Mewaspadai Cara Berpikir "Pilihan Ganda" - HadaCircle

Senin, April 17, 2017

Mewaspadai Cara Berpikir "Pilihan Ganda"

Mewaspadai Cara Berpikir "Pilihan Ganda" - Musim ujian sekolah sudah tiba. Dimulai dari Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA dan SMK, kini giliran siswa kelas IX SMP menghadapi ujian nasional. Ritual sudah dilakukan: ritual doa bersama, ritual tryout, hingga ritual desas-desus membocorkan soal—menjadi berita rutin yang basi dan sarat basa-basi.

Exam

Para siswa berbaris atau lebih tepat dibariskan, untuk memasuki lorong panjang cara berpikir, cara menyikapi pertanyaan, cara menjawab pertanyaan. Tipologi soal yang ditawarkan nyaris sama sejak beberapa puluh tahun lalu: multiple choice atau pilihan ganda.

Cara Berpikir “Pilihan Ganda”

Model soal pilihan ganda merupakan model wajib di setiap lembar ujian. Zaman saya belajar di sekolah dasar, ada pula pilihan Benar – Salah (BS), Isilah titik-titik di bawah ini dan Jawablah pertanyaan. Namun, model pilihan ganda tidak pernah absen.

Dari beberapa model soal itu semuanya menawarkan cara berpikir liner—membelah pilihan jadi dua, kiri dan kanan, benar dan salah, atau lebih gamblang hitam dan putih. Siswa dikondisikan agar tepat memilih jawaban melalui tipologi soal yang mereduksi kemungkinan-kemungkinan. Bahkan jawaban yang menampilkan kemungkinan akan dinilai salah.

Soal pilihan ganda adalah modifikasi dari tipologi soal yang hitam putih itu. Fokus cara berpikirnya tetap sama: membelah fakta menjadi kiri-kanan, benar-salah, hitam-putih. Alam berpikir siswa dipangkas sedemikian rupa agar menghadirkan dua pilihan saja, benar atau salah. Adapun opsi jawaban yang ditampilkan, tidak lebih dan bahkan pasti, adalah pilihan yang salah. Hanya satu jawaban yang benar.

Karakter dan watak pengetahuan yang diujikan pasti sesuatu yang paten. Soal matematika sangat cocok menggunakan model pilihan ganda. Misalnya, soal 4 X 4 tidak memiliki kemungkinan lain selain 16. Tapi itu jawaban dunia sekolah. Di dunia politik yang dipanglimai kepentingan, agama yang ditunggangi, pendidikan yang dininabobokkan, jawaban 4 X 4 adalah kalau 16 menguntungkan kelompok saya, ya 16. Kalau mengurangi potensi jumlah suara, ya belum tentu 16.

Matematika yang dikenal sebagai ilmu pasti itu pun berhadapan dengan relativitas cara pandang, nafsu kepentingan, hitungan untung rugi materi. Bagaimana pula nasib ilmu yang tidak pasti?

Dan sekolah bertahan dengan garis liner itu—siswa dikondisikan, dididik, dihadapkan pada dua pilihan absolut. Gagaplah mereka mengeja fakta yang bergerak dinamis, melingkar-lingkar, naik turun, maju ke belakang, mundur ke depan pada kehidupan nyata. Bukankah sejumput fakta mengandung ratusan, ribuan, jutaan unsur yang tidak selalu tampil kasat mata, namun sumbangsih eksistensinya begitu nyata?

Ideologi  Nuthul dan Surga yang Neraka

Pada konteks dan skala tertentu, eker-ekeran pilkada yang menguras energi tak ubahnya seperti siswa mengerjakan soal pilihan ganda, yang setiap pelaku sudah tersetting cara berpikir, sikap berpikir, sudut berpikir yang terpolarisasi oleh garis pemisah.

Ini bukan soal kita nyoblos siapa, tapi aroma dan nuansa perseteruan itu menutup berjuta-juta kemungkinan, misalnya bahwa pada calon A sebenarnya memiliki muatan yang dikandung B serta sebaliknya. Di dalam calon A ada kandungan B, dan di dalam calon B ada kandungan A. Pada sesuap nasi yang kita makan, mohon jangan melupakan beras, gabah, padi, petani, sawah, pupuk. Memang demikianlah hidup—saling mengandung dan dikandung.

Kita malah mencomot, memisahkan, mencabuti integritas dan keutuhan setiap unsur itu. Kita justru sibuk memasang label pada orang lain: islam moderat, islam fundamentalis, ekstrimis, syiah, liberal, salafi, NU garis keras, NU garis lembut dan seterusnya. Seakan-akan Tuhan menciptakan manusia sebagai pecahan-pecahan, kotak-kotak, kamar-kamar, sub-sub, ranting-ranting, gelembung-gelembung yang tidak usah saling mengenal dan berhubungan.

Ideologi kita adalah idelogi nuthul—bersegera dan secepat mungkin nyaut keuntungan satu dua langkah di depan, berjangka sangat pendek, sehingga potensi kehancuran yang sedang menanti kita di masa depan tidak tampak.

Ideologi nuthul dan cara berpikir model soal pilihan ganda menghasilkan surga bagi kita, tapi neraka bagi orang lain. Simulasinya adalah setiap pecahan menciptakan surga sendiri-sendiri, dan dengan demikian, menghadirkan neraka bagi pecahan-pecahan lain. Kita sedang menabung kemenangan dengan cara mengalahkan pihak lain. Menang kang ngasorake.

Semakin men-surga-kan pecahan yang kita huni, semakin sempurna neraka bagi pecahan lain. Surga yang berbanding terbalik. Apabila itu semua sedang terjadi, maka sejatinya kita sedang menabung neraka bersama. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Maka, pertanyaannya adalah menang jadi arang, kalah jadi abu adalah: a. pribahasa; b. pantun; c. kalimat mutiara; d. puisi.
Comments


EmoticonEmoticon