Ketika Orang Biasa Bangga Memiliki Banyak Haters

Ketika Orang Biasa Bangga Memiliki Banyak Haters -  Norak rasanya kalau zaman sekarang kamu gak tau arti haters. Haters tuh banyak bertebaran dikalangan para selebritis baik itu seleb dalam negeri maupun luar negeri, kalau kata Taylor Swift sih begini menanggapi para haters dalam lirik lagunya:

"And the haters gonna hate, hate, hate, hate, hate".

Bangga

Yaaa wajar deh selebritis punya banyak haters, kan mereka memang menjadi sorotan kamera dan tak lepas dari bahan perbincangan masyarakat baik itu tentang cinta, keluarga, jalan-jalan ke luar negeri atau mobilnya kesenggol bus ugal-ugalan. Dalam tulisan kali ini aku tidak akan membahas tentang selebritas yang memiliki haters paling banyak atau paling badai tingkah lakunya.

Nah, mungkin di antara pembaca sekalian ada yang menobatkan diri menjadi haters salah satu selebritis atau tokoh politik. Tapi pernah gak sih kamu benci dengan seseorang yang bukan siapa-siapa dan saking bencinya kamu menobatkan diri sebagai haters-nya? Duuuh kalau aku sih nggak deh dan males banget.

Namun seiring berjalannya waktu dan derasnya arus globalisasi, sekarang itu banyak sekali fenomena yang aneh-aneh, lah aneh gimana sih? Hemmm sebenernya sudah lumayan lama sih aku nemu hal-hal aneh, contohnya seperti anak-anak muda pakai snapback atau kaos oblong bertuliskan "Haters make me famous" waduuuh pikirku ini orang pernah tampil di stasiun TV atau menjadi anggota partai mana ya kira-kira? Hehee pasti banyak tuh haters-nya sampai-sampai pakai pakaian bertuliskan seperti itu. Oke, tak perlu diambil pusing karena itu hanya tulisan dipakaian dan sebagai sumber rezeki dari tangan-tangan pengusaha yang kreatif, jadi mari kita fokus ke pembahasan yaitu: ketika orang biasa bangga memiliki banyak haters.

Sebenarnya mau siapapun itu pasti semua orang memiliki sisi yang tidak disukai beberapa orang, mau dia seorang selebritas terkenal atau seorang tukang getuk warna-warni pasti ada aja orang yang tidak suka dengan kelakuan mereka, misalnya seorang artis dibenci karena aktingnya sangat buruk dan tukang getuk warna-warni dibenci karena musik dangdutnya yang terlalu berisik kala berdagang keliling kampung.

Namun makin ke sini kok makin bingung ya ketika liat caption atau status orang-orang di media sosial yang menyatakan diri mereka memiliki haters eh bukan hanya satu hater lho kayaknya sih banyak haters-nya. Soalnya mereka tulisnya, "Biarkan para haters menggonggong" aseeek. Sah-sah saja sih sebetulnya ketika orang biasa menyatakan dirinya memiliki haters, lah terus apa yang salah dari caption atau tulisan itu dong? jelas ada yang salah namun bukan pada tulisan atau captionnya melainkan pada pemaknaan yang bergeser seperti:

Kekeliruan Memaknai Sensasi dan Prestasi
Kalau peribahasa bilang "Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya" jadi semacam pencapaian prestasi seseorang, jika semakin banyak prestasinya maka banyak juga orang yang sirik dan berusaha menjatuhkannya termasuk haters. Namun hal ini bergeser makna dari mencari prestasi menjadi sensasi, karena kebanyakan orang jaman sekarang itu hobi cari sensasi dan salah satu tujuan utama dari sensasi itu adalah menjadi "Terkenal". Hal ini bisa kita lihat dimedia sosial milik anak-anak remaja sampai orang dewasa yang berlomba-lomba agar selalu update dan kekinian, banyak di antara mereka menyatakan diri memiliki banyak haters entah itu dalam caption, foto atau unggahan video di instagram (gak tau deh siapa aja yang rela jadi hatersnya).

Tapi herannya seolah-olah mereka bangga memiliki banyak haters, dan lucunya lagi sensasi yang mereka buat di instagram atau medi sosial tak dibarengi dengan pencapaian prestasi apa-apa, malah cenderung negatif deh. Contohnya nih beberapa remaja senang melakukan hal-hal yang kiranya memang tak ada manfaatnya sama sekali seperti mengunggah video dengan kata-kata kasar di media sosial entah deh selebritas mana yang mereka tiru yang jelas setahu ku sih seburuk apapun itu selebritis pasti dia punya prestasi walau tak banyak. Jadi apa salahnya sih tiru hal yang baiknya saja? jujur aku juga bukan orang baik dalam bertutur kata, kadang sering kepeleset kasar juga ketika sedang berbicara tapi itu ketika berbicara langsung dengan teman ya, bukan ketika live di instgram atau sesi rekaman video untuk diunggah ke media sosial.

Mengingat negeri ini diwariskan adat ketimuran yang mana sangat melekat sekali dengan budaya kesopanannya, jadi wajar ketika seseorang melakukan hal-hal buruk dimedia sosial mendapatkan cemoohan atau hate speech, ya jelas dia banyak hatersnya tuh lihat aja unggahan foto atau video mereka di media sosial isinya tak mencerminkan bangsa Indonesia yang seharusnya. Namun herannya semakin banyak haters dan semakin buruk kelakuan anak-anak ini sepertinya semakin menciptakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka, yang beralasan antara lain,

1. Semakin Terkenal
Bukan menjadi hal yang tak mungkin ketika seseorang yang banyak haters atau pembencinya menjadi sosok yang terkenal, terkenal dengan kelakuannya yang buruk ya. Pernah aku lihat salah satu postingan video anak ABG atau yang biasa dikenal dengan istilah cabe-cabean, isi dari video yang dia unggah sama sekali tidak memberikan manfaat sama sekali malah merugikan orang lain, kurang lebih isi videonya adalah mereka (cabe-cabean) berdiri di pinggir jalan raya dan memberhentikan sebuah angkutan umum. Eh ketika supir angkot tersebut menghentikan angkutan umumnya di samping anak ABG ini, mereka (cabe-cabean) hanya bercanda saja menghentikan angkot tanpa ada niatan untuk naik ke angkot tersebut.

Penasaran dengan siapa pemilik asli video tersebut aku pun akhirnya menemukan instagram si pengunggah sekaligus pemeran di video tersebut, wah gak main-main ternyata jumlah followers-nya lebih banyak dari followers milikku wkwkwkk. Banyak komentar-komentar negatif menanggapi video tersebut namun sepertinya itu bukan masalah, toh sudah aku tebak pasti maksud dan tujuan mereka para adek-adek imut ini memposting video tersebut adalah supaya terkenal dengan sensasi yang luar binasa sampai mengganggu orang tua yang sedang mencari nafkah di jalan raya.

2. Gaya Hidup
Meskipun tak terkenal atau kiranya kurang berhasil menjadi selebgram di media sosial, hal itu tak menyurutkan niat beberapa remaja atau ABG tua untuk mencari haters. Setidaknya mereka ingin mununjukan gaya hidup mereka kepada orang banyak di media sosial, entah itu gaya hidup yang terbiasa dengan kata-kata kasar, asap rokok dan alkohol di usia yang masih belum pantas, atau juga gaya hidup yang lumayan bebas dengan foto vulgar di balik gorden apartemen yang mereka sewa perjam atau dua jam ke kawannya hehee. Perasaan orang lain tentang suka tak suka terhadap gaya hidup yang mereka tunjukan di media sosial itu bukan lah masalah bagi mereka, yang penting happy walau banyak haters (katanya sih begitu).

3. Kekinian dan Gaul
Kurang tau juga sih apa perbedaan antara kekinian dan gaul atau mungkin keduanya memiliki arti yang sama. Gak kekinian dan gaul rasanya kalau nama kamu cuma dikenal oleh orang-orang terdekat saja, katanya sih kalau seseorang semakin banyak memiliki haters dan gosip maka orang itu termasuk gaul.

Misalnya digossipkan karena gaya pakaiannya yang kurang bahan atau mamanteskeun sorangan (kalau kata temanku yang Sunda asli wkwkkk) atau bisa juga digosipkan karena gaya pacarannya yang aduhai. Gaya tersebut dilakukan bukan semata iseng saja, namun sudah menjadi tuntutan karena hal seperti itu sudah dianggap sebagai gaya yang kekinian dan diminati oleh banyak anak-anak jaman sekarang, ibaranya kalau kamu gak seperti itu ya kamu gak gaul atau kudet alias kurang update.

Tak ada salahnya mengikuti zaman. Toh sampai saat ini juga aku sering alay-alay gak jelas di media sosial, namun yang perlu diingat adalah tak perlulah adik-adik dan kakak-kakak sekalian dengan sengaja mencari haters demi kepuasan sosial apalagi dengan kelakuan buruk sampai merugikan atau menyakiti orang lain. Percaya deh jika dibenci karena prestasi yang hebat itu lebih indah dan membanggakan dibanding dibenci karena sensasi yang buruk, seperti lirik di soundtrack film Fast and Furious 8 begini nih "Two middle fingers for the haters, life’s only getting greater" duuuh jadi pengen goyang rasanya kalau denger lagu Good Life, wkwkkk.

Tulisan ini tanpa ada niatan menyakiti perasaan seseorang ya, jadi aku mohon maaf apabila ada kesalahan kalimat yang kurang disukai oleh pembaca, Salam.

0 komentar

Posting Komentar