KPK Tak Boleh Kalah

KPK Tak Boleh Kalah - Anda dan saya pasti setuju koruptor merupakan musuh utama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK hadir berperan sebagai pemberantas tindak pidana korupsi di tanah air. Tak masuk akal jika KPK berdamai dengan para koruptor yang telah mencuri uang negara secara membabi-buta. Namun miris mendengarnnya ketika para koruptor melakukan serangan balik pada KPK. Itu ibarat maling yang melawan, menyerang balik polisi yang sedang mengkapnya. Betapa sudah terlalu jauhnya kejahatan dalam masyarakat kita.

KPK

Saat ini publik sedang ramai memperbincangkan penyiraman cairan sejenis asam sulfat  ke wajah penyidik senoir KPK, Novel Baswedan. Perlakuan sadis tersebut terjadi pada subuh pagi Selasa yang lalu (11/4). Saat itu, Novel Baswedan baru saja meninggalkan masjid usai melaksanakan salat subuh berjamaah di Masjid Al Iksan yang terletak di sekitar kediamannya, di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara. Pelaku yang mengendarai motor seketika kabur meninggalkan korban. Menurut pengakuan Novel, kejadiannya sangat cepat. Nampaknya, kekejaman yang menimpa penyidik KPK yang sedang mengusut kasus e-KTP itu telah terencana secara apik. Berdasarkan pengakuan jamaah masjid dan masyarakat sekitar, beberapa hari belakangan sering terlihat orang asing di lingkungannya. Bahkan pada subuh itu, sebagian jamaah melihat beberapa orang asing yang sebelumnya dijumpai.

Apa yang terjadi pada Novel Baswedan menjadi antiklimaks perlawan dan serangan balik terhadap lembaga anti korupsi, KPK. Sebelumnya, berbagai upaya pelemahan telah diupayakan dengan berbagai cara oleh berbagai pihak. Kewenangan KPK dinilai terlalu berlebihan. Revisi Undang-undang tentang KPK seriingkali diwacanakan. Penolakan dari publik menjadi satu-satunya benteng terakhir yang mengamankan KPK dari berbagai upaya pelemahan.

Ternyata tak hanya Novel, para pimpinan KPK juga penyidik lain merasakan hal sama. Mereka kerap dimata-matai, dibututi, diteror, diancam sampai dikriminalisasi. Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Antasari Azhar dan lainnya menceritakan berbagai pengalaman buruk yang menyerupai. Bagi Novel sendiri ini bukan yang pertama.

Presiden Jokowi mengutuk keras aksi brutal di atas. Ia memerintahkan Kepolisian RI untuk menuntut secara tuntas. Hukum diminta bertindak tegas. Kapolri Jendral Tito Karnavian pun menyanggupi perintah RI-1 tersebut. Kapolri mengaku bahwa Novel Baswedan  telah menelpon dirinya beberapa saat setelah kejadian. Hanya telepon tak terangkat. Beberapa waktu kemudian dirinya menghubungi yang bersangkutan. Sementara Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul menyampaikan, hingga saat ini tim gabungan Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya telah memeriksa sejumlah saksi. Ada 16 saksi yang diperiksa. Mereka pastinya orang yang mengetahui dan mendengar peristiwa.

Catatan

Menurut hemat saya, aksi brutal di atas menjadi preseden buruk bagi pemberantasan korupsi. Aksi tersebut menegaskan perlawanan terbuka (secara terang-terangan) para koruptor terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebab itu, masyarakat diminta mewaspadai setiap usaha berbagai pihak yang menydutkan KPK. Masyarakat wajib mendukung  dan menjaga KPK dari serangan para koruptor. Bisa jadi pada masa mendatang KPK diperlakukan lebih buruk lagi. Menyikapi perlawanan para koruptor terhadap KPK, kedepan Pemerintah diminta mewaspadai terhadap setiap gerakan yang ada baik yang bermuara dari internal atau eksternal pemerintah. Bukankah para koruptor  sebagian besar berada dalam Pemerintah? Hampir semua lembaga negara  pernah bersentuhan dengan korupsi. DPR, MA, MK juga DPD. Hanya lembaga keprisidenan yang belum. Semoga tak akan pernah.

Lebih khusus Presiden kudu memiliki komitmen kuat, berdiri di belakang KPK. Jangan biarkan siapa pun mengusik, menghalangi apalagi mencegah kinerja KPK dalam memberantas korupsi. Terkait dengan kasus Novel Baswedan, saya mengusulkan Presiden membentuk tim independen. Tim ditugaskan mengungkap  siapa aktor utama dibalik penyerangan serta memberi masukan ke Presiden terkait jaminan keamanan personalia KPK seperti Novel Baswedan.

Kemudian Kepolisian dituntut bertindak cepat mencari pelaku. Jangan biarkan koruptor bebas. Sebab kegagalan menangkap pelaku teror,  komitmen Polri akan dipandang tak berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. Jika selama ini Polri bertindak sangat cepat dalam upaya pencegahan aksi teror di tanah air sepantasnya mereka pun dapat menangkap pelaku dengan cepat. Jangan sia-siakan kepercayaan masyarakat yang sudah meningkat, membaik terhadap Polri. Terlebih, Presiden telah memerintahkan secara tegas terkait hal tersebut.

Perlawanan terhadap koruptor memang membutuhkan dukungan dari semua pihak. Tak bisa kita mengandalkan KPK saja. Masyarakat luas memikul tanggungjawab yang sama. Publik diminta terus memberi dorongan moril. Dukungan juga bisa diwujudkan dengan tidak melakukan segala tindakan korupsi, menolak jika diajak dan melaporkan saat menyaksikan.

Akhir kata, Novel Baswedan bukan supermen. Ia manusia biasa. Preseden buruk yang menimpanya belum lama ini menunjukkan kemanusiannya. Sebab itu dia pun membutuhkan keamanan dari segala upaya teror dalam menjalankan tugasnya sebagai penyidik KPK. Karenanya, dukungan semua elemen masyarakat terhadap lembaga KPK nyata dibutuhkan. Sekarang bagaimana merumuskannya dalam sistem pemerintahan menjadi tugas para pemegang kekuasaan di negeri ini. KPK tak boleh kalah.  KPK tak boleh mati. KPK harus lebih berani. Bertaring. Menyerang setiap tindak pidana korupsi. Wa Allahu alam.

0 komentar

Posting Komentar