Penjelasan Said Aqil Siroj Tentang Jenggot Kurangi Kecerdasan - HadaCircle

27 April 2017

Penjelasan Said Aqil Siroj Tentang Jenggot Kurangi Kecerdasan

Penjelasan Said Aqil Siroj Tentang Jenggot Kurangi Kecerdasan - Setelah pernyataan kontroversialnya bahwa jenggot mengurangi kecerdasan ditanggapi berbagai pihak, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj muncul kembali melalui saluran youtube mengklarifikasi pernyatannya tersebut.

Said Aqil Siroj

Dalam tayangan berjudul ‘Penjelasan KH.Said Aqil Siradj Tentang Jenggot yang dipelintir Netisen’, Said memulai penjelasannya dengan memaparkan kedudukan jenggot dalam ajaran Islam. Menurut dia, memelihara jenggot termasuk salah satu sunnah Rasulullah SAW.

Konsekuensinya, kata dia, orang berjenggot harus benar berusaha mengikuti perilaku dan akhlak Rasulullah SAW. Sebab, lanjutnya, misi Rasulullah yang paling substansial adalah membangun akhlak dari sekedar membangun aksesoris fisik seperti berjenggot panjang.

“Berjenggot panjang, tapi akhlaknya jauh dari akhlak Islam, jauh dari akhlak mulia, dan jauh dari akhlaknya rasulullah SAW,” katanya dalam tayangan berdurasi 3:14 menit itu.

Said Aqil membenarkan bahwa orang yang berjenggot kecerdasannya akan berkurang. Karena, syaraf yang digunakan mendukung otak untuk membuat orang itu menjadi cerdas, ketarik habis oleh jenggot panjang. Namun meski demikian, menurut Said, orang yang jenggotnya panjang kercerdasannya akan turun ke hati.

“Meski orang jenggot panjang kurang cerdas, akan lari ke hati, artinya orang berjenggot panjang adalah simbol orang yang sudah arif, hatinya sudah bersih, yang sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, dan jabatan. Orang yang beramal ikhlas lillahi taala,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sambung Said, apabila melihat beberapa ulama-ulama sufi dan para wali. Maka, akan didapati mereka semua berjenggot. Artinya, kecerdasannya sudah pindah ke hati. Dia pun, mempersilahkan bagi kaum Muslimin yang ingin memelihara jenggot asal bisa mengikuti akhlak para ulama.

“Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau itu. Jenggot panjang silahkan, asal hatinya mulia, tidak ada rasa takabur, mencintai dunia, mencintai harta, kedudukan dan jabatan. Karena jenggot adalah simbol kearifan hatinya, kebersihan jiwanya,” beber Said.

Bagi yang belum mampu ke maqom tersebut, menurut Said, seyogyanya tidak perlu menghiasi penampilannya dengan jenggot panjang dan bergamis. Karena, kata Said, hal itu malah akan membuat orang itu sombong, merasa paling Islam, paling mengikuti sunnah Rosul. Padahal, hati dan akhlaknya jauh dari akhlakul karimah Rasulullah Saw.

“Silahkan berjenggot, tapi hatinya harus bersih, hatinya harus arif, hatinya harus mulia dengan akhlakul karimah seperti para auliya, para ulama,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, dalam sebuah rekaman audio di Youtube, Said Aqil menyebut jenggot mengurangi kecerdasan seseorang. Selain itu, Said Aqil juga menyebut orang yang berjenggot adalah orang yang goblok. Kemudian, semakin bertambah sesuai panjang jenggotnya.

“Tapi, kalau berjenggot emosinya saja yang meledak-ledak, geger otaknya. Karena syaraf untuk mensupport otak supaya cerdas, ketarik oleh jenggot itu. Semakin panjang, semakin goblok!” pungkas Said Aqil.
Comments


EmoticonEmoticon