Mengenal Lebih Jauh Tentang Ghost Writer - HadaCircle

Jumat, April 07, 2017

Mengenal Lebih Jauh Tentang Ghost Writer

Mengenal Lebih Jauh Tentang Ghost Writer - Di dalam dunia tulis-menulis memang ada dua istilah yaitu pengarang (author) dan penulis (writer). Ada beberapa pendapat tentang perbedaan sebutan itu di antaranya pengarang diposisikan sebagai pemilik gagasan atau pemilik otoritas terhadap karyanya, sedangkan penulis lebih pada pekerja mekanis yang memiliki keterampilan menata kata-kata. Pengarang belum tentu penulis dan sebaliknya, penulis belum tentu seorang pengarang. Ada juga yang menggunakan istilah pengarang untuk padanan pembuat karya fiksi, sedangkan penulis untuk karya nonfiksi. Contohnya, penulis buku pelajaran tidak disebut pengarang.

The Ghost Writer

Satu lagi, ada yang menyebut pengarang bersifat self-oriented dan cenderung dengan egonya ia tidak mau berkarya atas desakan tren dan pasar. Contoh pengarang adalah J.K. Rowling yang berkarya berdasarkan kehendaknya. Pembeda dengan penulis adalah penulis bersifat market oriented yang menulis berdasarkan keinginan dan kebutuhan pasar atau masyarakat pembaca. Contoh tokoh penulis adalah William Zinsser, penulis buku legendaris On Writing Well. Jadi, ghost writer digolongkan sebagai penulis.

Profesi ghost writer (GW) sudah lama dikenal juga di Indonesia. Padanannya pada masa dulu disebut 'penulis siluman'. Istilah itu masih tercantum di KBBI. Penyebutan GW tersebab posisi penulis di sini sering tidak disebutkan meskipun beberapanya disebutkan. Pemilik gagasan tetap adalah pengarang, sedangkan GW hanya membantu menuliskan. GW membuat perjanjian khusus dengan si empunya gagasan alias pengarang dan menulis berdasarkan pemikiran, bahkan gaya tuturan pengarang.

Banyak sastrawan atau tokoh penulis yang melakoni profesi GW sejak dulu. Salah seorang tokoh yang terkenal sebagai spesialis biografi adalah Ramadhan Karta Hadimadja (ayahnya Gilang Ramadhan). Karya terkenalnya adalah biografi Soeharto.

Ada beberapa orang mempersepsikan GW ini pekerjaan terlarang. Mengapa? Karena mereka menganggap orang yang menerima pesanan membuatkan skripsi, tesis, disertasi, atau artikel opini di sebuah media massa sebagai GW. Itu bukan GW, melainkan penulis calo. GW tidak pernah menulis dengan pikirannya atau memproduksi tulisan seperti produk setengah jadi atau siap jadi yang dijual layaknya barang di minimarket--yang memerlukan tinggal memilih. GW bekerja dengan dasar profesionalitas membantu siapa pun yang punya gagasan, tetapi tidak mampu menuliskannya karena alasan waktu atau alasan memang tidak dapat menulis.

Mereka yang melakoni diri sebagai GW biasanya adalah wartawan senior atau penulis yang sudah berpengalaman. Ranah tulis-menulis yang dimasuki biasanya adalah ranah faksi, yaitu biografi, autobiografi, dan memoar. Selain itu, ada pula buku-buku pemikiran dalam bentuk nonfiksi yang di-GW-kan. Pengguna GW dapat saja perseorangan (artis, tokoh, profesional, dll.) atau institusi/lembaga.

Seperti disebutkan sebelumnya, umumnya GW bersepakat untuk menyembunyikan identitasnya di suatu karya. Namun, ada juga yang tetap disebutkan seperti halnya Mbak AE (Alberthiene Endah) yang namanya selalu muncul di kover buku. Penyebutan nama GW ataupun profesi yang sejenis yaitu co-writer (CW) bergantung pada posisi tawar dengan klien penulisan. Terkadang karena nama GW juga sudah menjadi merek yang kuat dan menjual, malah klien meminta nama GW dicantumkan. Saya sendiri kadang melabeli diri saya sebagai editor untuk tetap mencantumkan kredit atas nama saya di suatu karya.

Pasar ghost writing memang menggiurkan dari nilainya ratusan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Ranah penulisan yang dimasuki juga sebenarnya bukan hanya buku. Sebagai contoh, saya pernah membantu seorang ayah untuk menuliskan sebuah surat berisikan nasihat kepada anaknya yang sedang kuliah di luar negeri. Ini juga pekerjaan GW. Saya juga pernah membantu membuatkan puisi ucapan ulang tahun untuk pacar seorang teman atas permintaannya. Ia membayar saya dengan sebatang cokelat "ratu perak". 

Herman Holtz, penulis kawakan yang berkiprah di bisnis jasa penulisan membenarkan hal itu bahwa penulis terkadang mendapatkan order yang remeh temeh. Holtz sendiri mengambil spesialisasi penyusunan proposal dan studi kelayakan bidang teknik. Holtz sering mendapatkan permintaan menulis yang remeh temeh, termasuk surat pribadi. Ia mengatakan sebagai penulis jasa harus fleksibel juga menerima pekerjaan sepanjang sang GW mampu melakukannya.

Jadi, ada GW yang memilih jalan generalis dan ada pula yang spesialis. Saya termasuk generalis karena dapat berada di wilayah fiksi, nonfiksi, dan faksi (gabungan fakta dan kisah). Dulu saya berpendapat bahwa GW tidak dapat berada di wilayah fiksi, tetapi seiring dengan pengalaman saya memenuhi permintaan klien akhirnya mendapat juga order menulis novel berbasis kisah nyata sang tokoh. Novel begini kadang diistilahkan nonfiction novel. Namun, jika seseorang merasa memiliki ide novel, lalu meminta GW menuliskannya, ini yang tidak relevan dilakukan karena justru GW-lah yang akan berperan mengolah unsur novel (penokohan, perwatakan, latar, dan alur), sedangkan yang punya gagasan tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kecuali, cerita menarik berikut ini ....

Ada kisah menarik seorang Edward Stratemeyer. Tokoh ini disebut sebagai perintis book packager di Amerika. Book packager adalah satu jenis usaha writerpreneur yaitu penulis menghasilkan buku siap cetak untuk ditawarkan ke penerbit, lengkap dengan desain isi dan desain kover. Anda dapat melihat usaha seperti ini dijalankan oleh Miles & Kelly untuk buku-buku referensi anak. Nah, Pak Edward itu menulis novel serial terkenal berkisah tentang detektif wanita bernama Nancy Drew (kalau tidak salah, novel ini diterjemahkan juga oleh Gramedia).

Novel seri Nancy Drew mendapat sambutan hangat dan serialnya selalu ditunggu sehingga penerbit memberi target kepada Pak Edward. Alhasil, demi memenuhi target kuantitas, Pak Edward merekrut beberapa GW untuk membantunya. Hebatnya, semua GW itu dapat menulis Nancy Drew dengan gaya yang sama dan kualitas yang sama. Ini contoh GW di bidang fiksi dalam menulis novel serial. Ya, mungkin saja seseorang direkrut menjadi GW untuk melanjutkan novel serial, misalnya karena penulis aslinya sudah meninggal.

Pekerjaan GW erat kaitannya dengan kemampuan jurnalistik, terutama wawancara, termasuk investigasi dan riset. Beberapa film bertema GW sempat dirilis oleh Holywood, salah satunya yang berjudul Ghost Writer yang dibintangi Ewan McGregor dan Pierce Brosnan disutradarai Roman Polanski. Film GW itu menunjukkan betapa profesi GW juga berisiko jika ia malah terseret dalam investigasi dari konspirasi politik tingkat tinggi. Sang GW diceritakan terbunuh dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Tahun 2008 saya sempat membantu penulisan memoar seseorang yang menjadi konektor perdamaian RI-GAM. Si tokoh bertindak sebagai tokoh di belakang layar yang membantu keterhubungan antara pemerintah dan GAM. Ia memainkan posisi layaknya double agent, diutus pemerintah, tetapi juga dipercaya GAM karena banyak membantu.

Dalam penulisan, saya beberapa kali harus ke Aceh mewawancarai tokoh GAM dan tokoh masyarakat di sana. Sewaktu menulis untuk PT Badak NGL tentang sejarah Kota Bontang, saya juga harus tinggal dua bulan lebih di Bontang meskipun ada masa beberapa hari saya balik ke Bandung. Saya sempat juga diundang ke Freeport untuk menulis dan menempuh perjalanan beberapa jam, serta naik helikopter dari Timika ke Tembagapura--sebuah perjalanan luar biasa ke negeri di awan. Namun, pekerjaan gagal saya dapatkan karena suatu hal. Ya, itu risiko.

Itulah bagian dari kerja sebagai GW yang kadang harus melakukan perjalanan demi perjalananan jarak jauh. Perjalanan terjauh yang saya lakukan untuk menulis adalah ke Mekkah-Madinah karena hendak menuliskan buku tentang perjalanan spiritual umrah. Saya juga pernah melawat ke Kyoto Jepang untuk menulis tentang pengusaha onderdil otomotif Jepang di Prefektur Siga. Pokoknya, profesi GW memang sangat menantang dan menarik, bukan soal bayaran saja. Profesi ini menghubungkan kita dengan banyak orang penting atau memiliki kisah luar biasa di dalam hidupnya serta menakdirkan kita mengunjungi tempat-tempat luar biasa di muka bumi ini.

Proses menjadi GW memang bukan sim salabim atau semudah membalikkan taplak meja. Saya memulainya dari proses menjadi penulis level rendah yaitu penulis artikel opini di koran dan tabloid lokal. Lalu, menanjak sebagai penulis buku dan editor buku. Saya baru benar-benar menjadi GW ketika menuliskan memoar seorang dokter TNI yang pernah menjadi direktur RSCM.

Itu terjadi sekira tahun 2000 setelah saya melakoni pekerjaan sebagai penulis-editor selama enam tahun. Tantangan profesi ini adalah pengetahuan komprehensif tentang dunia tulis-menulis sekaligus ilmu penerbitan karena klien umumnya akan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak mereka pahami soal penerbitan. GW harus siap dengan manajemen penerbitan seperti yang sederhana, yaitu draf perjanjian kerja sama (bukan MOU), surat penawaran atau proposal, standar tarif jasa,  dan juga bahan presentasi kepada klien.

Umumnya GW bekerja sendiri, tetapi ada juga yang membentuk tim dan perusahaan. Selain terkadang persoalan jarak, tantangan yang harus ditaklukkan juga soal tenggat (deadline). Pekerjaan GW kadang menyita waktu karena sulitnya mencari celah mewawancarai tokoh yang hendak ditulis, sulitnya mencari data-data, dan juga banyaknya permintaan perubahan yang dilakukan klien.

Satu hal yang harus dipahami para GW--dan semestinya para GW sudah mafhum--bahwa 'buku' adalah produk intelektual yang memiliki daya untuk mengenalkan pikiran seseorang, memopulerkan sosok seseorang, dan juga menguatkan pemosisian seseorang dalam bidang tertentu. Karena itu, pekerjaan sebagai GW untuk buku tidak akan pernah habis, bahkan pasar ini terbuka luas di Indonesia, baik lokal maupun nasional, bahkan internasional seperti yang telah saya alami. Saya ibaratkan masih banyak tokoh luar biasa atau perusahaan/lembaga luar biasa yang sama sekali tidak memiliki 'buku sejarah' mereka, padahal kiprah mereka terkadang sudah mencapai level internasional.

Seorang GW juga jangan lupa untuk menghasilkan karya buku sendiri atau karya tulis lainnya karena itu merupakan portofolionya. Ya lucu saja ketika seseorang menawarkan diri sebagai GW, tetapi ketika ditanya "sudah berapa karyanya?", jawabnya "baru tiga buku". Ketika menjadi GW kali pertama, saya sudah menulis puluhan buku dan ratusan artikel.  Hal sama juga terjadi pada co-writer (CW) yang diposisikan sebagai penulis pendamping bagi seorang tokoh ataupun pengarang. Portofolionya haruslah meyakinkan.

Saya beri tahukan bahwa sebuah proyek penulisan jasa di Indonesia sudah menyentuh angka ratusan juta, bahkan menyentuh miliar rupiah, terutama jika bersentuhan dengan perusahan-perusahaan multinasional atau BUMN. Ada paket pekerjaan penulisan, penerbitan, dan pencetakan, lalu ada pula paket hanya penulisan. Paket penulisan dapat dihargai secara "gelondongan" per proyek atau per halaman. Per halaman pekerjaan GW dapat mulai dari Rp100.000,00. Tentulah di sini reputasi seorang GW yang "bermain" dalam soal tarif pekerjaan. Apakah ada GW yang masih dibayar puluhan ribu per halaman, ya tentu saja ada karena didasarkan pada hasil dan pengalaman.

Saat ini, produksi tulisan makin terjadi secara besar-besaran, apalagi karena didorong oleh teknologi digital. Perseorangan atau lembaga sama-sama memerlukan produk tulisan untuk kepentingan mereka. Karena itu, posisi GW menjadi sangat membantu dan menjadi solusi buat mereka. Belum ada riset tentang berapa sebenarnya pasar tulis-menulis ini di Indonesia. Pasar ini juga dapat dikembangkan di daerah-daerah karena di setiap daerah ada tokoh, ada perusahaan, dan ada pula pemerintah daerah yang pasti memerlukan jasa seorang GW ataupun CW.

Bagaimana duka menjadi GW? Singkat saja ketika hasil kerja tidak dibayar. Hehehe.

***

Di Hotel Lumire, saya dan mitra sekantor bertemu dengan seorang pejabat dari Kemenhan. Urusannya masih seputar buku. Setengah jam mengobrol dan sang pejabat berpamitan pulang, datang seorang penulis profesional dari Bogor. Ia memang ada janji berjumpa saya. Namanya sudah tidak asing di jagat maya. Ia Yusran Darmawan yang juga melakoni diri sebagai GW. Kami berbincang soal pekerjaan menulis sampai juga hal yang menyerempet-nyerempet politik. Saya dan Bang Yusran mulai intens bertukar pengalaman.

Banyak GW yang menjadi teman saya dan memang dalam benak saya, kami ini bersaudara tanpa perlu meributkan persaingan. Rezeki GW yang satu dan GW yang lain sudah diatur sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Ada GW yang menjadi guru saya yang saya panggil Bang Semch (Syamsuddin Ch. Haesy). Pekerjaan penulisan jasa Bang Semch dengan tim Akarpadi-nya semua pekerjaan kelas "dewa", hehehe. Saya begitu bangga karena pernah menjadi editor buku-buku Bang Semch yang pernah menjadi Direktur TPI dan PU-Pemred Jurnal Nasional ini, di antaranya berjudul Platinum Track dan Indigostar.

GW lain yang saya kenal baik adalah Anang Y.B. yang mengelola situs GhostWriterIndonesia[dot]com. Ada juga Mas Dodi Mawardi yang pernah menjadi CW Bob Sadino. Ada Agung Widyatmoko yang sempat mampir ke kantor Institut Penulis Indonesia hingga berbincang banyak soal pekerjaannya dalam mengelola web perusahaan-perusahaan besar. Agung berada dalam ranah GW digital dalam istilah saya. Di Timur, ada Daeng Bachtiar Adnan Kusuma (BAK) yang kini menjadi sekjen Penpro (Asosiasi Penulis Profesional Indonesia). BAK menggarap potensi lokal di daerahnya sehingga hampir semua tokoh dan pejabat jaringan Makassar ditulis olehnya. Di level birokrat, ada nama Adrinal Tanjung yang kini berkarier di Kemenpan RB. Meski seorang birokrat, ia juga melakoni diri sebagai penulis jasa. Ada juga GW di Solo yang dulu pernah saya rekrut untuk penerbit TS sebagai editor, namanya Fachmy Casofa. Ia pernah menggarap sendirian serial buku Eyang Habibie, it's awesome!

Siapa lagi? Coba saya ingat-ingat .... Oh ya, ada Agung Purwandono (Agung PW) yang kini menjadi pemred KR[dot]com (lini digital Kedaulatan Rakyat). Tapi, memang di Penpro, para pelaku writerpreneur ini banyak. Semuanya sudah unjuk gigi dan unjuk gigih dalam berkarya.

Ya, kalau mau bertanya dan ngobrol-ngobrol tentang GW ataupun writerpreneurship, boleh mampir ke Institut Penulis Indonesia di daerah Kramat Raya. Silakan masuk ke InstitutPenulis.id. Tempat ini memang rumah untuk penulis Indonesia dan "markas" sementara Asosiasi Penulis Profesional Indonesia. Di sini banyak "hantu penulisan" yang bergentayangan. Hii ....
Comments


EmoticonEmoticon