Politik Isi

Politik Isi - Saya sebenarnya lebih suka membicarakan politik dari segi isinya, bukan wadahnya. Merdeka lebih dari 70 tahun, semestinya kita sudah bergerak jauh meninggalkan polemik tentang politik bungkus, tetapi mempertajam diskursus politik isi. Negara-bangsa atau Khilafah itu bungkusnya, isinya adalah kesejahteraan lahir batin sebagaimana dilukiskan Al-Qur’an sebagai بلدة طيبة و رب غفور. Bungkus itu hanya wadah untuk mengantarkan isi. Bungkus bisa dinamai apa saja, dicat warna apa saja, yang penting isinya.

Politik

KH Wahab Chasbullah, pendiri dan penggerak NU, pernah bilang, “jika disuruh memilih, kita lebih memilih minyak samin cap babi daripada minyak babi cap onta.” Sekarang kenyataannya kita masih belum beranjak ke mana-mana. Kita masih sibuk melayani narasi politik bungkus. Karena penganut politik bungkusmakin banyak, terpaksa kita harus bergerak mundur sedikit ke belakang. Kita terpaksa memperkuat argumen tentang perlunya mengedepankan politik isi ketimbang politik bungkus.

Apa isi politik itu? Perjuangan untuk mewujudkan kebajikan umum! Bahasa Arabnya: مصلحة العامة.  Kebajikan umum banyak disuarakan dalam teori politik Barat dan Islam. Saya hanya ingin menyebutkan dua indikator saja dari kebajikan umum. Indikator itu saya ambil dari al-Qur’an, Surat Quraisy (105: 4). Kekuasaan apa pun yang mampu mewujudkan ini, dalam pandangan saya, sudah Qur’ani.

Dalam QS. Quraisy, Allah menyebut aktivitas safari dagang orang Quraisy di musim panas dan dingin. Secara tersirat, Allah mengingatkan mereka untuk bersyukur karena diberi rizeki oleh Allah melalui kegiatan niaga dan melindungi aktivitas mereka dari ancaman bahaya. Dalam ayat terakhir Surat Quraisy, Allah memerintahkan mereka untuk menyembah Dzat yang memberi mereka makan dan membebaskan mereka dari rasa lapar (أطعمهم من جوع) serta melindungi mereka dari rasa takut (امنهم من خوف). Konsep pertama (أطعمهم من جوع) adalah narasi ekonomi, konsep kedua (امنهم من خوف) adalah narasi politik, pertahanan, dan keamanan.

Manusia diturunkan ke muka bumi sebagai abdullâh dan khalîfatullâh. Dalam peran pertama, manusia disuruh tunduk, mematuhi Allah dengan semangat kepasrahan total, tanpa tanya. Disuruh shalat dan puasa, misalnya, kita jalani dengan semangat ta’abbud, tanpa tanya apa gunanya untuk kita. Ranah ini disebut sebagai ibâdah mahdhah. Sifatnya tetap dan universal (tsâbit kully). Dalam peran kedua, manusia disuruh mematuhi Allah dengan semangat kreatif. Di dalam ranah ini ada ruang inovasi dan improvisasi. Kita disuruh Allah ‘mewakili’ beroperasinya sunnatullâh melalui campur tangan dan kreativitas manusia. Ranah ini disebut dengan ibâdah mu’âmalah. Politik, dalam hemat saya, masuk ranah kedua ini. Bentuk politik adalah wilayah ijtihad yang berubah dan bersifat temporal-partikular (mutaghayyir juz’i). Sifatnya tidak baku. Yang dipentingkan adalah tujuannya (ghâyah), bukan instrumennya (wasîlah).

Ghâyah dari politik Qur’ani, menurut QS. Quraisy, sudah tertampung dalam tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Mukaddimah UUD 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan berimpitan dengan kesejahteraan. Orang terdidik punya kemampuan mamartabatkan dirinya, termasuk dalam ekonomi. Dua tujuan ini tercakup dalam kualifikasi أطعمهم من جوع. Tujuan berikutnya adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dalam dunia global, keamanan suatu negara terhubung dengan negara lain, karena itu partisipasi dalam upaya perdamaian dunia merupakan tujuan lain negara. Dua tujuan ini dapat dikelompokkkan dalam kualifikasi امنهم من خوف. Konsep keamanan ‘transnasional’ dalam istilah sekarang, juga diisyaratkan al-Qur’an:  Allah melindungi Quraisy dalam jalur perniagaan ke Suriah di musim panas dan Yaman di musim dingin.

Kekuasaan politik yang sanggup menyejahterakan rakyat sebesar-sebesarnya, mendistibusikan kue ekonomi secara adil dan merata serta melindungi warga negara dari ancaman rasa takut, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri, sudah merupakan kekuasaan Qur’ani yang harus didukung dan dibela.

Sekarang mari kita lihat faktanya. Negara mana yang paling sejahtera dan bahagia? Apakah negara-negara Islam di Timur Tengah, Afrika, atau Asia? Penelitian yang dilakukan oleh dua orang Guru Besar George Washington University, Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, berkata lain. Riset yang kemudian dimuat dalam GlobalEconomyJournal, Vol. 10, Issue 3, 2010 menunjukkan, tidak ada negara-negara Islam dengan kualifikasi berpopulasi Muslim dalam jumlah besar, dipimpin seorang Muslim, atau secara formal menegaskan diri sebagai negara Islam yang menempati pertingkat 30 besar. Dengan menggunakan 113 variabel, Top 10 negara-negara dengan pembangunan  ekonomi yang paling Islami justru ditempati oleh “negara-negara kafir,” berturut-turut adalah Irlandia, Denmark, Luxemburg, Swedia, UK, New Zealand, Singapore, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Peringkat tertinggi ‘negara Islam’ yang paling Islami dalam pembangunan ekonominya hanya Malaysia, ranking 33. Arab Saudi, yang Rajanya baru berkunjung ke Indonesia, menempati peringkat ke-91. Turki, yang Presidennya mulai banyak penggemar di Indonesia, menempati ranking ke-71. Indonesia, negeri populasi Muslim terbesar dengan pendukung ‘politik bungkus’ yang makin meningkat, berada di urutan ke-104. Data bisa diunduh di: http://hossein-askari.com/wordpress/wp-content/uploads/islamicity-index.pdf.

Dari tolok ukur keamanan, negara mana yang paling aman? Apakah negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Asia Barat yang mayoritas Muslim? Mari kita lihat faktanya. Sejak meletus Arab Spring di Tunisia dan menjalar ke negara-negara Arab, Timur Tengah dan Afrika poranda. Sejak 2011-2015, di Yaman ada 5,6 juta nyawa melayang oleh konflik berdarah sesama ahlul qiblat, di Libya ada 4,3 juta, di Iraq 3,2 juta, di Mesir 1,7 juta, di Suriah 320 ribu nyawa musnah, dan ribuan lainnya di negeri-negeri rumpun Arab. Sejak 2011, ada sekitar 4,3 juta penduduk Suriah yang mengungsi dan minta suaka ke negara-negara lain, terutama ke Turki dan Eropa. Begitu juga arus keluar terus berlangsung dari Libya, Irak, dan Yaman ke sejumlah negara yang lebih aman. Mereka mencari kehidupan baru karena di negeri asalnya, jarak kehidupan dengan kematian seukuran senti. Di negara-negara ini, pekik takbir bergema di antara desingan senjata. ISIS ingin menegakkan Khilafah, dengan menumpahkan banyak darah.

Apakah kita rela memperjuangkan bungkus kekuasaan dengan harga kematian? Saya rasa tidak! Jihad kita adalah mengisi NKRI agar semakin bersemangat Qur’ani, yaitu meningkatnya kesejahteraan umum dan terjaminnya ketenteraman publik. Kekuasaan apa saja, pada pokoknya isinya hanya dua hal itu. Siapa sanggup mewujudkannya, dia akan menjadi baldah thayyibah. Di negeri Muslim, plus wa rabbun ghafûr.

0 komentar

Posting Komentar