Menghadapi Skripsi yang Sering Membuat Mahasiswa "Tersesat"

Menghadapi Skripsi yang Sering Membuat Mahasiswa "Tersesat" - Sebenarnya agak “kurang ajar” juga kalau saya, mahasiswa yang lagi skripsi, nyoba nulis tentang bagaimana tips agar skripsi tak membuat mahasiswa jadi “gila”. Oleh karena itu saya tidak akan menyebutnya sebagai tips, tapi sekadar berbagi pandangan saja tentang bagaimana cara agar skripsi tak menjadi sesuatu yang menakutkan. Kalau dibilang tidak bikin stres itu sih tidak mungkin ya, kalau mau bikin skripsi tanpa stres sedikitpun ya copy paste saja di internet bereskan ya.

Skripsi

Karena skripsi itu adalah tugas akhir yang menuntut mahasiswa untuk berpikir hingga taraf orisinil, maka stres-stres dikit itu wajarlah. Itu bukan suatu aib atau kelemahan, itu manusiawi. Tak hanya bikin stres, kadang skripsi itu juga melelahkan. Bagaimana tidak? Dikit-dikit revisi, dikit-dikit revisi, selain banyak menghaburkan uang untuk ngeprint kertas, kita juga dibikin capek karena harus bolak-balik kampus buat ketemu dosen pembimbing.

Ini belum tahap pertengahan loh, ini baru tahap awal, baru nentuin latar belakang masalah atau konteks masalah. Tapi kita sudah dibikin meres otak sampai kita tidak tahu lagi harus berbuat apa. Apalagi kalau kebagian dosen pembimbing yang kritis, maksudnya dosen pembimbing yang punya standar tinggi. Kita mengajukan topik ini dianggap biasa, mengajukan topik itu dianggap tak layak untuk diteliti, mengajuan topik Adianggap bukan sesuatu yang harus diteliti karena tak cocok dengan jurusan kita. Mampus dah.

Minta bantuan teman yang sudah duluan lulus nggak dikasih. Alasannya biar kita ngerasain atmosfernya jadi mahasiswa semester akhir dan biar tahu gimana rasanya bikin skripsi. Terus muncul ide buat kerja kelompok tiap hari ini sampai hari ini. Tapi hasilnya pun sama, skripsi masih terasa sulit, dan kita malah makin tersesat padahal tiap minggu bimbingan. Kalau sudah begini apa yang salah?

Tentu saya nulis ini bukan karena saya sudah tahu cara menaklukkan dosen pembimbing, atau mahfum cara membuat skripsi dalam waktu satu minggu. Sama saya juga masih disuruh revisi mulu. Nah tapi ada beberapa hal yang ingin saya coba bagikan berdasarkan apa yang saya alami, semoga bisa jadi referensi sederhana, agar kita tahu apa yang harus kita lakukan saat tengah menghadapi skripsi.

  • Jangan Langsung Mikirin Judul & Datang pada Bimbingan Pertama

Untuk tahap awal saya cuman mau ngasih tahu, jangan langsung bingung mikirin dan nyiapin judul. Saya punya teman yang sampai bimbingan kesekian tidak ikut bimbingan. Tahu-tahu pas dia datang ke kampus dia sudah bawa draft penelitiannya. Dia angkat permasalahan tentang parenting, ternyata di kampus topik skripsi kami sudah ditentukan yaitu tentang UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah).

Kalau sudah begini tentu pekerjaannya jadi sia-sia kan. Oleh karena itu penting untuk datang pada pertemuan pertama bimbingan skripsi. Nah untuk mendapatkan informasi terbaru atau memiliki forum diskusi agar pemahaman kita semakin baik berinisiatiflah membuat sebuah grup onlie biar lebih gampang komunikasinya. Boleh di WhatsApp ataupun di BBM.

Saya juga awalnya sudah menyiapkan topik yang akan saya teliti. Tentu sama seperti kebanyakan orang, saya akan memilih topik yang saya suka dan dapat dengan mudah saya jangkau. Tadinya saya sudah mau neliti soal dunia internet tapi sayang seribu sayang topiknya sudah ditentukan. Sehingga judul yang sudah saya siapkan pun tak terpakai.

Jika sudah tahu topik skripsi yang sesuai dengan ketentuan kampus, jangan langsung mikirin judul. Sebab dosen pembimbing kita akan menyuruh kita terlebih dulu untuk mengumpulkan permasalahan-permasalahan yang ada. Permasalahan-permasalahan itu nanti akan jadi dasar penelitian kita, itulah yang akan kita tulis pada latar belakang atau konteks masalah skripsi kita.

  • Tapi Masalahnya Saya Tak Melihat Permasalahan Apapun, Saya Harus Bagaimana?

Tak sedikit mahasiswa yang bingung saat disuruh membuat latar belakang masalah sekalipun dia sudah menentukan suatu objek untuk diteliti. Saya juga sempat mengalaminya kok. Karena kami disuruh meneliti tentang UMKM saya pun langsung mencari sebuah UMKM yang kira-kira punya sisi menarik untuk diteliti.

Sesampainya di lokasi UMKM yang dimaksud saya pun mewawancarai kepala UMKM nya. Setelah sekian lama dia dengan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, tiba-tiba dia balik bertanya. ”Memangnya yang mau diteliti apanya? Hipotesanya apa?” Saat ditanya demikian di situlah saya langsung cengengesan. Saya langsung menjawab jujur kalau saya pun bingung yang mau saya teliti itu apanya. ”Kira-kira hipotesanya apa?” Dia kembali bertanya. Saya pun menjawab tidak tahu. Pada titik ini saya sudah menjadi mahasiswa yang tersesat.

Karena saya sendiri tidak tahu ke arah mana sebenarnya hasil wawancara itu akan saya arahkan. Sang kepala UMKM itulah yang malah menjelaskan kepada saya, dia memberikan beberapa pandangan yang bisa saya jadikan garis besar penelitian saya. Kenapa hal ini bisa terjadi pada seorang mahasiswa?

  • Dihadapan Skripsi Mahasiswa Itu Terlahir Kembali

Dari pengalaman ini saya punya pendapat, tak perduli seberapa tinggi IPK kita pada tiap semester, seberapa banyak pengetahuan yang kita punya, dan seberapa aktif kita di kelas, dihadapan skripsi itu kita seperti bereinkarnasi, kita kembali jadi anak kecil yang polos dan tak tahu apa-apa. Nah itu sebab ---inilah yang sering dilupakan mahasiswa --- kita harus belajar kembali, buka buku kembali. Dalam kasus di mana mahasiswa kebingungan saat harus mencari permasalahan skripsi, hal ini disebabkan mahasiswa miskin secara keilmuan.

Contohnya saat kita sedang memasak sayur, lalu mencucinya dalam baskom. Bagi kita orang awam tentu hal itu bukanlah sebuah masalah. Tapi bagi seorang dokter mungkin hal ini bisa jadi masalah, sebab harusnya sayur dicuci pada air yang mengalir dari kran agar kuman dan lainnya tidak bla bla bla. Nah ini adalah contoh, bahwa sesuatu yang bukan masalah bagi kita ternyata bisa jadi masalah untuk orang lain.

  • Ini Semua Tentang Sisi Keilmuan Yang Kita Miliki

Prinsipnya tak ada masalah apapun di mata orang awam. Masalah muncul dari perspektif yang kritis. Dan untuk menjadi kritis secara sehat, otak kita butuh di isi dengan ilmu. Tak perduli seberapa banyak peristiwa yang kita lihat dan alami, tanpa memiliki sisi keilmuan kita tak akan dapat melihat masalahnya.

Sisi keilmuan membuat kita dapat melihat permasalahan dalam konteks bagaimana sesuatu itu seharusnya. Dalam konteks membuat skripsi yang menguji teori, mengembangkan, hingga menemukan teori, mustahil kita bisa mengerjakannya hanya dengan intuisi, nebak-nebak, apalagi sekedar nanya sana sini.

Kita harus mau ---walaupun membosankan --- membaca buku-yang berhubungan dengan metedologi penelitian, sekaligus membaca buku-buku yang berhubungan dengan topik skripsi kita. Tak berhenti sampai di sana, kita harus mau membaca skripsi-skripsi sebelumnya yang ada di perpustakaan atau di internet. Hal ini sangatlah membantu. Kita akan mampu menyerap pola pikir mahasiswa tingkat akhir pada skripsi, buku, hingga jurnal-jurnal ilmiah yang kita baca.

Itu sebab jangan datang pada objek yang diteliti dengan kondisi buta secara keilmuan. Nanti kamu bertanya tapi tak tahu akan diapakan pertanyaan-pertanyaan itu. Lagian, kalau kamu sudah pegang sisi keilmuannya, kamu akan mampu bertanya dengan lebih tajam dan pertanyaanmu akan lebih terarah dan detail. Dari semua informasi yang kamu kumpulkan dengan mudah kamu akan menemukan permasalahan-permasalahan yang ada.

  • Sisi Keilmuan yang Juga skan Menolongmu di Depan Dosen Pembimbing

Saya pastikan tantangan paling besar adalah meyakinkan dosen pembimbing. Saat kamu sudah membuat draft latar belakang masalah, dengan kondisi mahasiswa yang bimbingannya antri, percayalah dosen pembimbing kamu tidak akan membaca dengan seksama draft yang kamu kasih. Ada banyak maksud yang tak akan dia tangkap, ada banyak hal terlewat karena dosen pembimbing kita itu bacanya buru-buru. Tahu-tahu sudah ada banyak coretan untuk direvisi, lalu tiba-tiba dia mempertanyakan ini itu.

Nah pada saat dia mengajak diskusi, itulah momentum kita untuk meyakinkan dia agar topik yang kita ajukan diterima dan kita bisa membahasanya pada bab selanjutnya. Masa mau di bab satu terus. Apa yang kita tulis tak bisa menolong dirinya sendiri, kita harus cakap saat berdiskusi dengan dosen pembimbing. Itu sebab kalau kita tidak menguasai sisi keilmuannya, kita akan tergagap-gagap dan tak akan mampu meyakinkan dosen pembimbing kita.

Menurut kita sih kita sudah mengajukan masalah yang layak untuk diteliti tapi karena dosennya baca sekilas maksud kita tidak sampai ke dia. Tapi saat harus meyakinkan dia kita pun tak mampu. Kalau sudah begini kitalah sebagai peneliti yang terlihat tidak meyakinkan. Dengan menguasai sisi keilmuannya, contohnya tentang teori logo sebuah perusahaan, maka kita bisa meyakinkan bahwa logo perusahaan A ini layak untuk diteliti. Dengan modal itu kita bisa menggiring dosen pembimbing kita itu untuk memahami dan setuju dengan apa yang kita maksud.

Jadi kalau hanya untuk IPK tinggi kita harus belajar, saya berani bilang kita harus sepuluh kali lebih giat belajar kalau mau bisa menyelesaikan skripsi yang sulit tapi tidak sampai tersesat dalam kebingungan sendiri.

0 komentar

Posting Komentar