Tangkal Paham Radikal, Wujudkan #MediaNusantaraBerkemajuan

Tangkal Paham Radikal, Wujudkan #MediaNusantaraBerkemajuan - HadaCircle, Inc. dan Badan Nasional Penganggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan pegiat dunia maya mengantisipasi merebaknya berita hoax. Berita hoax di dunia maya saat ini susah untuk dibendung karena milik bersama. Siapa pun bisa menyampaikan pendapatnya dalam dunia maya itu.

TANGKAL RADIKALISME
HadaCircle, Media Nusantara Berkemajuan
Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh.
Media Nusantara Berkemajuan

Celakanya, masyarakat cenderung malas menyeleksi berita itu benar atau hoax. Lalu, informasi yang diperolah melalui dunia maya itu disebar lagi di media sosial.

Padahal, konten informasi hoax itu sengaja dibuat oleh kelompok radikal yang ingin menebar teror. Bahkan dengan lihai, kelompok radikal ini memanfaatkan celah suatu peristiwa yang sedang ramai dibicarakan di dunia maya.

Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam menelan informasi. Apalagi, saat ini internet sudah menjadi kebutuhan pokok.

"Kelompok radikal sangat cerdas dalam memanfaatkan dunia maya. Mereka pandai memutarbalikan situasi menjadi seolah-olah benar," katanya dalam Sarasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Pegiat Dunia Maya di Hotel Alana Yogyakarta, Kamis (2/3/2017).

Untuk itu, pihaknya menggandeng pegiat dunia maya yang cinta damai untuk bersama-sama dalam melawan berita hoax. Pegiat dunia maya ini diminta memberikan informasi utuh sehingga berita hoax bisa ditepis.

"Kita ingin berita hoax ini jangan sampai menyebar ke mana-mana. Membuat masyarakat bingung. Kita di sini mengajak teman-teman untuk menyampaikan konten berita yang benar, damai, sehingga masyarakat tidak bingung. Misal ada berita hoax, ini lho berita yang utuh sebenarnya seperti ini," ujarnya.

Dalam sarasehan itu ada 200 orang peserta dari kalangan anak muda yang bergelut dalam dunia maya. Sebanyak 144 peserta dari user www.damai.id; 60 orang dari www.jalandamai.org; dan 16 peserta dari dutadamai.id. Mereka terlihat antusias dalam mengikuti sarasehan ini.

Dia mengaku banyak situs radikal yang sudah diblokir oleh Kementerian Informasi dan Teknologi. Namun, situs-situs itu kembali muncul dengan konten serupa meski beda nama. Bahkan, kemunculan situs baru itu hanya beberapa saat usai Kominfo memblokir situs.

"Situs-situs radikal ini seperti jamur, begitu dicabut, muncul lagi dengan jumlah yang banyak. Kami mengajak masyarakat, juga pada pencinta damai untuk membentengi masyarakat supaya tidak mudah terpapar paham radikal, ini penting," katanya.

Dia juga memberi gambaran di berbagai grup WhatsApp yang dimiliki. Tak sedikit anggota satu sama lain justru berbeda pendapat gara-gara informasi hoax. Bahkan, ada di antara anggota grup yang kecewa berat memutuskan untuk tidak bergabung lagi alias keluar.

"Terkadang, di grup kita, misalnya kita punya grup WhatsApp, itu banyak yang leave group (keluar) gara-gara sibuk memperbincangkan berita hoax, mendiskusikan berita hoax, saling marah-marah di situ, mengungkapkan pendapat masing-masing, padahal hoax," tandasnya.

0 komentar

Posting Komentar