NU & Muhammadiyah Tegas Tolak PKS Campurkan Gerakan Amal dan Politik - HadaCircle

30 April 2017

NU & Muhammadiyah Tegas Tolak PKS Campurkan Gerakan Amal dan Politik

NU & Muhammadiyah Tegas Tolak PKS Campurkan Gerakan Amal dan Politik - Muhammadiyah dan NU secara tegas menolak masuknya PKS ke dalam tubuh Muhammadiyah dan NU. Adalah Din Syamsuddin yang Ketua Umum PP Muhammadiyah menolak ajakan aliansi PKS yang secara bersama-sama membangun bangsa dengan memasukkan Muhammadiyah sebagai bagian dari PKS. Muhammadiyah sudah lama ada, sebagaimana NU, yang kembali ke Khittah dan tak mau mencampuradukkan antara politik dan agama sejak zaman Belanda. Makanya NU dan Muhammadiyah tetap hidup sampai sekarang.

NU-Muhammadiyah

Sejarah Masyumi membuktikannya ketika NU, Persis, Muhammadiyah bersatu ke dalam gerbong besar Masyumi dan memerintah seumur jagung. NU dan Muhammadiyah belajar dari kasus Masyumi itu. Mereka sadar bahwa NU, Muhammadiyah bukanlah gerakan politik praktis, namun langkah-langkah praktek politiknya melebihi partai politik. Kader NU dan Muhammadiyah berterbaran di semua partai politik dan menguasai jagad kekuasaan di Indonesia. Kualitas politik NU dan Muhammadiyah tak perlu diragukan lagi.

Amal usaha dan kontribusi NU dan Muhammadiyah sungguh tak bisa dihitung. Sekolah dari TK sampai universitas, klinik sampai rumah sakit, lembaga pendidikan, pesantren, yatim piatu, adalah bukti kontribusi dua organisasi keren ini. Maka jadilah NU dan Muhammadiyah sebagai dua pilar kekuatan bangsa yang menciptakan Islam menjadi rahmatan lilalamin. Islam moderat spektakuler contoh Islam kaffah untuk dunia.

Bung Karno dan Soeharto juga Susilo Bambang Yudhoyono, juga Habibie, juga Gus Dur, juga Megawati, juga saya adalah produk kehebatan NU dan Muhammadiyah. Mereka mewakili kearifan lokal, budaya, agama dan Islam yang diajarkan oleh NU dan Muhammadiyah. Mereka memimpin bangsa dengan benar kecuali yang paling lemah SBY - namun masih tetap Pancasila, lumayanlah!

Tiba-tiba partai seperti PAN dan PKB akan memeluk Muhammadiyah dan NU dan menarik mereka ke gerbong partai. Pertama Amien Rais...hasilnya jeblok karena Muhammadiyah menjaga jarak dengan partai sejak zaman Belanda. Muhaimin Iskandar pun gagal membawa NU identik dengan PKB. NU sadar bahwa langkah memeluk partai akan mengurangi kebesaran NU yang telah dibangun selama ini.
Kini, PKS yang jelas partai politik mencoba masuk ke kandang Muhammadiyah dan merayu menawarkan kerjasama. Ini suatu tindakan konyol Anis Matta yang mantan orang Muhammadiyah. Anis mestinya ingat Muhammadiyah tidak bisa dibawa-bawa ke ranah politik. Begitu menjadi pengurus partai, seorang kader Muhammadiyah keluar dari Muhammadiyah. Amien Rais pun begitu dan gagal membawa gerbong Muhammadiyah ke dalam PAN.

Nah, yang dilakukan Anis Matta lebih konyol. Anis Matta yang mantan orang Muhammadiyah merayu Kiai Langitan dan warga NU alias Nahdliyin, jelas NU menolak mentah-mentah tawaran aliansi PKS yang sudah disusupi oleh HTI. PKS mengeras dan berideologi radikal mirip HTI.

Anis Matta diberi lajaran oleh Muhammadiyah dan NU. Muhammadiyah dan NU menolak aliansi dan tak member dukungan kepada PKS. Apalagi PKS sudah membangun jaringan dukungan di akar rumput dengan HTI. Lebih parah lagi PKS terbelit korupsi dan tindakan asusila seperti kasus Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah dan kader penonton video porno.

Sudah tepat dan tegas Muhammadiyah dan NU memiliki garis membedakan partai dan agama Islam. Partai adalah partai organisasi amal NU dan Muhammadiyah dan gerakan Islamnya sudah tak butuh partai politik. Terlebih lagi NU dan Muhammadiyah tahu belakangan PKS mencampuraduk agama Islam dengan PKS. Juga aliansi kader PKS dan HTI begitu nyata.  Jelas NU dan Muhammadiyah yang ahlussunnah waljamaah itu menolak politisasi agama dan partai politik ala PKS.
Comments


EmoticonEmoticon