Kunjungan Luar Negeri Pertama Trump - HadaCircle

Kamis, Mei 25, 2017

Kunjungan Luar Negeri Pertama Trump

Kunjungan Luar Negeri Pertama Trump - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunjungi Israel dan kawasan Palestina pada hari Senin (22/05/2017) dan Selasa dalam kunjungan luar negeri pertamanya. Dalam Tinjauan hari ini, kami akan meninjau prospek perdamaian Timur Tengah melalui wawancara dengan Profesor Emeritus Ryoji Tateyama dari Akademi Pertahanan Nasional Jepang.

Donald Trump

Presiden Trump mengadakan pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Otoritas Palestina Presiden Mahmoud Abbas, serta menekankan perlunya untuk mengupayakan perdamaian antara Israel dan Palestina.

Namun perundingan perdamaian telah terhenti selama hampir 4 tahun. Trump tidak menjelaskan sama sekali mengenai cara-cara bagaimana ia berencana melanjutkan perundingan atau meneruskan pembicaraan jika jadi diteruskan.

Sebelum tiba di Israel, Trump mengunjungi Arab Saudi dan menjelaskan bahwa dirinya berencana untuk menciptakan aliansi negara-negara untuk mengisolasi Iran. Israel semakin khawatir akan Iran turut campur dalam perang sipil di negara tetangganya, Suriah, serta menambah pengaruhnya.

Israel punya harapan besar terhadap normalisasi hubungannya dengan Arab Saudi serta negara-negara Teluk Arab lainnya, guna menangani Iran, sebagai "ancaman bersama." Israel merasa Iran telah menyokong organisasi-organisasi ekstremis serta tindakan-tindakan terornya. Jadi, ada peluang bahwa Israel dan negara-negara Arab dapat membentuk gerakan kesatuan yang sama.

Namun negara-negara Arab tidak dapat memperbaiki hubungannya degan Israel, kecuali jika kemajuan tercipta dalam proses perdamaian Israel-Palestina. Bagi negara-negara Arab, keberlanjutan kegiatan pemukiman Yahudi di Tepi Barat berarti pengurangan wilayah bagi kerabatnya warga Palestina. Kecuali Israel menghentikan kegiatan pemukiman itu, Prof. Tateyama memandang negara-negara Arab akan terus merasa tidak dapat menormalisasikan hubungannya dengan Israel.

Laporan media mengatakan Israel telah menyediakan informasi yang sangat rahasia, yang mana Trump dilaporkan telah membaginya dengan para pejabat Rusia. Namun Israel belum secara resmi berkomentar atas laporan itu.

Namun, Rusia punya hubungan amat kuat dengan Iran dan Suriah. Prof. Tateyama meyakini bahwa para pejabat intelejen Israel punya kekhawatiran kuat terhadap Trump. Prof. Tateyama tidak merasa hal itu akan menggiring pada penurunan signifikan dalam pembagian informasi antara Israel dan AS di masa depan. Namun Israel dapat ragu-ragu untuk menyediakan informasi sensitif bagi pemerintahan Trump, terutama bagi Gedung Putih.
Comments


EmoticonEmoticon