Prospek Perdamaian Pasca Konferensi Perdamaian Myanmar Kedua

Prospek Perdamaian Pasca Konferensi Perdamaian Myanmar Kedua - Pemerintah Myanmar dan kelompok-kelompok militan etnis mengadakan konferensi perdamaian lima hari di Naypyitaw, ibu kota Myanmar, sejak tanggal 24 Mei. Ratusan delegasi dari pemerintah, militer, masyarakat madani, dan kelompok-kelompok etnis bersenjata menghadiri konferensi perdamaian tersebut.

Perdamaian Myanmar

Konferensi ini bertujuan untuk mengakhiri pertempuran dengan 21 kelompok etnis melalui dialog dan membangun sebuah uni federal demokratik.

Meski demikian, rasa saling percaya antara pemerintah dan kelompok-kelompok etnis bersenjata tergerus setelah 70 tahun konflik bersenjata di antara mereka.

Dalam Tinjauan hari ini, kami mewawancarai Khon Ja, pendiri LSM Kachin Peace Network, mengenai prospek proses perdamaian Myanmar.

Menurut Khon Ja, kerangka dialog politik yang ada sekarang rumit, karena adalah campuran dari gencatan senjata, upaya mendamaikan, dan pembangunan bangsa. Dalam hal ini, peran semua kelompok bersenjata yang aktif sangat penting guna membangun solusi politik yang dapat berjalan di Myanmar, dan suara organisasi-organisasi masyarakat madani juga sangat penting. Tetapi dalam konferensi perdamaian yang sedang berlangsung ini, organisasi-organisasi masyarakat madani diundang hanya sebagai pengamat.

Kerangka dialog politik dirancang tidak hanya untuk gencatan senjata, tetapi juga untuk mendamaikan serta untuk pembangunan bangsa. Inilah mengapa perwakilan dari organisasi masyarakat madani yang membawa suara rakyat harus hadir dengan kesempatan yang sama dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan bangsa.

Di sisi lain, kelompok-kelompok etnis bersenjata yang menghadiri konferensi perdamaian ini hanya 15 kelompok. Sebanyak 8 kelompok di antara mereka telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata untuk seluruh negeri. Tetapi kelompok-kelompok yang belum menandatangani kesepakatan gencatan senjata tidak memiliki posisi untuk berdiskusi di meja dialog dan mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pertemuan ini. Konferensi ini lebih seperti pertunjukan dibandingkan partisipasi yang berarti.

Lebih jauh lagi, kelompok bersenjata etnis Karenni dan kelompok bersenjata etnis Mon tidak datang ke konferensi ini. Kedua kelompok bersenjata ini dikenal luas sebagai pihak-pihak perunding politik yang memimpin dalam proses perdamaian. Tetapi, karena mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama untuk partisipasi dan pembahasan, mereka tidak menghadiri konferensi kali ini.

Jika kita betul-betul ingin Myanmar mencapai perdamaian, kita harus membawa ke-21 kelompok etnis bersenjata tersebut ke meja perdamaian dan mencari solusi dengan cara-cara politik. Jika tidak, tidak akan ada cara untuk mencapai perdamaian yang sebenarnya.

0 komentar

Posting Komentar