Takdir: Tentang Rezeki, Jodoh dan Kematian yang Bisa Kita Usahakan

Allah mengetahui semua hal, sebelum, saat dan setelah peristiwa terjadi tapi Allah adalah Dzat yang maha sempurna yang tidak bisa dibandingkan dalam semua aspek dengan semua mahluk ataupun semua ciptaan-Nya. Allah maha mengetahui, Allah mengetahui semua hal, sebelum, saat dan setelah peristiwa terjadi tapi Allah bisa tidak ikut campur dalam menentukan yang terjadi pada seseorang. Allah tahu semua hal tapi bukan karena pengetahuannya tersebut yang menyebabkan sesuatu terjadi pada kita melainkan sesuatu yang terjadi memang ialah konsekuensi atau ganjaran dari semua usaha dan tingkah laku serta pilihan kita.

Takdir

Contoh, saya melihat kulit pisang dilantai lalu ada seseorang yang akan lewat dan berpotensi menginjak kulit pisang tersebut. Saya tahu bahwa jika dia menginjak kulit pisang tersebut orang akan tergelincir, tapi apakah pengetahuan saya tersebut yang menyebabkan ia tergelincir? Tidak, melainkan dia tergelincir karena dia berjalan dan menginjak kulit pisang.

Takdir ada dua, ada yang sudah digariskan, dituliskan oleh Allah jauh sebelum kita ada. Takdir ini memberikan kita potensi bukan mengikat dan Allah tidak menghendaki ataupun tidak melarang kita berbeda atau mengusahakan diri agar menghindari takdir yang kita tidak kehendaki. Dalam arti kita boleh memilih takdir namun tetap tidak bisa keluar dari sistem yang ditetapkan Allah.

Kita mengenal istilah sunnatullah, yaitu kebiasaan, sistem yang diberlakukan oleh Allah. Contoh, apakah bisa orang sakit kemudian sembuh dari sakitnya tanpa minum obat? Apakah bisa seorang yang ingin menuju suatu tempat tapi tidak berjalan atau tidak menggunakan kendaraan? Sistemnya berkata tidak bisa. Apakah bisa menunggu rizki (makanan) jatuh dari langit? Sistemnya berkata tidak bisa. Akan tetapi perlu dicatat bahwa sistem yang tidak bisa namun Allah mempunyai kekuasaan penuh melakukan apapun yang disebut innayatullah, yaitu sesuatu terjadi diluar kebiasaan, akal dan logika manusia. Seperti penyakit yang sembuh setelah berbagai upaya medis gagal, dll.

Meluruskan Pendapat tentang Rizki, Jodoh dan Kematian

Rizki, telah ditetapkan namun besaran rizki yang kita dapat ialah tergantung usaha dan doa kita. Jadi kita telah benar berkeyakinan bahwa rizki sudah diatur namun dengan syarat kita berkeyakinan seperti itu saat kita sedang berusaha mencarinya (bekerja).

Jodoh, sama seperti takdir secara umum. Jodoh juga ada dua, ada yang Allah tetapkan dan ada yang Allah ketahui. Contoh, seseorang yang menikah dengan non-muslim itu bukan karena kesalahan Allah menetapkan ia demikian. Namun karena memang tidak ada atau minimnya usaha dalam memilih pasangan yang lebih baik.

Kematian juga demikian, ada amalan yang memperpanjang usai, seperti silaturahim. Orang memakai perangkat keamanan berkendara. Allah tahu kita akan mati dimana dan kapan, tapi pengetahuan Allah boleh jadi tidak sama dengan yang Ia tetapkan diawal.

Takdir Merupakan Sistem, Didalamnya Juga Terkandung Batasan

Jika anda melempar bola kedinding maka sunnatullah, bola itu akan memantul. Tapi siapa yang mengatur kekuatan dan arah pantulannya? Anda sendiri. Namun Allah yang menetapkan bahwa bola pasti memantul.

Jika anda memiliki dua mobil, satunya bisa menempuh kecepatan maksimal 100km/jam dan satunya lagi 50km/jam. Saat anda pakai, itu kendali penuh anda sendiri mau melajukannya secepat apa tapi tidak bisa melebihi batas kecepatan yang ditentukan oleh pabrik atau teknisi pembuatnya.

Fungsi Doa

Doa sangat dibutuhkan karena sebaik apapun kita menjalankan sistem yang telah ditetapkan Allah, tetap menjadi hal mutlak bahwa Allah-lah yang akan menjadikan hasilnya. Maka kita senantiasa selalu hanya mengharap dan berdoa kepada-Nya.

0 komentar

Posting Komentar