Menakar Arah Kebijakan Diplomatik Presiden Baru Korsel

Menakar Arah Kebijakan Diplomatik Presiden Baru Korsel - Ketika Korea Utara meluncurkan rudal balistik tahun lalu dan awal tahun ini, pemerintah Korea Selatan mempermasalahkan peluncuran tersebut dan tidak menyebutkan tentang dialog. Tetapi reaksi Korea Selatan berbeda menyusul peluncuran rudal hari Minggu (14/05/2017), tak lama setelah Presiden Moon Jae-in menjabat. Seoul mengkritik peluncuran tersebut tetapi juga mengindikasikan kemungkinan dialog di masa depan.

Presiden Baru Korsel


Dalam Tinjauan kali ini, Ken Jimbo, Profesor Madya di Fakultas Manajemen Kebijakan, Universitas Keio, memberikan komentarnya tentang pengaruh pelantikan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in atas isu-isu Korea Utara.

Jimbo mengatakan, yang menjadi karakteristik kebijakan diplomatik Moon Jae-in adalah mengupayakan dialog dengan Korea Utara. Itu adalah hal yang berbeda yang dilakukan pemimpin sebelumnya Park Geun-hye dan Lee Myung-bak. Pemerintahan Park dan Lee memprioritaskan tekanan terhadap Korea Utara untuk mengubah sikap dengan menggunakan pengaruh AS. Dalam kata lain, upaya dua presiden sebelumnya itu berpusat pada persekutuan dengan Amerika Serikat. Tetapi Moon menyebut hal itu sebagai keamanan yang palsu. Ia mengatakan keamanan yang asli lahir dari dialog.

Satu hal yang patut dicermati tentang pemerintahan Moon adalah bagaimana ia akan menyeimbangkan kerja sama pertahanan Korea Selatan dengan Jepang dan AS melalui kebijakan yang mengupayakan dialog bersama Korea Utara. Misalnya, Korea Utara bisa menekan Korea Selatan untuk membatalkan latihan militer bersama AS atau menghentikan pengerahan sistem pertahanan rudal mutakhir AS, THAAD. Jika Presiden Moon menghormati persekutuan Korea Selatan dengan AS dan menolak permintaan Korea Utara, ia bisa tetap mendorong kebijakan yang pro-dialog tanpa merusak persekutuan Korea Selatan dengan AS.

Tetapi ada kekhawatiran atas konsekuensi yang bisa didapat jika ia memprioritaskan dialog terbuka dengan Korea Utara. Presiden AS Donald Trump bertekad untuk menangani masalah Korea Utara dengan menggunakan tekanan militer dan pengaruh Cina terhadap perekonomian Korea Utara. Pemerintahan AS melakukan pekerjaan yang baik terkait tekanan militer, tetapi tidak berarti bahwa AS bersiap untuk perang. Sasaran akhirnya adalah memaksa Korea Utara untuk mengikuti saluran-saluran diplomatik. Namun pemerintahan Trump sepertinya belum memutuskan tentang apa yang harus dilakukan Korea Utara sebelum datang ke meja perundingan. Jika Presiden Moon memilih untuk mengupayakan kebijakan yang lebih menekankan dialog dalam situasi yang sekarang, maka hal itu akan membuat tekanan AS kepada Korea Utara menjadi kurang efektif.

Jepang dan Korea Selatan adalah mitra penting yang menghadapi masalah keamanan yang sama, yaitu Korea Utara. Pertemuan puncak antara Jepang, Cina dan Korea Selatan dijadwalkan akan berlangsung di Tokyo tahun ini. Penting bagi Jepang untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dan mengonfirmasikan kepada Presiden Moon tentang perlunya persekutuan dengan AS selaku mitra bersama Jepang dan Korea Selatan kata Ken Jimbo.

0 komentar

Posting Komentar