Menengok 100 Hari Pertama Trump

Menengok 100 Hari Pertama Trump - Dalam Tinjauan hari ini, Profesor Fumiaki Kubo dari Fakultas Hukum Universitas Tokyo, akan menjabarkan mengenai pencapaian dan tantangan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang baru melewati 100 hari pertamanya.

Donald J Trump

Pada awalnya, Trump mengeluarkan sejumlah perintah eksekutif yang memberikan kesan presiden tegas yang akan mencapai banyak target. Namun, pengadilan menghentikan larangan sementaranya akan pengunjung dari negara-negara mayoritas Muslim serta sebagian negara di Afrika Utara. Itu adalah perintah-perintah eksekutif yang kurang berbobot.

Jika kita harus menyebutkan pencapaiannya, itu adalah deklarasinya untuk meninggalkan kesepakatan perdagangan bebas Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan Senat AS yang memastikan pilihannya akan hakim Mahkamah Agung. Dalam hal tindakan yang diambil, pencapaian Trump adalah serangan rudalnya terhadap Suriah.

Ia telah mengalami berbagai kegagalan. Misalnya, Trump merasakan kekalahan ketika ia dipaksa menarik kembali rancangan undang-undang guna menghapuskan dan menggantikan Akta Perawatan Terjangkau, yang juga dikenal sebagai Obamacare. Terdapat pula keterlambatan besar atas penunjukan pejabat-pejabat penting. Tingkat dukungannya saat adalah ini sekitar 40 persen, yang diyakini Prof. Kubo adalah tingkat yang rendah dibandingkan presiden-presiden sebelumnya.

Pada sisi diplomatik, Trump menggunakan slogan "Utamakan Amerika" selama kampanye kepresidenannya guna mengutarakan niatnya untuk meletakkan prioritas pada kepentingan nasional. Ia sebelumnya menggambarkan NATO sebagai hal yang usang. Trump juga mengatakan bahwa AS tidak mampu membiayai pertahanan sekutu-sekutu seperti Jepang dan Korea Selatan, dan bahwa negara-negara itu harus mempertahankan diri sendiri.

Tetapi, Trump telah mengubah pendiriannya setelah menjadi presiden, dengan mengatakan bahwa NATO tidak usang dan mengirimkan pesan pentingnya hubungan AS dengan sekutu-sekutunya. Trump juga meletakkan tekanan kuat atas Korea Utara. Ini dapat digambarkan sebagai perubahan besar. Ini bisa dilihat sebagai kembalinya AS ke pendirian diplomatik tradisionalnya yaitu internasionalisme dari sebelumnya isolasionisme. Namun tidak jelas seberapa lama perubahan mendadak dalam kebijakan internasionalisme ini akan bertahan.

Dalam hal perdagangan bilateral, kekhawatiran Jepang bahwa Washington mungkin menekannya untuk mengambil langkah-langkah guna menyelesaikan defisit perdagangan telah mereda. Kurangnya tekanan mungkin disebabkan keterlambatan dalam pengisian jabatan-jabatan penting pemerintah. Trump mungkin akan membuat tuntutan sulit lagi atas Jepang begitu pemerintahannya sudah tertata. Perdagangan dapat digambarkan sebagai tonggak penting pemerintahan Trump, dan maka itu ia tampaknya tidak akan melupakan isu itu dengan mudah.

Kunci untuk memberikan penilaian atas masa depan pemerintahan Trump adalah seberapa jelas ia dapat menentukan kebijakan domestik dan diplomatiknya dalam dua tahun hingga pemilu paruh masa serta dalam 3,5 tahun hingga akhir masa jabatannya.

Demikian Tinjauan hari ini.

0 komentar

Posting Komentar