Islam Indonesia, Titik Temu Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan - HadaCircle

30 April 2017

Islam Indonesia, Titik Temu Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan

Islam Indonesia, Titik Temu Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan - Kontroversi Islam Nusantara rupanya belum berhenti. Konsep yang diusung oleh Nahdlatul Ulama, bahkan dijadikan tema besar saat Muktamar 33 di Jombang, terus mendapatkan kritik, sekaligus mendorong bagi para pengusungnya. Tidak ketinggalan, menyikapi hal ini, Badan Litbang Kementerian Agama, melalui Pusat Kehidupan Beragama, menggelar bedah buku “Islam Nusantara, dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan” di Lantai 3 Gedung Kementerian Agama, Jl. MH. Thamrin 6 Jakarta (13/10).

NU-Muhammadiyah

Hadir sebagai pembicara cendekiawan muda muslim, Ahmad Najib Burhani, dan Ahmad Sahal, sebagai pembahas dengan moderator Kapus Kehidupan Beragama, Muharram.

Dalam paparannya, Ahmad Sahal mengatakan bahwa gagasan Islam Nusantara sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia.

“Gagasan Islam Nusantara sejatinya bukanlah gagasan yang ujug-ujug dan belakangan saja, melainkan sudah diwacanakan sejak lama di Indoensia, meski tidak memakai lebel Islam Nusantara”, tegasnya.

Dalam uraian panjang pengantar bukunya, Sahal, begitu dia biasa dipanggil, bahwa Prof. Hasbi Ash-Shiddiqie, sudah pernah melontarkan ide tahun 1961 tentang perlunya fikih Indonesia. Yaitu fikih yang sesuai dengan kepribadian Indonesia. Menurut Hasbi, fikih yang selama ini ada didominasi oleh fikih Arab, Persia, Hijaz, dan lain-lain. Sementara pada tahun 1980-an, Gus Dur pernah melontarkan ide tentang “pribumisasi Islam”. Menuirut GD, pribumisasi Islam bukan ingin merubah watak Islamnya, melainkan merubah manifestasi dari kehidupan agama Islam. Namun juga pribumisasi tidak lantas menempatkan Islam dalam subordinasi budaya dan tradisi, tidak pula melakukan “jawanisasi” atau “sinkretisasi”.

Sementara itu, intelektual muda Muhammadiyah, Najib Burhani, menyampaikan bahwa konsep Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan merupakan bentuk respon yang berbeda, terhadap gejala yang sama, yakni globalisasi. Islam Nusantara yang ia gambarkan sebagai “langgamnya nusantara, tetapi bajunya Islam. Bajunya Indonesia, tetapi badannya Islam, dimana ini manifestasi dari sikap menghadapi globalisasi dengan menekankan keunikan budaya. Sementara Islam Berkemajuan menekankan pada universalisme dan kosmopolitanisme dalam menanggapi globalisasi.

Di akhir bedah buku, Sahal memberikan garis bawah tentang pentingnya Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan dapat berjalan seiring. Jika Islam Nusantara lebih menekankan pada realitas, pada unsur pijakan keagamaan, sementara Islam Berkemajuan mendorong pada visi keagamaan.
Comments


EmoticonEmoticon