Setiap Kita adalah Skeptis - HadaCircle

Jumat, April 07, 2017

Setiap Kita adalah Skeptis

Setiap Kita adalah Skeptis - Kalau seseorang tetap ngotot bahwa segala hal tak bisa dipercaya (skeptis) atau dengan kata lain bahwa dia telah menolak kenyataan segala kenyataan, pemikiran seperti ini sangat mudah dipahami dan klise.

Skeptis

Tak usah repot-repot, kita lihat saja pada realitas bahwa ternyata sikap skeptis itu sudah ditanamkan pada diri kita masing-masing. Atau dengan kata lain, sebenarnya menjadi seorang skeptisis itu tak susah, lantaran semua orang adalah skeptisis.

Memang tidak ada yang salah dari sikap semacam itu. Kalau Tuhan memang meniscayakan kita untuk meragukan berita, perkataan orang, aspek-aspek agama atau keimanan, hal demikian tidak bisa kita katakan sebagai suatu keburukan atau kesalahan. Dalam arti, bahwa sikap semacam itu memang ada baiknya, terutama untuk membuat seseorang semakin mantap dalam meyakini sesuatu.

Di sisi lain, saya rasa kita pun ditanamkan rasa ingin tahu atau penasaran. Kita ingin tahu tentang suatu hal sehingga dari apa yang kita ketahui itu kita kemudian mengenal sebuah istilah yaitu pengetahuan. Dan bukannya pengetahuan ini sangat berimplikasi terhadap sikap atau perilaku kita dalam menjalani kehidupan? Bukannya sebuah pengetahuan adalah fundamen bagi kita? Kita bisa lihat bagaimana sikap orang yang berpengetahuan dengan sikap orang yang tak berpengetahuan atau orang yang tak mau mencari pengetahuan.

Orang yang berpengetahuan akan terlihat "kokoh" atau mantap atau bisa dikatakan percaya diri, sedangkan orang yang tidak berpengetahuan akan terlihat tidak bisa mengendalikan diri. Dalam arti, pandangannya terlihat mengambang, kekurangan percaya diri, dan bahayanya, dia akan mudah dikuasai orang lain. Tapi di sini pun kita harus bedakan dengan orang yang bersikap sok. Saya juga menyadari bahwa ada orang sok yang tidak berpengetahuan; kepercayaan dirinya tinggi, egonya tinggi (karena faktor identitas, status sosial dlsbnya) tapi sebenarnya dia sedikit sekali dalam hal kualitas pengetahuan.

Jujur, saya sendiri mungkin bisa dikatakan dalam keadaan bingung belakangan ini menyaksikan fenomena-fenomena tertentu. Rasanya aneh kalau seseorang lebih percaya dengan kata-kata orang lain yang berkemungkinan besar salah daripada dia percaya kepada sesuatu yang memang pantas untuk dipercaya atau tidak diragukan kebenarannya. Orang beramai-ramai membenarkan apa yang dikatakan seseorang sampai begitu memuji-muji secara berlebihan. Dan rasanya kalau itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama, saya harus katakan bahwa ini sangatlah lucu. Masalahnya, apa kurang puas diapusi wong liyo?

Saya mengatakan begini karena memang saya sudah sedemikian skeptis dengan substansi-substansi keagamaan yang dikatakan guru, dosen, atau agamawan yang mereka katakan pada saya. Mereka mengatakan agama ini begini-begitu, tapi ketika saya membaca dan memahami agama dari sumbernya, persepsi terhadap agama tadi justru sangat berlainan dengan apa yang saya ketahui dari mereka.

Di sinilah saya kemudian sadar bahwa sudah seharusnya bagi kita (termasuk saya) untuk percaya kepada sesuatu yang benar-benar terpercaya. Apakah ada yang benar-benar bisa dipercaya di dunia ini, di kehidupan ini? Atau, apakah saya mesti skeptis terus menerus karena tidak menemukannya sehingga berarti saya tidak berpegangan pada kebenaran apa pun?

Apa iya saya harus begitu? Apalagi (seandainya) kalau Tuhan juga terkena sikap skeptis tadi sehingga nyatalah bahwa tidak ada sama sekali yang bisa dijadikan prinsip. Kalau itu terjadi, berarti manusia berada dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian, dong? Nilai baik-buruk dan benar-salah pun diragukan. Keberadaan diri diragukan. Atau, apa sikap keraguan itu sendiri pun diragukan? Cobalah bayangkan bagaimana absurdnya kalau manusia selalu bersikap seperti itu.

Dari hal itulah saya rasa kita mau tak mau memang harus berprinsip pada satu hal. Tak apa kalau seseorang mau berprinsip pada konklusi "bahwa aku meragukan apa pun". Masalahnya, akan jadi apa seandainya dia pun meragukan keraguannya sendiri? Tapi, sesuatu yang mesti dipercaya dan dijadikan prinsip ini pun pastinya adalah hal yang memang pantas atau wajib dijadikan pegangan. Masak semua yang ada di dunia ini dibilang nihilitas belaka? Nyatanya, dari sikap skeptis tadilah seseorang akan lebih kritis dan analitis dalam usaha pencariannya pada kebenaran. Apa jadinya kalau tidak ada kebenaran di dunia ini? Apa kita bisa membayangkannya?

Nyatanya, ketika membaca dalam kitab suci maupun pada buku-buku pemikiran atau pada realitas yang ada di depan mata, saya pun akhirnya disadarkan bahwa watak manusia memang selalu seperti itu; bertendensi untuk tidak percaya, cenderung ragu, menegasi informasi yang benar bahkan suatu kebenaran itu sendiri maupun Tuhan. Kan lucu kalau misalnya saya beritahukan kepada seseorang bahwa rumahnya sedang terbakar terus dia mengatakan "Ah, masak? Aku gak percaya." Yeeee, dikasih tahu yang bener kok malah tak percaya. Ya sudah, lihat sendiri sana.

Dari persoalan di ataslah saya akhirnya sadar bahwa sebenarnya kalau mau jadi seorang skeptisis itu mudah dan tak perlu belajar, karena kita, pada diri kita, adalah seorang skeptisis. Tapi saya merasa lucu kalau ada orang skeptisi yang tak mau mencari tahu, mengalisis sesuatu, tidak berpenilaian apa pun dan bahkan tidak meyakini suatu hal. Dia katakan itu sebagai kebahagian. Saya tak paham bagaimana bisa dia berenang di muara yang dikatakannya tak pernah pasti?

Ah, memang pikiran manusia itu selalu saja menolak, menegasikan sesuatu bahkan terhadap suatu kepastian. Selalu, selalu begitu.
Comments


EmoticonEmoticon