di belakang layar.

Bedanya Ghost Writer dengan Co-Writer

Menurut beberapa info yang saya ketahui, perbedaan dari Ghost Writer dan Co-Writer ini adalah jika Ghost Writer bener-bener menghilang, Co-Writer memiliki hak namanya dicantumkan di bagian cover buku. Sebagai penulis pendamping. “Lalu lebih enak jadi Co-Writer dong, kan namanya bisa kelihatan di cover depan buku yang ditulis?” menurut cerita dari teman saya yang berprofesi menjadi seorang Ghost Writer, dalam beberapa hal memang ada enaknya juga menjadi seorang Co-Writer, namun dari segi fee, seorang Ghost Writer minta Fee dua kali lipat dibandingkan dengan Co-Writer.

Menurut info yang saya pernah baca juga, Di Indonesia, skill menjadi seorang Ghost Writer ini masih langka. Namun permintaannya terus meningkat. Itulah kenapa fee seorang Ghost Writer per project bisa berkisar antara harga satu sepeda motor baru hingga satu mobil baru. Semua tergantung portofolio dan kompetensi Ghost Writer-nya. Keren kan? Menurut hitung-hitungan yang saya dapat dari Writer Diggest, tarif seorang ghostwriter per buku yang dia kerjakan itu berkisar antara $15.000 (Rp 210.000.000) sampai dengan $50.000 ( Rp 700.000.000) . Itulah hasil survey yang dilakukan di tahun 2011.

Tapi, menurut penuturan teman saya yang berprofesi sebagai seorang Ghost Writer ini, di Indonesia fee seorang Ghost Writer memang belum mencapai angka yang saya sebutkan di atas, rata-rata 20% besarnya. Tapi ini pun harus Ghost Writer professional, bukan yang amatiran.

Lalu, bagaimana caranya menjadi seorang Ghost Writer yang professional? Nah berikut info yang saya tahu dari beberapa sumber, tiga di antaranya adalah:

Harus Up date dengan Dunia Penerbitan


Maksudnya gimana? Begini, seorang Ghost Writer itu harus kenal dengan seorang Pimpinan Redaksi atau Chief Editor penerbit major (penerbit besar). Kenapa harus kenal? Agar dia paham dengan isu-isu terkini di dunia penerbitan. Dan juga, seorang Ghost Writer professional itu selayaknya juga memiliki MoU dengan penerbit besar, supaya dia bisa memberikan garansi ke klien-nya bahwa bukunya sudah pasti akan diterbitkan. kalau seorang Ghost Writer tak paham dengan dunia penerbitan dan tidak mempunyai link yang banyak dengan penerbit-penerbit besar, tentu Klien merasa tidak percaya menggunakan jasa Ghost Writer dengan kita.

Harus Punya Banyak Karya dan Karya pun Berkualitas


Nah ini penting, seorang Ghost Writer professional hukumnya wajib memiliki banyak karya berupa buku dan karya bukunya pun diterbitkan oleh penerbit besar. Ini adalah syarat mutlak. Jika Anda seorang jurnalis, maka jadilah jurnalis di media besar. Dan untuk Ghost Writer ini paling tidak sudah menerbitkan 5 buku di penerbit besar, bukan menerbitkan buku di Self Publishing / penerbit indie. Jadi, jika mau jadi Ghost Writer, harus punya karya yang diakui dulu oleh penerbit-penerbit besar di Indonesia. karena itu merupakan syarat mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.

Harus Ahli Manajemen

Seorang Ghost writer professional, haruslah orang yang pandai mengatur waktu. Begini, me-manage waktu atau mengatur waktu secara keseluruhan. Baik dari waktu untuk diri sendiri, waktu untuk menulis project buku klien, sampai waktu untuk mengatur tim yang bertugas menangani project buku klien. Untuk masalah mengatur project buku ini dikatakan paling penting, kenapa paling penting?

Sebelum project dikerjakan, seorang Ghost Writer harus buat timeline yang clear. Karena itulah yang akan dipresentasikan ke klien. Kapan interview, drafting, finisihing first draft, editing, layouting dan sebagainya.

Sekali seorang Ghost Writer meleset dari target yang sudah dia janjikan (karena kesalahan si Ghost Writer tersebut) maka kredibiltas seorang Ghost Writer ini akan jelek, maka dari itu jangan menganggap remeh waktu. waktu bagi seorang Ghost Writer itu amatlah berharga.

***

Dan teman saya yang menjadi seorang Ghost Writer ini, berkata dalam tulisan di blog pribadi-nya bahwa, asyiknya menekuni profesi ini di antaranya adalah Pengetahuan kita tentang berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan meningkat drastis. Ya bisa dibayangkan, untuk setiap topik yang ditulis minimal seorang Ghost Writer harus melahap habis 10 buku terkait topik tersebut. Dan seorang Ghost Writer bisa sangat dekat orang nomer satu di daerah atau institusi tertentu. Pastinya klien yang pake jasa Ghost Writer bukan klien sembarangan. Mereka punya budget untuk itu, artinya udah nggak bingung lagi besok mau makan apa. Dan kesempatan ini merupakan kemewahan yang nggak bisa didapat semua orang.

Jadi ya cukup sekian ulasan saya mengenai profesi Ghost Writer ini. Banyak yang pengen gak? Jangankan kalian, saya aja pengen hahaha. Selamat berlomba-lomba menghasilkan karya lewat tulisan ya, siapa tahu kalianlah The Next Ghost Writer berikutnya!
Comments


EmoticonEmoticon