Pengaruh Eksistensi Wisata Kampung Warna Jodipan di Instagram Terhadap Persepsi Warga Luar Tentang Citra Malang Sebagai Smart City



PENGARUH EKSISTENSI WISATA KAMPUNG WARNA JODIPAN DI INSTAGRAM TERHADAP PERSEPSI WARGA LUAR TENTANG CITRA MALANG SEBAGAI SMART CITY
(STUDI KUANTITATIF PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG ASAL PULAU LOMBOK)

Oleh
HUMAEDI SUHADA
NIM. L1B016032







PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MATARAM
2018


PENGARUH EKSISTENSI WISATA KAMPUNG WARNA JODIPAN DI INSTAGRAM TERHADAP PERSEPSI WARGA LUAR TENTANG CITRA MALANG SEBAGAI SMART CITY
(STUDI KUANTITATIF PADA MAHASISWA  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG ASAL PULAU LOMBOK)

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
Humaedi Suhada
NIM. L1B016032


Mataram, 6 Juni 2018



Disetujui dan Disahkan Oleh
Dosen Pembimbing


Ir. I Wayan Suadnya, M.Agr.Sc., Ph.D.
NIP: 196112311989031012




PENGARUH EKSISTENSI WISATA KAMPUNG WARNA JODIPAN DI INSTAGRAM TERHADAP PERSEPSI WARGA LUAR TENTANG CITRA MALANG SEBAGAI SMART CITY
(STUDI KUANTITATIF PADA MAHASISWA  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG ASAL PULAU LOMBOK)

Keberadaan lokasi wisata di setiap daerah tentu berpengaruh pada keadaan atau kondisi lingkungan di sekitar tempat wisata tersebut dan juga berpengaruh pada masyarakat luar karena pemberitaan di media atau karena masyarakat luar atau pendatang yang menetap di sekitar lokasi wisata tersebut. Dengan mengetahui sendiri dan melihat sendiri tempat wisata yang sebelumnya hanya diketahui melalui media, tentu akan menciptakan persepsi yang menguatkan atau mengkonfirmasi apa yang diketahui melalui media atau justru berseberangan. Tempat wisata memang menjadi bagian penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang daerahnya sendiri dan juga persepsi pendatang yang melihat langsung. Salah satu lokasi wisata yang menjadi ikon sebuah daerah ialah wisata kampung warna Jodipan Kota Malang.
            Wisata kampung Jodipan Kota Malang banyak mendapat perhatian warganet yang melihat konten-konten digital di internet baik yang sengaja dibuat oleh pemkot untuk keperluan promosi maupun dari unggahan pengunjung. Kota Malang sejak lama juga dikenal sebagai tujuan favorit untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan, termasuk bagi lulusan sekolah menengah atas dari Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Banyak Universitas ternama yang berada di Kota Malang, dengan status tersebut ditambah dengan penataan kota yang ramah terhadap pelajar dan pendatang serta lingkungan yang indah, maka tidak berlebihan jika Malang dikenal sebagai Smart City di Indonesia.
            Dengan kemajuan teknologi, saat ini sangat populer aplikasi berbagi gambar dan video salah satunya yaitu Instagram, dengan cepat foto yang diunggah akan dilihat oleh banyak pengguna lainnya, terlebih lagi jika banyak yang menyertakan suatu tagar tertentu dalam postingan foto dan video maka akan menjadikan popularitas suatu objek wisata meningkat dengan cepat.  Seperti #kampungwarnawarni misalkan, dari yang penulis amati di Instagram hingga sekarang sudah ada 48.212 postingan yang menyertakan tagar tersebut dan tentunya akan terus bertambah dan akan mempengaruhi persepsi masyarakat tentang Kota Malang sebagai Smart City.





BAB I
Wisata merupakan hal yang menarik bahkan menjadi kebutuhan untuk sebagian orang. Berwisata juga merupakan salah satu ekspresi diri akan rasa syukur terhadap alam yang telah Tuhan ciptakan dengan sebaik-baiknya. Berbagai manfaat dapat dirasakan dari kegiatan wisata salah satunya ialah mendapatkan kesenangan dan ketenangan, serta melepas penat karena rutinitas. Oleh karena itu, objek wisata selalu memperoleh banyak kunjungan dari masyarakat sekitarnya juga masyarakat dari luar daerah. Selain itu karena adanya objek wisata memberikan tambahan penghasilan untuk penduduk sekitar dan menjadi ciri khas daerah.
Salah satu lokasi wisata yang berada di tengah kota Malang ialah kampung warna yang merupakan tempat wisata hasil perombakan perkampungan kumuh yang sempat akan digusur oleh pemerintah Kota Malang dan juga angga pengagguran di kampung tersebut tergolong tinggi. Namun penggusuran tidak terlaksana karena kampung Jodipan bertransformasi menjadi kampung wisata yang ramai dikunjungi dan terkenal di media maya khususnya Instagram. Dengan sebelumnya keberadaan kampung Jodipan yang dirasa sedikit mengurangi persepsi Smart City yang melekat pada Kota Malang, sekarang menjadi nilai tambah yang mendukung persepsi tersebut.
Kota Malang yang juga terkenal sebagai kota wisata untuk kesekian kalinya membangun dan meresmikan objek wisata baru yaitu kampung warna Jodipan, yang terletak di bawah jembatan kali Brantas di Kota Malang. Kampung Jodipan terletak di pinggiran kali Brantas, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Kampung Jodipan merupakan kampung yang sangat padat karena berisi ratusan rumah. Wisata kampung warna ini terletak di RT 06, 07, dan 08, RW 02 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Wisata kampung warna Jodipan adalah sebuah kampung atau tempat tinggal warga yang dicat dengan warna-warna yang mencolok sehingga membuat warga semakin betah dan juga menarik perhatian pengunjung, terutama dengan spot-spot foto yang menarik serta dekat dengan kampung wisata lain, yaitu kampung 3D (baca: Tridi) yang berada di sisi satunya dari sungai Brantas dan dihubungkan dengan jembatan kaca pertama di Indonesia.
Warga Jodipan selaku pengelola wisata mengenakan tarif yang murah untuk pengunjung yang ingin menikmati suguhan unik dan indah dari wisata kampung warna, yaitu Rp 2000 untuk hari kerja dan Rp 5000 pada akhir pekan atau sabtu-minggu. Kampung tersebut terus berkembang sejak diresmikan oleh walikota Malang pada 4 September 2016.
Adapun alasan penulis mengangkat tema pengaruh eksistensi wisata kampung warna Jodipan di Instagram terhadap persepsi masyarakat luar tentang Kota Malang yang dijuluki Smart City sebagai karya tulisnya adalah ingin mengetahui kaitan erat antara penyebaran informasi tentang wisata kampung warna Jodipan yang cepat melalui Instagram dan andilnya dalam membentuk citra Kota Malang sebagai Smart City pada mahasiswa  Univeritas Muhammadiyah Malang asal Pulau Lombok yang tinggal di Kota Malang.
Untuk memudahkan dalam penelitian maka peneliti merumuskan pertanyaan inti yang akan terjawab setelah penelitian selesai. Berikut ini ialah rumusan masalah, yaitu:
2.2.1.                  Adakah hubungan antara eksistensi wisata kampung warna Jodipan di Instagram dengan persepsi mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Malang asal Pulau Lombok tentang Kota Malang sebagai Smart City?
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui hubungan antara eksistensi wisata kampung warna Jodipan di Instagram dengan persepsi mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Malang asal Pulau Lombok tentang Kota Malang sebagai Smart City?
1.      Secara Teoritis
Dapat digunakan sebagai referensi ilmiah untuk memahami kontribusi teknologi khususnya sosial media Instagram dalam membentuk citra suatu wilayah.
2.      Secara Praktis
a.     Bagi peneliti
Memberikan tambahan wawasan ilmu pengetahuan dan tambahan pengalaman terjun melihat kondisi masyarakat secara langsung dan memahami penyebab suatu fenomena, khususnya efek eksistensi wisata kampung Jodipan di Instagram dalam membentuk persepsi Kota Malang sebagai Smart City.
b.      Bagi Universitas Mataram
Sebagai tambahan fenomena yang dapat dijadikan contoh dalam materi perkuliahan yang relevan.
c.       Bagi Mahasiswa
Sebagai tambahan wawasan untuk memahami materi mata kulilah yang relevan.
d.      Bagi Pemerintah Kota Malang
Memberikan tambahan informasi yang jelas bagi pemerintah kota Malang agar dapat melaksanakan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengoptimalkan promosi pariwisata.
e.       Bagi Masyarakat Keluarahan Jodipan
Memberikan informasi kepada masyarakat kelurahan Jodipan agar terus menambah inovasi agar wisata kampung warna Jodipan tetap ramai dikunjungi masyarakat.
f.       Bagi Peneliti Lain
Dapat menjadi tambahan literature dan menjadi penelitian untuk disempurnakan atau meneliti aspek lain yang masih berkaitan dengan penelitian ini.



BAB II
Menurut Desiderato yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmat (2004:51), menyebutkan bahwa persepsi ialah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi.
Ma’rat (1981:22), menyebutkan bahwa persepsi adalah proses pengamatan seseorang yang berasal dari pengamatan langsung, proses belajar atau sosialisasi, cakrawala, dan pengetahuan. Kemudian Ma’rat (1981:22), pun berpendapat bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:
a.       Faktor Pengalaman
b.      Faktor Proses Belajar
c.       Cakrawala
d.      Pengetahuan
Smart city (Kota Pintar) adalah sebuah pendekatan yang luas, terintegrasi dalam meningkatkan efisiensi pengoperasian sebuah kota, meningkatkan kualitas hidup penduduknya dan menumbuhkan ekonomi daerahnya. Cohen lebih jauh mendefinisikan Smart city dengan pembobotan aspek lingkungan menjadi: Smart city menggunakan ICT secara pintar dan efisien dalam menggunakan berbagai sumber daya, menghasilkan penghematan biaya dan energi, meningkatkan pelayanan dan kualitas hidup.
Smart city pada umumnya didasarkan atas 3 hal, pertama faktor manusia, kota dengan manusia-manusia yang kreatif dalam pekerjaan, jejaring pengerahuan, dan lingkungan yang bebas kriminal. Kedua faktor teknologi, kota berbasis teknologi komunikasi dan informasi. Ketiga faktor kelembagaan, masyarakat kota (pemerintah, kalangan bisnis, dan penduduk) yang memahami dan membuat keputusan berdasarkan teknologi informasi (Ahmad Numan dalam Manajemen Perkotaan).
Pada intinya konsep smart city ialah bagaimana cara menghubungkan infrastruktur fisik, infrastruktur sosial, dan infrastruktur ekonomi dengan menggunakan ICT, yang dapat mengintegrasikan semua elemen dalam aspek tersebut dan membuat kota yang lebih efisien dan layak huni.
2.2.1.                  Indikator Smart City
Berdasarkan indikator smart city oleh Hendro Muliarto, bahwa indikator smart city berbasis pada smart people yang merupakan dasar untuk sebuah kota yang cerdas, dan ditopang oleh kebijakan dan infrastruktur dari mobility, governance, economy dan environment yang juga cerdas sehingga menhgasilkan kualitas hidup cerdas seperti yang diharapkan.
Setidaknya ada 6 karakteristik yang harus dimiliki sebuah kota untuk menjadi smart city, yaitu:
1)      Smart Economy
Sebuah kota dapat dikatakan smart city apabila kota tersebut dapat menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Produktivitas yang tinggi dan semangat berinovasi yang tinggi untuk mewujudkan smart city.
2)      Smart Mobility
Ketersediaan infrastruktur ICT dan sistem transportasi yang aman serta inovatif.
3)      Smart Environment
Memiliki kemampuan mengelola sumber daya dan teknologi yang baik sehingga mampu menekan dampak dari penggunaan teknologi hingga serendah mungkin, maka salah satu ciri smart city ialah tingkat polusi yang rendah.
4)      Smart People
Terdapat partisipasi aktif dari masyarakat dan berperan untuk kepentingan publik, menjaga nilai-nilai pluraritas sosial, serta memiliki pola pikir yang terbuka.
5)      Smart Living
Tersedia fasilitas memadai untuk menunjang kehidupan yang layak seperti tersedianya fasilitas kesehatan dan pendidikan yang dapat dinikmati setiap warga anggota masyarakat.
6)      Smart Governance
Pemerintahan yang berjalan secara transparan dan ketersediaan pelayanan publik yang bagus dan prosedur birokrasi yang tidak menyulitkan warga masyarakat.
Berdasarkan tinjauan pustaka maka dapat ditarik hipotesis bahwa terdapat hubungan antara eksistensi wisata kampung warna Jodipan kota Malang dengan persepsi mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Malang asal Pulau Lombok bahwa Kota Malang adalah Smart City karena faktor pengalaman dengan melihat unggahan di Instagram tentang penataan kota Malang khususnya di kampung Jodipan secara teoritis sejalan dengan pembentuk persepsi yaitu faktor pengalaman.




BAB III
Penelitian ini akan dilakukan di daerah wisata kampung warna Jodipan, kota Malang, tepatnya di RT 06, 07, dan 08 RW 02. Pada daerah ini belum banyak penelitian yang berfokus pada bidang sosial atau wisata, tempat ini juga sebagai destinasi wisata baru di tengah kota Malang yang ramai dikunjungi wisatawan padahal sebelumnya hanya merupakan perkampungan kumuh yang hampir di tertibkan oleh pemerintah, namun ternyata muncul solusi yang lebih baik yaitu dengan membuat kampung wisata yang pastinya bersih dan mengikuti regulasi pemerintah untuk menjaga lingkungan.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksplanatif, peneliti dimana peneliti melakukan pengujian dengan mengaitkan satu variabel dengan variabel lainnya sebagai hubungan sebab akibat, kemudian menguji untuk mencari apakah ada pengaruh antara eksistensi wisata kampung warna Jodipan kota Malang dengan persepsi mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Malang asal pulau Lombok tentang kota Malang sebagai smart city, masing-masing adalah variabel x atau variabel independent atau variabel yang mempengaruhi variabel y atay variabel dependent.
Populasi yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah warga asal pulau Lombok yang berstatus mahasiswa di  Universitas Muhammadiyah Malang, karena berdasarkan observasi yang telah dilakukan di sosial media Instagram secara acak selama satu minggu, peneliti menemukan bahwa terdapat banyak postingan dari pengguna asal pulau Lombok yang ikut mengunggah foto dan video singkat kegiatan berwisata mereka di Instagram. Kemudian peneliti memperkecil dari warga pulau Lombok yang menetap atau berkunjung ke kampung warna Jodipan menjadi mahasiswa asal pulau Lombok yang berkunjung ke kampung warna Jodipan dan berstatus sebagai mahasiswa aktif di  Universitas Muhammadiyah Malang. Maka penentuan populasi menggunakan purposive sampling dan menghasilkan jumlah koresponden atau populasi sebanyak 338 berdasarkan data dari situs resmi UMM.
Karena populasi yang didapatkan masih terlalu besar, maka peneliti melakukan sampling kembali dengan menggunakan rumus Slovin (Kriyantono, 2006:160):
Keterangan:
n          = sample atau jumlah sampel
N         = jumlah populasi
e          = toleransi kesalahan atau ketidaktelitian, karena kesalahan pengambilan sampel, misalnya 5% kemudian dikuadratkan
            Dalam penelitian ini, peneliti menentukan toleransi kesalahan sebesar 5% (0,05) maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah:
Peneliti menggunakan teknik purposive sampling karena batasan dan kriteria objek penelitian yang relevan cukup jelas dan mudah untuk diindentifikasi, yaitu dengan mempertimbangkan domisili dan status kemahasiswaan.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer atau data yang diperoleh langsung dari responden dan lapangan.
Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data yang berupa kuesioner. Dimana menggunakan gabungan metode pengumpulan data yang berupa observasi dan angket. Dimana observasi untuk melengkapi angket dengan panduan observasi yang berupa checklist yang menggunakan skala likert untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial yang diangkat. Dengan skala likert variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang berupa pernyataan. Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif dan untuk keperluan analisis kuantitatif maka setiap jawaban diberi skor seperti berikut:
1.      Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                                   5
2.      Setuju/sering/positif diberi skor                                              4
3.      Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor                          3
4.      Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor             2
5.      Sangat tidak setuju/tidak pernah diberi skor                          1
Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang didapatkan menggunakan perangkat lunak SPSS dengan metode korelasi parsial Rank Kendall untuk menjelaskan korelasi atau menguji hubungan antara eksistensi wisata kampung warna Jodipan kota Malang dengan persepsi mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Malang asal pulau Lombok tentang kota Malang sebagai smart city.
Observasi atau pengumpulan data menggunakan kuesioner dan menggunakan skala likert untuk memberi ukuran. Data yang terkumpul akan dikategorikan berdasarkan jawaban, lalu seluruhnya dijumlahkan, dan menghasilkan data interval untuk kemudian dianalisis dengan menentukan nilai rata-rata berdasarkan scoring dari setiap jawaban responden.
Kemudian untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara dua variabel yang berpasangan yang masing-masing dinyatakan dengan skala ordinal, maka digunakan alat analisis korelasi parsial oleh Rank Kendall. Berikut rumus dasarnya:
Namun sebelumnya harus diketahui nilai antara dua variabel atau dua hubungan tersebut menggunakan rumus berikut:
Keterangan:
S          = C-D (batas atas dikurangi dengan batas bawah)
n          = jumlah sampel
            Rumus tersebut akan menghasilkan nilai S yang dibutuhkan untuk menemukan hasil dari Tx dan Ty. Setelah memperoleh nilai S maka selanjutnya menghitung nilai T untuk Tx dan Ty dengan rumus berikut:
Keterangan:
t           = jumlah pengamatan yang memiliki jenjang sama di dalam variabel yang akan dicari
Setelah semua hasil didapat, nilai τ untuk hubungan kedua variabel dapat dicari dan selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus Parsial Kendall.
Selanjutnya, kita harus melakukan statistik uji signifikansi. Untuk menguji signifikansi korelasi Rank Kendall, prosedur ujinya diberikan dalam tahapan sebagai berikut:
a.       H0 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel.
b.      H1 berarti terdapat hubungan yang signifikan anatara kedua variabel.

Untuk keperluan tingkat signifikansi atau taraf kepercayaannya, yaitu sebesar 95% atau p = 0,05 dengan derajat kebebasan N-2. Bila harga (t) hitung yang diperoleh lebih besar atau sama dengan (t) pada tabel taraf kepercayaan 95% atau p = 0,05 maka hipotesis dapat diterima.



BAB IV

Ardianto, Elvinaro, dkk. 2010. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa   Rekatama Media.
Arikuonto, Suharsimi. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
BBC. 2016. “Kampung warna-warni” Malang, dulu ‘kumuh’ sekarang jadi tempat wisata. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161016_majalah_kampung_warna_warni_malang di akses 5 Juni 2018
Cahiya. 2016. Empat kota pintar di dunia bagian 1. https://cahiya.com/empat-kota-pintar-di-dunia-bagian-1/ di akses 5 Juni 2018
Hamidi. 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: UMM Press.





0 komentar

Posting Komentar