Tito Karnavian: Silent Majority, Dukung Kami!

Tito Karnavian: Silent Majority, Dukung Kami! - Akhir-akhir ini istilah ‘Silent Majority’ merebak sejak ada fenomena kiriman karangan bunga di Balai Kota untuk Ahok-Djarot. Sehingga banyak orang yang mengira istilah tersebut buat pendukung Ahok-Djarot. Dan sebagian ada yang mengubahnya menjadi silent minority, karena pasangan Ahok-Djarot hanya mendapatkan suara 42%.

Silent Majority

Biar pemahamannya seragam, untuk diketahui, istilah ‘Silent Majority‘, adalah istilah lama yang digunakan dalam dunia perpolitikan dunia yang dulu pernah diperkenalkan oleh Presiden Amerika, Ricard Nixon, di dalam pidato kampanyenya pada tahun 1963, “And so tonight—to you, the great silent majority of my fellow Americans—I ask for your support”.

Singkatnya istilah tersebut, dapat diartikan bahwa Silent Majority merupakan sekelompok besar masyarakat di dalam suatu daerah/negara yang bertindak pasif untuk tidak terlalu mengungkapkan pendapat politiknya di depan umum, dan akan menunjukkan eksistensinya pada saat tertentu.

Tito Karnavian : Silent majority ini jangan hanya silent.
 
Dalam sebuah diskusi bertajuk “Membedah Gerakan Radikalisme-Terorisme dan Solusinya”, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan, unsur terpenting dari radikalisasi adalah adanya proses transfer ideologi.

Proses itu sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif terhadap pola pikir seseorang dalam memandang sebuah ajaran atau pemahaman.

Radikalisasi bisa berdampak positif bila mengarah pada pendalaman sebuah ajaran. Namun, bisa menjadi negatif jika meyakini cara kekerasan dalam menyebarkan suatu pemahaman.

“Kalau radikal dalam memahami agama kenapa tidak. Tapi kalau menggunakan kekerasan, itu yang berbahaya,” ujar Tito dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Garda Bangsa, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan, upaya penanggulangan terorisme tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum.

Tito menyayangkan penyebaran ideologi tandingan tersebut terkendala dengan adanya fenomena silent majority. Meski kelompok moderat jumlahnya banyak, tetapi mereka cenderung diam ketika menemukan paham radikalisme menyebar di masyarakat.

“Silent majority ini jangan hanya silent, tapi lebih bersuara kita minta. Militan seperti mereka mau membunuh. Saya pikir enggak perlulah. Tapi paling tidak bersuara, memberikan dukungan kepada pemerintah, kepada aparat penegak hukum misalnya itu sudah cukup, Udah yang lain kami saja.”

“Misalnya kasus yang kemarin, katakanlah kasus dugaan makar. Begitu kita tangkapin, silent majoritynya kok diam aja. Terus yang digecek-gecek, ini Kapolrinya keterlaluan. Ini Kapolrinya cuman bikin lelucon saja. Kita ingin hanya dukungan sosial, suara. Disuarakan, maka kita akan bergerak.”

Pada kesempatan yang sama, pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan, program deradikalisasi yang penting dilakukan adalah kontra wacana. Cara tersebut pernah dilakukan oleh pemerintah Spanyol untuk meredam kelompok radikal yang menggunakan ayat-ayat kitab suci.

“Ini sama seperti di Indonesia. Wacana yang diturunkan membutuhkan interpretasi dan monolitik. Tapi di sini tidak ada yang melawan. Maka NU dan Muhammadiyah yang paling berpotensi karena umatnya banyak,” ujar dia.

Bunga Lambang Cinta dan Perlawanan
Setelah ribuan karangan bunga membanjiri kawasan Balai Kota dan Monas, yang juga membanjiri daerah Batam, Medan dan Surabaya, hari ini kita juga melihat sederetan karangan bunga di Mabes Polri.

Karangan bunga yang berasal dari masyarakat tersebut semuanya menyerukan dukungan masyarakat kepada Polri untuk melakukan tindakan tegas terhadap kelompok yang intoleran dan bisa memecah NKRI.

“Ini akan membuat kami lebih komitmen, motivasi lebih tinggi untuk melakukan tindakan-tindakan,”kata Jendral Tito di Mabes Polri.

Silent Majority bersuara
 
Polri dan penegak hukum juga manusia, sama seperti halnya Ahok-Djarot dan seluruh jajarannya, yang telah mencurahkan keringat dan tenaganya untuk bangsa. Mereka telah berjuang melayani rakyat untuk menjaga keamanan masyarakat dan negara ini. Mereka menghadapi pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak ringan. Merekapun kadang mendapatkan cacian dan perlakuan yang tidak semestinya. Mereka yang berdiri di garis depan untuk kita.

Pak Tito, masyarakat merespon!

Silent Majority bersuara merespon permintaan anda, Maafkan kami Pak Tito, jika selama ini kami diam. Itu bukan karena kami membiarkan. Tetapi karena kami tidak mau memperkeruh suasana.

Kami mencintai kepolisian, TNI, presiden dan gubernur kami. Kami melihat demo yang massive yang menimbulkan keresahan serta usaha makar yang terselubung di balik aksi tersebut, telah menghabiskan begitu banyak waktu, pikiran, tenaga, dan biaya.

Karenanya kami memilih diam untuk tidak menimbulkan masalah baru. Kami percaya Polri dan TNI dalam menjaga keamanan negara ini.

Pak Tito, saat Pak Ahok kalah dalam Pilkada, hati kami hancur. Kami berpikir Bhinneka Tunggal Ika sudah tidak punya makna lagi. Kebhinekaan dan keberagaman kami pikir cuma sebuah kenaifan.

Saat agama dipolitisir, pemeluk agama berbeda diteriakkan kafir, memiliki pilihan politik yang tidak sama disingkirkan, Pak Djarot yang sudah tidak diterima di rumah ibadahnya sendiri, kami melihat seperti ada pembiaran oleh negara.

Kami melihat kaum preman berpesta pora. Harapan kami patah dan luluh lantak untuk punya kota yang hebat.

Masyarakat melihat negara diam, negara berpikir kami diam.

Sekarang kami tahu, ternyata negara butuh kami, butuh suara kami. Untuk penyemangat dan motivasi.

Kami hadir.
Kami bersuara.
Kami mau Bhinneka Tunggal Ika ditegakkan dan bukan jadi bahan olokan.

Kami mau negara dimana semua warga Negara Indonesia diperlakukan sama, tidak berdasarkan agama, ras dan suku. Tidak berdasarkan warna kulit. Semua warga Negara mendapatkan hak yang sama.

Kami menolak tempat ibadah dijadikan tempat untuk berpolitik. Kami mau toleransi beragama kembali hadir diantara semua warga Indonesia. Tangkap penyebar kebencian dan keresahan.

Beri anak-anak kami Pendidikan Moral Pancasila serta Pendidikan P-4 di sekolah-sekolah, sehingga dari mulut-mulut mungil ini tidak mengeluarkan kata-kata yang menakutkan, “Kafir! Bunuh Ahok!”

0 komentar

Posting Komentar