Kunjungan Pertama Trump ke Timur Tengah - HadaCircle

Jumat, Mei 19, 2017

Kunjungan Pertama Trump ke Timur Tengah

Kunjungan Pertama Trump ke Timur Tengah - Presiden AS Donald Trump dari hari Minggu (21/05/2017) akan mengunjungi Arab Saudi, Israel dan wilayah Palestina sebagai bagian dari lawatan luar negeri pertamanya sejak menjabat presiden.

Donald Trump

Tinjauan hari ini akan mendengarkan pemaparan Profesor Kazuo Takahashi dari Universitas Terbuka Jepang tentang pencapaian apa yang disasar Trump dalam lawatan Timur Tengahnya ini dan bagaimana negara-negara tuan rumah memandang kunjungannya.

Trump memilih Arab Saudi sebagai negara pertama yang akan dikunjungi dalam lawatan pertama ke luar negeri sebagai presiden. Menurut Profesor Takahashi, hal ini mengirimkan pesan kuat dan kemungkinan besar pesan yang tepat. Ini menunjukkan kepada dunia terkait tekadnya untuk menangani isu Timur Tengah yang dianggap secara luas sebagai isu paling sulit untuk dipecahkan, dan memperoleh apa yang disebutnya sebagai kesepakatan terakhir.

Dalam pandangan Profesor Kazuo, dibalik keputusan ini adalah perubahan dalam pemerintahan Trump. Selama kampanye pemilihannya, Trump menuduh Arab Saudi tidak membayar biaya perlindungan militer AS dan menuntut negara itu menanggung biayanya.

Namun setelah pelantikan dirinya, suara dari orang-orang seperti Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, Menteri Pertahanan Jim Mattis dan Penasehat Keamanan Nasional H.R. McMaster yang lebih mengambil pendekatan umum dalam urusan internasional, telah semakin meningkat, dan meyakinkan Trump bahwa AS harus terlihat akur dengan Arab Saudi.

Arab Saudi sendiri hampir pasti akan menyambut Trump dengan penghargaan tertinggi, karena terpilihnya Arab Saudi sebagai negara pertama dalam lawatan luar negeri pertama Trump ini sendiri merupakan kemenangan diplomatik bagi negara itu. Riyadh juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Washington, yang memburuk sejak kesepakatan nuklir multilateral pimpinan AS dengan Iran di bawah Presiden Barack Obama. Arab Saudi sepertinya mengincar skenario di mana Trump memberikan izin bagi penjualan persenjataan AS besar-besaran dan kedua negara secara bersama akan memuji aliansi mereka menghadapi Iran.

Israel yang menjadi negara kedua dalam lawatan ini, merasakan kekecewaan terhadap Trump. Trump menyuarakan dukungan bagi Israel dalam kampanye pemilu lalu, termasuk rencana memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, kota yang diklaim Israel sebagai ibu kotanya. Namun sejauh ini ia gagal mewujudkan janji-janjinya. Ia bahkan mengambil sikap keras terhadap Israel di tengah meningkatnya suara-suara dukungan bagi diplomasi tradisional di dalam pemerintahannya. Kita perlu melihat dengan seksama bagaimana reaksi Israel terhadap Trump.

Demikian Tinjauan hari ini, berisi pemaparan Profesor Kazuo Takahashi dari Universitas Terbuka Jepang.
Comments


EmoticonEmoticon