Mengunjungi Tokyo Skytree

Mengunjungi Tokyo Skytree - Mengunjungi Skytree dan Merasakan Suasana Zaman Edo di Pusat Tokyo

Tokyo Skytree

Penyiar siaran bahasa Cina Su Xiao Bo dari Cina akan mengajak kita ke menara Tokyo yang baru, Tokyo Skytree, dan berkeliling ke sekitar kuil Senso-ji, tempat yang masih kental dengan suasana zaman Edo.

Reporter Su Xiao Bo

Tokyo Skytree Setinggi 634 Meter

Kita bisa berkeliling di tempat pemantauan ini untuk menikmati pemandangan 360 derajat. Semuanya kaca dan kita bisa melihat pemandangan Tokyo dari sini.

Tokyo Skytree

Su Xiao Bo:
“Lantainya dari kaca… Saya bisa melihat ke bawah, ke kaki Skytree. Ah… kaki saya jadi lemas. Kaca ini tidak akan pecah kan ya?”

Tokyo Skytree

Layar-layar digital dipasang memanjang di tempat pemantauan ini untuk memperlihatkan pemandangan dari posisi di mana pengunjung berdiri.

Tokyo Skytree

Kawasan Sekitar Senso-ji dengan Suasana Zaman Edo

Su Xiao Bo:
“Wah, lentera raksasa tergantung di gerbangnya. Ini adalah Gerbang Petir yang terkenal, Kaminarimon. Huruf kanji Petir dan Gerbang tertulis besar-besar di lenteranya. Warna lenteranya dicat merah sementara huruf kanjinya tertulis dalam tinta hitam; kekontrasan warnanya bagus sekali!"

Tokyo Skytree
Gerbang Kaminarimon

Melewati gerbang Kaminarimon dengan lentera raksasanya, di kiri-kanan jalan mendekati kuil, berjajar toko-toko yang menjual kue-kue dan cinderamata. Jalan menuju kuil Sensoji ini disebut Nakamise.

Tokyo Skytree

Kue berbentuk lentera gerbang Kaminarimon sepertinya paling populer sebagai oleh-oleh.

Kue Kaminarimon

Lonceng Angin, Sepenggal Kearifan Lama yang Diwariskan di Kalangan Rakyat

Lonceng-lonceng anginnya sangat kecil dan terbuat dari besi, kaca dan keramik. Lonceng yang digantung itu berdenting meski hembusan anginnya kecil. Potongan kertas kecil memanjang tergantung di lonceng untuk menangkap hembusan angin.

Lonceng Angin

Su membeli lonceng angin dari besi berwarna ungu yang berbentuk bunga kecil.

Tokyo Skytree yang ultra-modern bisa dilihat dari kawasan kuil Senso-ji yang kaya akan suasana budaya Edo.

Dojo-nabe, Masakan Belut dalam Kuali yang Populer di Kalangan Rakyat Zaman Edo

Kuali berisi belut datang tak lama kemudian. Masakan ini disajikan di kuali besi yang kecil. Lebih dari sepuluh belut ditata berdempetan di atasnya.

Dojo-nabe

Su Xiao Bo:
“Ya, rasanya segar dan dagingnya sangat lembut. Sama sekali beda dari yang saya bayangkan."

Pemilik restorannya, Takashi Watanabe:
"Orang-orang di zaman Edo percaya memakan belut juga akan meningkatkan vitalitas. Ini adalah makanan zaman Edo berstamina tinggi."

Akses

Tokyo Skytree dapat ditempuh selama satu jam naik kereta dari Bandara Narita. Dari Skytree menuju Senso-ji hanya tiga menit dengan kereta bawah tanah atau 15 menit berjalan kaki.

Lihat peta lebih rinci


Tokyo Skytree

0 komentar

Posting Komentar