Hei Blogger, Siapkah Kalian Jadi Incaran Perusahaan?

Hei Blogger, Siapkah Kalian Jadi Incaran Perusahaan? - Berdasarkan data dari Bolton Consulting Group (BCG), pada tahun 2013 golongan kelas menengah di Indonesia sudah mencapai 74 juta orang dan diprediksi pada tahun 2020 angka ini naik menjadi 141 juta orang atau sekitar 54% dari total penduduk Indonesia.

Blogger

Survei menemukan bahwa sepanjang tahun 2016 sekitar 132,7 juta orang dari total 256,2 juta orang telah terhubung ke internet. Survei ini dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII)

Semakin meningkatnya golongan kelas menengah ke atas dan meningkatnya pengguna internet, hal ini menurut startup bisnis merupakan ladang subur untuk bisnis e-commerce.

Lalu apa hubungannya dengan blogger? Untuk mereka–blogger–yang tidak bisa melihat peluang, informasi ini tidak lebih dari sebaris kalimat yang hanya mengandung kata untuk sekadar dibaca. Namun, untuk mereka yang jeli pada kesempatan, sama dengan para pebisnis lainnya, meningkatnya peminat belanja e-commerce merupakan peluang yang bisa diuangkan. Bagaimana caranya?

Tanpa disadari, beberapa orang terkadang membuat satu dua ulasan mengenai suatu produk yang telah dibeli. Baik itu tentang positif dan negatif produk yang bersangkutan. Ada yang sekedar hanya memberi pendapat, ada yang bahkan mengulas dari nama, manfaat hingga prediksi harga jual kembali barang tersebut. Artinya mereka mengulasnya secara rinci.

Pemilik produk membutuhkan ulasan yang rinci seperti ini. Pemilik produk membutuhkan seseorang yang paham betul dengan produknya, yang paham betul tentang apa yang perlu ditonjolkan dari produk tersebut, apa yang membuat produk tersebut dibutuhkan banyak orang, apa yang membuat orang lain merasa membutuhkan produk tersebut walaupun nyatanya calon pembeli belum benar-benar membutuhkannya. Pemilik produk atau produsen membutuhkan orang yang seperti ini. Mengapa?

Ulasan yang dibuat bisa jadi akan menjadi referensi calon pembeli lain yang ingin memiliki barang yang sama. Jika ulasan yang dibuat positif, orang lain akan lebih yakin untuk mengambil barang tersebut, namun jika tidak, kemungkinan calon pembeli untuk mengambil produk tersebut akan sangat kecil.

Ada banyak produk baru yang beredar belakangan. Beredarnya produk-produk ini tentu saja didasarkan pada tren yang sedang berlangsung. Seperti sekarang misalnya, produk yang jika dioleskan ke sepatu akan membuat sepatu tersebut anti air atau tidak akan basah jika terkena air. Atau tenda yang pemasangannya hanya membutuhkan waktu dua menit saja. Atau sepatu untuk mendaki, hammock, dan benda-benda lain yang dibutuhkan saat mendaki.

Dulu, orang-orang tidak begitu membutuhkan tongsis (tongkat narsis), namun seiring dengan tingginya gengsi dan gaya hidup, rupanya tongsis sendiri memiliki peran untuk membuat orang merasa sedang berada di posisi tersebut. Apa-apa cekrek, cantik sedikit cekrek, nanjak sedikit cekrek, wisata alam sedikit cekrek! Macem-macem. Lalu apa? Posting di media sosial!

Pemilik produk memiliki semua benda yang lagi banyak-banyaknya dibutuhkan banyak orang. Namun tidak semua dari mereka memiliki kemampuan untuk menyampaikan mengapa pembeli harus memilih produk mereka dan bukan membeli produk orang lain. Mereka membutuhkan orang lain yang memiliki kemampuan tersebut. Siapa? Yup! Penulis!

Mereka membutuhkan penulis untuk menjelaskan secara detail apa itu tongsis, mereka membutuhkan penulis untuk memberi tahu pada khalayak mengapa mereka membutuhkan hammock, mereka membutuhkan penulis untuk meyakinkan pembeli bahwa mereka membutuhkan tenda yang bisa dipasang hanya dengan waktu dua menit walaupun pembeli tersebut sebenarnya sudah memiliki tenda yang jauh lebih bagus dari tenda pasang 2 menit tersebut. Mereka butuh penulis untuk itu semua.

Perusahaan startup biasanya membutuhkan banyak penulis baik untuk membuat artikel mengenai segala hal yang terkait dengan produknya ataupun membuat deskripsi produk agar produk tersebut disukai banyak orang atau jika bisa seperti yang sudah saya katakan di atas, mereka memutuskan untuk membeli walaupun sebenarnya mereka tidaklah terlalu membutuhkan produk tersebut.

Perusahaan startup ini jugalah yang biasanya “ngintip” portofolio teman-teman selama menjadi penulis. Contoh-contoh tulisan yang teman-teman buat akan menjadi penilaian bagi mereka untuk menentukan apakah teman-teman layak untuk mengisi posisi penulis di perusahaan mereka atau tidak.

Untuk mereka yang memiliki portofolio seperti artikel dengan kualitas tulisan di atas rata-rata atau setidaknya memiliki banyak viewer, biasanya perekrutan terjadi hanya dengan via telepon saja tanpa teman-teman perlu meluangkan waktu khusus seharian untuk mengikuti test ini itu – dan jeleknya diberi jawaban ‘akan kami hubungi seminggu lagi’ namun ‘hubungi’ itu tidak pernah masuk ke hp Anda.

Perekerutan via hp ini tentu saja sudah termasuk dengan nego gaji. Jika ini sudah terjadi, artinya pemilik perusahaan sudah percaya dengan kualitas tulisan teman-teman.

Jadi untuk teman-teman blogger, baik itu yang baru mulai bergabung dalam dunia blog ataupun yang sudah lama jadi blogger namun menganggapnya hanya sebagai hobi semata, upayakan untuk tetap mencantumkan kontak yang bisa memudahkan pembaca untuk menghubungi kamu ya.

Kita tidak tau, ada berapa ‘pengintip’ yang iseng untuk melihat-lihat karya yang selama ini kita anggap hanya tulisan semata. Bagaimanapun, setiap produk yang baru diluncurkan akan membutuhkan penjelasan tentang produk tersebut, kan? Jadilah penulis yang memberikan solusi pada pemilik produk melalui tulisan-tulisan kamu!

Jadi, sudah siapkah untuk menjadi incaran perusahaan melalui tulisan-tulisan kamu? Yuk menulis!

0 komentar

Posting Komentar