Tantangan Presiden Baru Prancis - HadaCircle

Kamis, Mei 11, 2017

Tantangan Presiden Baru Prancis

Tantangan Presiden Baru Prancis - Calon independen berhaluan tengah Emmanuel Macron berhasil mengalahkan Marine Le Pen yang berhaluan kanan-jauh dalam pemilihan presiden Prancis 7 Mei lalu dan menjadi orang termuda yang terpilih untuk memimpin negara dalam sejarah Prancis.

Emmanuel Macron

Dalam Tinjauan kali ini Keiichi Imamura, Kepala Biro Umum NHK Eropa mengulas tentang arti kemenangan Macron dan isu-isu spesifik yang akan dihadapinya.

Imamura mengatakan Prancis menghentikan tren global yang mengarah pada sikap politik tertutup sebagaimana yang terlihat dalam kemunculan Presiden AS Donald Trump dan keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Warga Prancis memilih untuk tetap bertahan dalam Uni Eropa dan memperkuat integrasi Eropa.

Di saat yang sama patut dicatat bahwa Marine Le Pen meraih 33,9 persen suara meski ada fakta bahwa kebijakannya untuk mengutamakan Prancis dan menyerukan untuk keluar dari Uni Eropa dikritik dan menimbulkan kekhawatiran yang serius. Itu merupakan suara terbesar yang pernah dicapai oleh kandidat kanan-jauh dan menunjukkan adanya peningkatan ketidakpuasan atas Uni Eropa dan globalisme.

Sementara itu, meski ada antisipasi bahwa Macron akan membawa perubahan, tetapi sebuah jajak pendapat menunjukkan 60 persen suara yang memilih Macron lebih karena harapan untuk mencegah agar Le Pen tidak terpilih, bukan karena mendukung kebijakannya. Oleh karena itu, hal tersebut adalah dorongan pasif bagi Macron.

Perpecahan antara mereka yang menikmati keuntungan globalisasi dan mereka yang tertinggal menjadi semakin mendalam. Masalah paling serius yang harus diatasi Macron adalah membangun kembali perekonomian. Kemampuannya akan diuji, apakah ia bisa merevisi undang-undang tenaga kerja, meningkatkan daya saing Prancis dan menurunkan tingkat pengangguran yang terhitung tinggi pada kisaran di atas 10 persen, dengan meningkatkan kesempatan kerja. Guna menunjukkan kepemimpinan yang kuat, partainya harus meraih kursi mayoritas di parlemen. Kunci untuk bisa mempercepat kebijakannya terletak pada seberapa banyak kursi yang bisa diraih oleh partai politik Macron, En Marche, dalam pemilihan parlemen bulan depan.

Pada sisi diplomatik, Macron berencana untuk memperkuat hubungan dengan Jerman dan berupaya membangun kembali Eropa. Dalam zona Uni Eropa, kesenjangan tumbuh semakin dalam dan Jerman sering dicitrakan sebagai pemenang satu-satunya di Uni Eropa. Bagaimana Macron mengatasi situasi ini akan menjadi ujian bagi kecakapan diplomasinya.

Jika Macron tidak mampu mempercepat reformasi ekonomi dan mencapai hasil spesifik, bisa jadi membuat ketidakpuasaan warga akan meningkat bahkan semakin membesar lima tahun kemudian yang mungkin akan kembali mendorong pandangan radikal kata Imamura.
Comments


EmoticonEmoticon