Selfie Kekuatan Baru Para Ekstrimis Lakukan Propaganda - HadaCircle

Jumat, Mei 05, 2017

Selfie Kekuatan Baru Para Ekstrimis Lakukan Propaganda

Selfie Kekuatan Baru Para Ekstrimis Lakukan Propaganda - Direktur The Wahid Foundation Yenny Wahid menilai, saat ini kelompok-kelompok ekstrimis memiliki senjata baru yaitu selfie dan propaganda di media sosial. Menurutnya, hal itu lebih ampuh dan efektif dari pada menggunakan pedang.

Social Media

“Selfie itu lebih powerful dari pada pedang saat ini,” kata Yenny saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Dampak Media Sosial Terhadap Terorisme di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Kamis (4/5).

Alumni Universitas Trisakti itu mengatakan, selfi dan propaganda di media sosial itu didisain sedemikian rupa oleh para ekstrimis untuk memancing dan membangkitkan emosional seseorang. ia meyayangkan apa yang dilakukan oleh para ekstremis tersebut karena melakukan apapun agar tujuan mereka tercapai meskipun dengan cara-cara yang tidak benar.

“Konten-konten yang disebarkan mungkin, tetapi konteksnya tidak. Gambar-gambar pembantaian dikasih tulisan bahwa itu adalah yang terjadi di Syiria. Padahal itu adalah gambar-gambar yang terjadi di tempat lain,” urainya.

Selain itu, lanjut Yenny, para ekstrimis juga memberikan iming-iming kepada calon teroris dengan berbagai macam hal seperti kesempatan untuk menjadi muslim atau muslimah sejati, menjadi pahlawan, dan lainnya.

“Kamu hanya mati sekali, maka matilah dengan cara jihad,” cerita Yennya menirukan propaganda yang dilakukan kelompok ekstrimis.

ISIS, imbuh Yenny, begitu aktif melakukan propaganda di media sosial di Indonesia. Bahkan, mereka sudah berani terang-terangan untuk mendeklarasikan diri di beberapa daerah.

Namun demikian, ia mengaku, masyarakat Indonesia memiliki ketahanan diri yang baik dengan bujukan dan rayuan yang dilakukan kelompok ekstrimis di media sosial. Hal tersebut terlihat dari lebih sedikitnya jumlah warga negara Indonesia yang berangkat ke Syria jika dibandingkan dengan negara-negar lainnya.

“Indonesia ada lima ratus orang di Syria. Inggris muslimnya dua juta dan yang ingin pergi ke Syiria ada lima ribu. Denmark tiga puluh persen muslim ingin pergi ke Syria. Mereka yang ingin pergi adalah muallaf,” urainya.

Meski begitu, ia mengingatkan, masalah terorisme dan ekstrimisme adalah masalah yang serius dan harus diperhatikan secara serius pula.
Comments


EmoticonEmoticon