Satu Kesatuan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah - HadaCircle

30 April 2017

Satu Kesatuan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Satu Kesatuan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Din Syamsudin & Said Aqil Siroj

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi islam terbesar di Indonesia dengan mengantongi jumlah massa masing-masing puluhan juta. keduanya mempunyai pengalaman kesejarahan amat kaya. Dan proses kristalisasi sejarah semakin mengutuhkan NU dan Muhammadiyah sebagai dua sosok organisasi sosial keagamaan yang disegani. Yang pertama sering disebut oleh para pengamat sejarah sebagai sebuah organisasi yang mewakili golongan muslim tradisional, sedang yang kedua sering dikatakan sebagai perkumpulan yang mewakili muslim modernis. Kalau NU lahir pada 31 januari 1926, maka Muhammadiyah lahir lebih awal empat belas tahun, yaitu pada 18 nopember 1912.

Melihat kematangan usianya yang telah melebihi usia kemerdekaan Republik Indonesia, keduanya jelas memiliki pengalaman interaksi dengan lanskap sejarah keindonesiaan yang lengkap dan utuh. Keduanya merupakan organisasi tujuh zaman (istilah Mas Surya Paloh). Keduanya sama-sama pernah menjalani masa penjajahan Belanda, Pendudukan Jepag, Revolusi Kemerdekaan, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, Dan Sekarang Era Reformasi.

Dilihat dari sudut historitasnya, keduanya telah berperan cukup besar bagi kelangsungan eksistensi Indonesia, tentunya dengan mengecualikan fase-fase tertentu dimana langit-langit politik memang tak memberikan peluang bagi keduanya untuk tampil sebagai pemain garda depan. Dan dengan tipologi yang dimiliki masing-masing keduaya telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam pengisian nilai-nilai religius kedalam lokus keindonesiaan.

Pada optik itulah, koinsidensi historis NU-Muhammadiyah yang terjadi ini memiliki makna penting. Setelah melalui perjalanan panjang dengan segala suka dan dukanya, maka kebersamaan waktu antara sidang tanwir Muhammadiyah dan ulang tahun NU ke-76 inipun bisa dijadikan sebagai titik pijak untuk mengoptimalkan secara serius (bukan semu) era keduanya dalam konteks sosio-kultural. NU dan Muhammadiyah kini perlu untuk menfokuskan dan mengorientasikan diri pada kerja-kerja kultural secara lebih maksimal.

Optimalisasi kerja kultural itu dapat dilakukan sekurang-kurangnya dalam lima bentuk. Pertama, baik NU maupun Muhammdiyah secara kelembagaan tidak perlu lagi menempatkan politik sebagai kepentingan tujuan yang dominan. NU dengan koredornya “kembali ke Khithaah 1926” dan Muhamadiyah dengan slogannya “High politics” atau “politik luhur”, perlu semakin dimantapkan sebagai visidan cita pergerakan kultural, tanpa perlu terjebak pada pemenuhan kepentingan-kepentingan politik yang bersifat jangka pendek, tentatif, dan sesaat. Keduanya mesti mengkonsentrasikan gerakannya pada penggarapan masalah sosial keagamaan, yang beberapa waktu lalu sempat terhenti akibat gonjang-ganjing politik nasional yang telah memecah konsentrasi sebagian besar para petinggi kedua organisasi ini. Sekarang tiba saatnya keduanya untuk bisa bekerja sama dalam jalur-jalur pergerakan kultural.

BAB II

PEMBAHASAN

Titik Temu antara NU dan MUHAMMDIYAH

Muhammadiyah dan NU adalah organisasi bukan masalah fiqih. Hanya dalam konteks Indonesia Muhammadiyah dan NU adalah mewakili dua golongan besar ummat islam secara fiqih juga. Muhammadiyah mewakili kelompok “modernis”(begitu ilmuan menyebut), yang sebenarnya ada beberapa organisasi yang memiliki pandangan mirip seperti Persis(Persatuan Islam), Al-irsyad, Sumatra Tawalib. Sedang NU (Nahdhatul Ulama) mewakili Kelompok “tradisional”, selain Nahdhatul Wathan, Jami’atul Washliyah, Perit dan lain-lain.

Kedua organisasi memiliki berbagai pebedaaan pandangan. Dalam masyarakat perbedaan paling nyata adalah dalam berbagi masalah furu’ (cabang). Misalnya Muhammadiyah melarang (bahkan membid’ahkan) bacaan qunut diwaktu shubuh, sedang NU mensunnahkan , bahkan masuk dalam ab’ad yang kalau tidak dilakukan harus melakukan sujud sahwi, dan berbagai masalah lain. Alhadulillah perbedaan pandangan ini sudah tidak menjadikan pertentangan lagi, karena kedewasaan dan toleransi yang besar dari keduanya.

Pandangan antara keduanya memang berasal dari “madrasah”(school of thought)berbeda, yang sesungguhnya sudah sangat lama. Muhammadiyah (lahir 1912, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan) adalah lembaga yang lahir dari inspirasi pemikir-pemikir modern seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida (yang sangat rasional) sekaligus pemikir salaf (yang literalis) seperi Ibnu Taimiyyah, Muhamad Abdul Wahab. Wacana pemikran modern misalnya membuka pintu ijtihad kembali ke al-qur’an dan sunnah, tidak boleh taqlid, menghidupkan pemikiran islam.

Sedang wacana salaf adalah bebaskan takhayyul, bid’ah, dan khurafat (TBC). Tetapi dalam perkembangan yang dominan terutama di grass rootnya adalah wacana salaf. Sehingga Muhammadiyah sangat bersemangat dengan tema TBC. Yang menjadi masalah, banyak kategori TBC tersebut justru diamalkan dikalangan NU, bahkan di anggap sunnah. Karena sifatnya yang dinamis, praktis, dan rasional, Muhammdiyah diikuti kalangan terdidik dan masyarakat kota.

Disisi lain NU (Nahdhatul Ulama), didirikan antara lain oleh KH. Hasyim Asy’ari, 1926, lahir untuk menghidupkan tradisi bermadzhab, mengikuti ulama. sedikit banyak kelahiran Muhammadiyah memang memicu kelahiran NU. Beda dengan Muhammadiyah, pengaruh NU lebih nampak dipedesaan.

Sebenarnya KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari sama-sama pernah berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, ulama besar madzhab Syafi’I di Mekkah. ketika bergaung pemikiran Abduh dan muridnya Rasyid Ridha di Mesir, KH. Ahmad Dahlan sangat tertarik dan mengembangkan di Indonesia. sedangkan KH. Hsyim Asy’ari justru kritis terhadap pemikiran mereka.

Berikut secara ringkas perbedaan pandangan antara keduanya:

MASALAH

NU

MUHAMMADIYAH

Aqidah (Keduanya masih dalam bingkai Ahlu sunnah)

Mengikuti paham Asy’ariyah/Maturidiyah

Mengikuti paham salaf/wahabi* (Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Qoyyim)

Fiqih

Keharusan mengikuti salah satu madzhab

Langsung kepada Alqur’an dan Sunnah, dan Tarjih(memilih pendapat yang terkuat)

Tasawwuf/thariqah

Menerima tasawwuf, dan thariqah yang mu’tabar(diakui)

Menolak tasawwuf dan thariqah(tetapi banyak yang apresitif secara individual dan selektif, missal HAMKA dengan tasawwuf modernya)

Pemikiran yang dominan

Pemikir Klasik: Asy’ari, Al-Ghazali dan Nawawi, dan lain-lain

Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Qoyyim, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha

*Istilah wahabi diberikan oleh kelompok lain, meraka sendiri lebih menyukai disebut muwahhdin(orang yang mengesakan).

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah di seputar ibadah, sesungguhnya tidak masuk hal yang bersifat prinsip. Perbedaan itu misalnya, dalam jumlah raka’at dalam shalat taraweh, menggunakan qunut dan tidak, mengawali ushalli dalam mengawali shalat atau tidak, shalat hari raya dimasjid atau dilapangan, shalat jumat menggunakan adzan sekali atau dua kali, pakai kopiah atau tidak dan lain sebagainya.

diluar peribadan itu masih ada perbedaan lain, misalnya orang NU suka kenduri sedangkan orang Muhammadiyah tidak mau mengundang tetapi mau diundang. Kesediaan menghadiri undangan kenduri bagi Muhammadiyah lantas juga melahirkan kritik dari orang NU, misalnya orang Muhammadiyah mau diberi akan tetapi tidak mau memberi.

Perbedaan paham keagamaan tersebut menjadikan masyarakat terprakmentasi secara tajam. Akan tetapi , sebagaimana masyarakat desa pada umumya, masih memiliki lembaga yang mampu menyatukan di antara kelompok-kelompok itu. Misalya, peristiwa pernikahan, khitanan, kematian, kegiatan desa yang terkait dengan pemerintahan dan sejenisnya. Betapun tajamnya perbedaan itu tetapi dengan mudah dapat disatukan kembali.

Perbedaan pandangan itu, biasanya dilontarkan dalam bentuk sindiran dan bahkan juga ejekan. Sindiran atau ejekan kelompok lain, jika dimaksudkan sebagai cara dakwah untuk membangun kesadaran orang lain, sesungguhnya justru kontra produktif. Sindiran atau ejekan itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kebencian. Dan seseorang yang dibuat benci tidak akan mengikuti pikiran, apalagi jejak langkah orang yang melontarkan kritik dan ejekan itu. Oleh karena itu, saya kira perkembangan dakwah Muhammadiyah yang tidak terlalu berhasil dengan cepat sebagai salah satu sebabnya adalah cara dakwahnya dilakukan dengan melalui kritik-kritik itu.

Mengikuti konsep yang akhir-akhir ini yang dilontarkan oleh beberapa angota pimpinan pusat Muhammadiyah tentang dakwah kultural, mungkin itu tepat dijalankan. Saya berkeyakinan, andaikan Muhammadiyah menggunakan pendekatan kultural, dan tidak melakukan pendekatan menang kalah sebagaimana yang banyak dilakukan pada saat itu, maka paham ini tidak akan menemui eksistensi yang cukup kuat.

Tokoh perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya juga tidaklah terlalu mendasar apalagi NU sangat toleran terhadap perbedaan itu. Mereka sudah terbiasa dengan pandangan berbagai macam madzhab, sehingga apa yang diintrodusir oleh Muhammadiyah juga bukanlah hal yang baru. Jika ketika itu kegiatan dakwah dilakukan dengan hati-hati, tidak terasakan nuansa menang dan kalah, maka umat islam tidak akan terpolarisasi sebagaimana yang terjadi sekarang ini, yang ternyata tidak mudah untuk diutuhkan kembali.

Semangat dan gerakan dakwah menyampaikan risalah Rasulullah sebagaimana yang telah banyak dilakukan baik oleh orang NU maupun Muhammadiyah adalah merupakan misi yang sangat terpuji dan mulia. Akan tetapi, menurut Al-Qur’an dan juga Hadits Nabi hal itu harus dilakukan dengan penuh hikmah agar jangan sampai menimbulkan perasaan sakit hati yang kemudian berujung terjadi perpecahan. Selain itu, apapun dalih yang digunakan semestinya cara-cara dakwah tidak boleh mengganggu kesatuan dan persatuan umat islam. Umat islam harus tetap bersatu. Begitulah pesan al-qur’an dan tauladan Rasulullah SAW.

Persatuan Umat

Persatuan umat. Tidak ada yang boleh yang menghalangi niat ini. Insya Alloh perselisihan paham antara Muhammadiyah dan NU bisa di benahi. Sisa-sisa ketegangan bisa kendur. Keduanya akan akur. Umat bersatu. Tidak lagi saling menyalahkan dan merasa benar sendiri, sebab antara Muhammadiyah dan NU akarnya sama. Sejarahnya sama, satu saudara, tunggal guru, tunggal ilmu. Politiklah yang membuat mereka berseberangan. Politiklah yang menciptakan adu domba. Padahal keduanya sama-sama ormas Islam, sama-sama organisasi dakwah, sama-sama membina dan melayani umat.Tetapi oleh politik hal itu dibumbui ideologi. Muhammadiyah dan NU dijadikan ideologi. Satu sama lainnya di panas-panasi, dan terjadilah perpecahan, nanti pada akhirnya juga politiklah yang akan mempersatukan mereka.

Perpecahan itu diperburuk dengan perbedaan fiqih. Muhammadiyah pun makin jauh dari NU. Hubungan bermasyarakat kadang ditemukan ganjalan. Akibatnya umat Islam menyimpan rasa tidak suka antar sesamanya dan potensi konflik tumbuh. Pengisian jabatan-jabatan publik juga terpengaruh, sehingga pemerintahan tidak bisa menegakkan keadilan dengan sepenuhnya. Agama, rakyat, bangsa dan negara pula menjadi korban.

Perpecahan tercipta “Tembok Berlin” di bangun untuk memisahkan Muhammadiyah dan NU. Tembok itu bukanlah batu ataupun kayu, tapi tembok paham, tembok budaya, yang memisahkan hati kedua kaum muslimin itu.

Perbedaan Muhammadiyah dan NU pun sudah pernah terjadi di dalam tubuh Walisongo lima ratusan tahun lalu, antara kelompok pro adat, dan yang kontra. Antara dua sahabat karib yang menjadi saudara angkat: Sunan Bonang dan Sunan Giri. Hanya beda cara dakwah, bukan beda Islam. Dan kita mengambil hikmah dari semua itu.

Semoga saja Muhammadiyah dan NU bisa semakin berdekatan dan bisa sama-sama menyamakan gagasan-gagasan terlebih untuk pembangunan umat, khususnya Indonesia.

Jika Muhammadiyah dan NU yang merupakan ormas Islam terbesar dan tertua bisa bersatu, bisa menjadi teladan persatuan maka ormas-ormas yang berdiri belakangan, insya Alloh akan mengikuti dan menirunya. Namun jika tidak maka ormas-ormas baru akan lebih parah lagi.

MUI berusaha mengayomi dan menghubungkan ormas-ormas itu menjadi wakil umat. Tugas itu akan lebih ringan jika banyak dukungan dari orang-orang yang menginginkan persatuan Islam.

Kalau persatuan tercipta maka Khulafaur Rasyidin ke-5 bisa berdiri. Islam akan jaya.

Akan tetapi, NU tidak boleh berbangga hati dengan hal ini. Tidak boleh merasa menang. Hal ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah sebuah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan.

Ini adalah berita besar, yang bisa mengubah dan menggugah warga Muhammadiyah sekaligus NU, yang berjumlah ratusan juta orang itu, untuk bersatu dan bersama-sama merancang masa depan negeri ini.

Metamorfosis Muhammadiyah

Kitab fiqih Muhammadiyah 1924 yang dikarang dan diterbitkan oleh Bagian Taman Pustaka Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1924 sesungguhnya bukan hanya warisan berharga bagi kaum Muhammadiyah saja, melainkan juga bagi NU. Kitab itu juga kitabnya orang NU. Isinya sama dengan kitab-kitab pesantren yang banyak diajarkan dalam dunia NU. Masalahnya hanyalah satu hal, bahwa di tahun 1924 itu, NU belum lahir. NU lahir tahun 1926. Dua tahun setelah kitab itu terbit. Dan hingga hari ini, isi ajaran fiqih yang di ajarkan kitab itu masih terpelihara sebagai amalan orang NU. Amalan itu pula telah turun-menurun sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu di perairan Nusantara, yaitu Fiqih mazhab Syafi’i.

Jadi, walaupun NU belum lahir, namun ulama-ulama pesantren yang kemudian mendirikan NU itu tiap harinya mengamalkan ajaran fiqih sebagaimana yang ada di dalam Kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 itu. Artinya, di masa awal berdirinya, Muhammadiyah itu adalah NU, fiqihnya menggunakan mazhab Syafi’i yang sama dengan NU. Mengapa demikian ? sebab, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, yaitu menyampaikan ajaran Islam yang sudah ada kala itu di Kesultanan Yogyakarta yang menganut mazhab Syafi’i, bukan mengarang ajarannya sendiri dari nol. Dakwah Muhammadiyah itu untuk menghalau kristenisasi yang didukung penjajah Belanda, sekaligus untuk memurnikan tauhid umat.

Kiai Dahlan sendiri mendapatkan ilmunya dari ulama-ulama yang sama tempat kiai-kiai NU menimba ilmu. Satu guru satu ilmu, bahkan satu keluarga. Kiai Dahlan Muhammadiyah dan Kiai Hasyim NU adalah sama-sama keturunan Sunan Giri. Sunan Giri adalah anak Maulana Ishaq yang nasabnya sampai ke Siti Fatimah binti Rasulullah. Maulana ishaq kemudian mengajar di Pasai Aceh, pusatnya pengembangan Islam Nusantara ketika itu, yang pengaruhnya sampai ke Sumatra Barat, di mana kaum Padri kelak bermukim. Jadi, sesungguhnya ulama Nusantara ini memiliki jaringan yang sangat kuat, satu guru, satu ilmu, dan satu nasab. Mereka bermazhab Syafi’i. Mereka juga berhaluan Ahlus Sunnah wal jamaah, sebagaimana yang di anut oleh negara adidaya muslim kala itu yaitu Kesultanan Turki Usmani, yang dinastinya telah berjaya lebih dari 600 tahun.

Kiai Dahlan dan warga Muhammadiyah ketika itu mengamalkan qunut, dan tarawih 20 rakaat. Mereka azan jumat dua kali, dan takbiran tiga kali. Mereka shalat ‘Id di masjid bukan di lapangan. Pendek kata, kiai Dahlan dan warga Muhammadiyah kala itu adalah bagian umat yang sama dengan umat Islam yang sekarang diklaim sebagai NU. Amalan itu bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah dikaji dan dijalankan selama seribu tahun lebih hingga masa kenabian. Kapan Muhammadiyah berubah ? Kenapa berubah ? jawabannya adalah bertahap. Ketika kiai Dahlan membuka Muhammadiyah untuk pengembangan paham global, dengan cara mengajarkan huruf latin dan bahasa Belanda, sehingga generasi berikutnya makin akrab dengan “Pandora” yang tengah disiapkan oleh penjajah Belanda maka bibit-bibit perubahan masuk. Akibat dari sikap membuka diri itu maka benteng tradisi Muhammadiyah otomatis lemah. Ibarat perang dengan sepenuh tawakal, menyerang dengan tanpa menyusun pertahanan. Adat istiadat pun akhirnya dapat di hilangkan, dan setelah kulit luar itu terkelupas maka bagian isi pun bisa dicampuri dan kemudian bisa diubah. Fiqih mazhab Syafi’i pun lama-lama tanggal.

Pada tahun 1925, dua tahun sepeninggal Kiai Dahlan, Muhammadiyah di nilai telah berubah dengan mulai diterimanya paham Wahhabi yang anti-amalan pesantren. Hal itu seiring dengan mengorbitnya Ibnu Saud di pusat Islam dunia, yaitu Makkah dan Madinah, yang hendak didirikan kekhalifahan Wahhabi. Momentum yang menandai perubahan ini adalah pelaksanaan shalat ‘Id di lapangan tahun 1925, yang berbeda dari ajaran mazhab Syafi’i. Penerimaan Muhammadiyah terhadap Wahhabi itu memancing kalangan pesantren untuk mendirikan NU tahun 1926, dan membentengi para santri dan rayuan paham-paham baru, termasuk Wahhabi dan Komunisme. NU pun merangkul sebanyak mungkin adat istiadat mereka untuk di-Islamkan. Dan terciptalah benteng tradisi yang sangat kokoh hingga kini.

Sebaliknya, Muhammadiyah pun tidak tinggal diam. Mereka membuat benteng baru, yaitu benteng keterbukaan berlabel Islam tanpa mazhab, dan berupaya menjebol benteng tradisi umat Islam seluruhnya dengan slogan anti-takhayul, anti bid’ah, dan anti khurafat (TBC). Dengan benteng baru anti-TBC itulah orang-orang NU merasa dipersalahkan. Namun untunglah, ada Kiai Mansur. Berkat jasa beliau yang mendirikan Majelis Tarjih tahun 1927, Muhammadiyah tidak terseret ke dalam arus deras Wahhabi global dukungan sekutu. Muhammadiyah tidak mau memberikan cek kosong kepada Wahhabi. Jadi, Muhammadiyah dan NU sama-sama membuat tembok benteng, sehingga “Tembok Berlin” itu sesungguhnya terdiri dari dua lapisan yang sama-sama kuat.

Kalau pun terjadi benturan, benturan itu sesungguhnya terjadi antara pembela fatwa lama Muhammadiyah dengan pembela fatwa baru Muhammadiyah yang menginginkan pembaruan, yang keduanya itu adalah paham dari Muhammadiyah sendiri. Jadi, benturan paham itu sama sekali bukan dengan NU, misalnya sebab, buku ini tidak memakai sumber-sumber dari kitab fiqih NU. Walaupun makin lama perubahan dari kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 itu arahnya makin jauh berbeda dari fiqih yang berlaku di kalangan NU. Benturan itu pun suara dari dalam.

Dalam perjalanan satu abadnya, Muhammadiyah melalui beberapa masa yang khas, di mana di masa-masa itulah material benteng-benteng baru mulai di pasang, dan mulailah bermetamorfosis. Mertamorfosis ormas yang memiliki akar sejarah hingga Perang Dunia I ini setidaknya dapat di bagi menjadi empat masa, yaitu :

1). Masa Syafi’i( tahun 1912 – tahun 1925 )

2 . Masa Pembaruan Syafi’i-Wahhabi ( tahun 1925 – tahun 1967)

3). Masa HPT ( Himpunan Putusan Tarjih ) tahun 1967 – tahun 1995 s

4). Masa Pembaruan HPT-Globalisasi( tahun 1995 – sekarang ).

Apabila kita sudah mengetahui perbedaan antara NU dan Muhammadiyah tentunya kita bisa mengetahui persamaannya. dari perbedaan dan persamaan itulah kita bisa menentukan titik temu. Dari titik temu itulah menjadikan persatuan umat. Keduanya yang merupakan organisasi islam terbesardi Indonesia.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah diulas diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa pandangan antara K.H. Hasyim Asy’ari dengan K.H. Ahmad Dahlan yang keduaya merupakan pendiri organisasi islam terbesar yang ada di Indonesia memang berasal dari “madrasah” (school of thought) berbeda yang sesungguhnya terjadi sangat lama.

Muhammadiyah (lahir 1912, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan) adalah lembaga yang lahir dari inspirasi pemikir-pemikir modern seperti Jamaludin Al-afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha (yang sangat rasional) sekaligus pemikir salaf(yang literalis) seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab. Wacana pemikiran modern misalnyamembuka pintu ijtihad , kembai kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tidak boleh ijtihad, menghidupkan kembali pemikiran islam.

Disisi lain, NU (Nahdhatul Ulama), didirikan antara lain oleh KH. Hasyim Asy’ari, 1926, lahir untuk menghidupkan tradisi bermadzhab, mengikuti ulama. sedikit banyak kelahiran Muhammadiyah memang memicu kelahiran NU. Beda dengan Muhammadiyah, pengaruh NU lebih nampak dipedesaan.

Sebenarnya KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari sama-sama pernah berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, ulama besar madzhab Syafi’I di Mekkah. ketika bergaung pemikiran Abduh dan muridnya Rasyid Ridha di Mesir, KH. Ahmad Dahlan sangat tertarik dan mengembangkan di Indonesia. sedangkan KH. Hsyim Asy’ari justru kritis terhadap pemikiran mereka.

Kedua organisasi tersebut memiliki berbagai perbedaan pandangan. dalam masyarakat perbedaan yang nyata adalah dalam berbagi masalah furu’ (cabang). Misalnya Muhammadiyah melarang (bahkan membid’ahkan) bacaan qunut diwaktu shubuh, sedang NU mensunnahkan , bahkan masuk dalam ab’ad yang kalau tidak dilakukan harus melakukan sujud sahwi, dan berbagai masalah lain. Alhamdulilah perbedaan pandangan ini sudah tidak menjadikan petrentangan lagi karena kedewasaan dan adanya toleransi yang besar dari keduanya.

Kritik dan Saran

Penulis merasa bersyukur atas terselesainya ulasan ini walaupun terdapat banyak kekurangan yang masih harus dibenahi kembali dalam ulasan ini. dan penulis menerima kritik dan saran membangun dari pihak pembaca demi kesempurnaan ulasan ini yang tentunya bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Daftar pustaka :

Mochammad Ali Shodiqin (Pemerhati Perkembangan Islam di Nusantara).
Abdul haris Al-Haddad (Titik Temu NU dan Muhammadiyah).
Comments


EmoticonEmoticon