Fokus Pembahasan Pertemuan Puncak G7 - HadaCircle

Jumat, Mei 26, 2017

Fokus Pembahasan Pertemuan Puncak G7

Fokus Pembahasan Pertemuan Puncak G7 - Dalam Tinjauan kali ini, Profesor Fumiaki Kubo dari Fakultas Hukum Universitas Tokyo akan membahas poin-poin penting dalam pertemuan puncak negara-negara maju atau G7 yang akan berlangsung.

G7
Kota Manchester di Inggris mengalami serangan teroris skala besar pada Senin (22/05/2017). Jadi, insiden tersebut kemungkinan akan menjadi perhatian dalam agenda pertemuan puncak. Perhatiannya adalah terfokus pada pesan seperti apa yang akan disampaikan oleh para pemimpin G7 terkait ekstremis Islamis. Pembahasan terkait masalah migran dan pengungsi dari negara-negara Muslim juga akan menjadi poin penting.

Presiden AS Donald Trump mungkin berharap untuk mengirimkan pesan yang kuat, tetapi para pemimpin Eropa termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel, mungkin ingin menggunakan ungkapan yang lebih moderat.

Pemimpin Jepang dan Amerika Serikat dijadwalkan akan bertemu di sela-sela KTT. PM Shinzo Abe dan Presiden Trump diperkirakan akan membahas terutama tentang tekanan isu Korea Utara yang mendesak. Menurut Kubo, yang patut dicermati adalah pembahasan kedua pemimpin tersebut tentang bagaimana upaya mereka menangani Cina. Jepang mungkin berharap Trump akan memberi tekanan lebih terhadap Cina untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah Korea Utara. Tetapi Kubo mengkhawatirkan hal tersebut bisa mempengaruhi isu-isu lainnya seperti soal Laut Cina Selatan dan Taiwan.

Ada juga kemungkinan bahwa AS akan lebih mendekat ke Cina guna mencari kerja sama, dan hal itu mungkin akan mengganggu persekutuan Jepang-AS. Misalnya, AS untuk sementara waktu menghentikan operasi kebebasan pelayaran di Laut Cina Selatan. Ada sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa AS akan mengekspor gas alam ke Cina dengan persyaratan yang lebih baik ketimbang untuk Jepang. Kubo berharap Abe akan mendesak Trump untuk tidak terlalu tenggang hati terkait isu Korea Utara dan menerapkan kebijakan yang tidak mengganggu kepentingan Jepang dan negara-negara terkait lainnya.

Fokus perhatian lainnya dalam KTT G7 kali ini adalah deklarasi yang akan dikeluarkan para pemimpin. Mereka pernah memasukkan tentang komitmen perlawanan terhadap proteksionisme dalam deklarasi sebelumnya. Tapi kali ini, AS mungkin akan menolak untuk menggunakan frasa tersebut. Patut dicermati apakah kalimat tersebut akan terkandung dalam deklarasi atau tidak, dan jika tidak maka ungkapan seperti apa yang akan digunakan. Suasana pertemuan puncak G7 mungkin akan berubah secara signifikan jika kalimat tersebut dihapus sepenuhnya.

Kelompok negara maju G8 dikurangi menjadi G7 setelah Rusia dikeluarkan pada tahun 2014. Sejak saat itu, G7 semakin menjadi pertemuan negara-negara yang berbagi nilai yang sama seperti kebebasan, demokrasi dan tatanan internasional. Menurut Kubo, sangat penting bagi Presiden AS Trump untuk memahami pentingnya G7 sebagai tempat bagi negara-negara anggotanya untuk bersatu dan berperilaku sepatutnya.
Comments


EmoticonEmoticon