Hidup Tanpa Sosial Media

Hidup Tanpa Sosial Media - Awal bulan Maret lalu dunia maya dihebohkan dengan pengumuman pensiunnya publik figur Indonesia dari jagat maya. Ialah Sarah Sechan. Meski tak sepanjang caption gadis-gadis kekinian selepas sidang skripsi, tapi caption wanita yang biasa disapa teh Sarah ini cukup menarik perhatian netizen.

Social Media

Di antara isi otak saya yang sebagian besarnya terisi dengan pertanyaan “kenapa ada orang yang percaya dengan bumi itu datar” terselip statement penghabisan teh Sarah di akun media sosialnya. Maklumat dari ibu satu anak ini berbunyi “saya ingin orang-orang mengenal saya karena mereka bertemu dan berbicara dengan saya. Bukan karena caption dan foto saya di media sosial”

Sentilan cukup dalam dari Sarah Sechan kepada animo masyarakat Indonesia yang bisa dibilang sampai ke tahap stadium 3 kecanduan media sosial. Termasuk saya. Di saat netizen sedang mentransformasi dirinya menjadi Ismail Marzuki (Read: sibuk membuat kalimat puitis untuk caption), Teh Sarah malah menghiraukan hiruk pikuk rimba maya. Baginya, imaji dan ilusi maya tak hanya dikuasai oleh Romy Rafael, namun juga netizen.

Keputusan Sarah Sechan mengakhiri hidup akun media sosialnya ini menambah panjang daftar publik figur yang lelah dengan media sosial. Orang-orang yang lelah ini lebih memilih hidup di dunia yang nyata tanpa harus memikirkan pendapat orang lain. mereka penat melahap kritikan pedas netizen disetiap postingannya. Andai Adolf Hitler hidup di era milenial, saya rasa tidak perlu desakan ratusan tank M4 Sherman untuk membuat beliau menelan kapsul sianida di kamar tidurnya. Hanya butuh cibiran netizen untuk membuatnya skak mat.

Jika Raden Adjeng Kartini menumpahkan keluh kesahnya tentang feodalisme melalui surat-surat untuk sahabat-sahabatnya, netizen mencurahkan segalanya (sekali lagi baca: SEGALANYA) pada laman dunia maya. Yang berarti bukan hanya sahabat-sahabatnya saja yang tahu, tapi orang-orang diseluruh dunia. Sehingga membuat beberapa orang risih untuk melihat status yang tak penting-penting amat.

Alasan mereka yang tidak bersosial media bukan karena mereka gagap teknologi, tapi sekedar menjaga kewarasan dan kesehatan otak dari panas nya perang maya dan serbuan berita hoax. Keseharian para netizen di media sosial 80% merupakan kamuflase, yang mana kehidupan nyatanya tak seindah di dunia maya. Mereka sangat terobsesi dengan jumlah like, share, dan pengikut di ranah maya.

Rela tidak makan seharian demi bentuk perut yang ideal untuk difoto, rela foto lebih dari 200 kali dengan pose yang sama demi mendapatkan satu foto yang pas untuk diunggah di Instagram, rela mengakuisisi quote ternama untuk dijadikan caption agar orang lain menganggap keindahan kosa katanya setara Wiji Thukul, tidak lebih tidak kurang mereka rela melakukan itu hanya untuk like. Tanda jempol dan love ibarat pil ekstasi bagi para pecandu narkoba. Mulut mereka akan berbusa jika seminggu saja tidak medapatkan like. Harus adanya pengakuan dari orang lain jika “saya itu keren” “saya itu hebat” “saya itu tampan”. Sungguh lelah nya jika harus menjalankan kehidupan seperti itu.

Orang – orang yang sudah kecanduan media sosial level hardcore cenderung lebih sensitif pada pendapat orang lain terhadap dirinya. Mereka sudah memberikan foto terbaik dengan sentuhan editing camera360 dan VSCOcam, ditambah foto diambil dari angle terbaik yang membuat pipi mereka terlihat tirus. Namun, jika komentar yang didapat tak sejalan dengan harapanya. Mereka cenderung lebih mudah sakit hati dan mengabaikan pendapat orang lain. Inilah awal mula sifat ego tumbuh pada dirinya. Tidak heran Perang Dunia ke 3 kerap muncul pada kolom komentar. Jika dulu perang menggunakan mechine gun dan bom atom, di era milenial, cukup dengan beberapa ketikan kata pada kolom komentar.

Mereka yang hidup tanpa media sosial tidak mempercayai afirmasi yang menyebutkan bahwa media sosial menghubungkan anda dengan teman-teman anda. Bagi mereka, media sosial adalah suatu wadah yang merangsang rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan orang lain. jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Gaul Indonesia, sifat itu adalah kepo. Tidak seperti Stephen Hawking yang kepo terhadap teori lubang hitam, netizen cenderung kepo terhadap hal-hal yang tidak penting. Contohnya seperti kehidupan asmara seseorang atau hal-hal yang bersifat pribadi.

Orang-orang yang tidak bersosial media ini enggan menjalani hidup mereka hanya untuk menatap layar screen, mereka lebih memilih hidup di dunia nyata dan menghabiskan sisa hidup untuk orang-orang terkasih. Mereka tidak ingin hanya memberikan komentar pada status teman yang sedang berulang tahun tanpa memberi surprise, mereka tidak ingin hanya menulis status dengan tagar #SavePalestine tanpa memberikan sumbangan pakaian dan makanan kepada lembaga kemanusiaan. Mereka tidak ingin sekedar memberikan “love” pada akun Dompet Duafa agar seolah-olah terkesan sebagai aktivis tanpa memberi sedekah langsung.

Fenomena terakhir yang saya sebut tadi terkenal dengan sebutan slacktivism.Slacktivism atau aktivis pemalas, merupakan aktivis online dimana seseorang dapat mendukung cause tertentu, tetapi tidak menghasilkan aksi yang nyata.

Tampaknya cukup jelas dari penjabaran di atas mengapa ada segelintir orang yang enggan berselancar di sosial media. Bagi mereka, dunia maya hanyalah dunia semu. media sosial hanyalah panggung sandiwara. Aktor film La La Land, Emma Stone yang juga tak memiliki akun media sosial berpendapat jika apa yang ditampilkan orang-orang di media sosial hanyalah potret terbaik mereka, bukan diri yang apa adanya.

Saya yakin seyakinnya, akan banyak dari netizen yang mengikuti jejak Sarah Sechan untuk angkat kaki dari media sosial. Teh Sarah akan menjadi trendsetter bagi orang-orang yang cabut dari media sosial. Sepertinya Michael Hart harus menyelipkan nama Sarah Sechan pada bukunya yang berjudul The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History.

0 komentar

Posting Komentar