Dampak Banjir Lotim, 367 Jiwa Masih di Pengungsian - HadaCircle

Kamis, November 23, 2017

Dampak Banjir Lotim, 367 Jiwa Masih di Pengungsian

Banjir Lombok Timur November 2017
Sejumlah warga Desa Sepit, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, mengumpulkan sisa- sisa harta benda yang bisa diselamatkan pasca banjir, kemarin (19/11).

Tiga hari setelah banjir bandang yang menerjang Kecamatan Jerowaru, Keruak, dan Sakra Barat  di Lombok Timur Sabtu (18/11), masih ada 367 warga yang mengungsi. Mereka yang mengungsi umumnya yang kehilangan tempat tinggal. Mereka mengungsi di tenda-tenda yang dibuat pemerintah dan ada pula yang mengungsi di sekolah dasar.

Di sisi lain, hingga kemarin, data sementara di tiga kecamatan tersebut, didapat 486 unit rumah yang rusak berat dan rusak ringan. Korban meninggal masih tetap dua orang. “Kalau total kerugian materi, masih terus dihitung oleh tim. Saat ini sedang bekerja,” kata Bupati Lotim H Ali Bin Dahlan, kemarin (20/11).

Soal pendataan kerugian ini, Bupati Ali Bin Dahlan menggelar rapat koordinasi yang dihadiri BPBD dan instansi terkait termasuk Camat Keruak, Camat Jerowaru dan Camat Sakra Barat. Hadir juga Wakil Bupati H Hairul Warisin dan Sekda Lotim H Roman Farli.

Bupati dalam pertemuan itu menegaskan, hasil pendataan masih belum benar-benar valid. Sehingga data-data yang muncul masih disebut sementara. Orang nomor satu di Lotim ini pun telah memerintahkan pendataan ulang dengan lebih rinci. Data tersebut juga akan divalidasi oleh BPBD.

Sementara untuk fasilitas jalan dan jembatan yang rusak akibat banjir, juga telah didata oleh dinas PUPR. Adapun jalan dan jembatan yang rusak ada di Kecamatan Keruak dan Jerowaru. Namun, meski rusak, beberapa jembatan masih bisa dilalui.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Lotim Ahmad Subhan mengungkapkan, semua pihak baik dari Pemkab Lotim maupun Provinisi tengah fokus pula pada kondisi paska bencana. Tanggap darurat telah ditetapkan tujuh hari. Dalam fase ini, pemerintah melakukan evakuasi warga, pembersihan lokasi, bantuan logistik, menyiapkan layanan air bersih, layanan kesehatan, dan pembuatan jembatan darurat.

“Berikutnya nanti setelah masa tanggap darurat yakni pada masa transisi kepemulihan pasca bencana dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas sarana prasarana yang rusak,” kata Ahmad Subhan.

Hingga kemarin, kondisi warga korban banjir berangsur normal. Mereka yang kehilangan rumah tetap mengungsi di tenda-tenda sambil berupaya memperbaiki keadaan rumahnya. Terutama yang rumahnya rusak parah. Sejumlah bantuan juga kemarin datang dari berbagai pihak. Baik berupa logistik dan makanan, hingga sejumlah perlengkapan yang mendesak. Bantuan berasal dari sejumlah institusi.

 Satu Komando

Sementara Kepala BPBD NTB H Muhammad Rum kemarin di Mataram mengungkapkan, terhadap korban banjir, ia mengaku pihaknya sudah menyalurkan bantuan logistik ke Lombok Timur dan Lombok Tengah. Selain itu juga dibangun beberapa posko bencana oleh BNPB setempat.

Meski demikian, hingga kemarin BPBD belum menghitung jumlah kerugian akibat bencana banjir Lombok Timur. Sehingga pihaknya belum bisa mengusulkan ke pusat untuk bantuannya. Tapi sore kemarin BNPB sudah turun mengecek kondisi lokasi banjir.

Terkait data korban dan kerusakan, Muhammad Rum meminta instansi lain tidak sembarangan mengeluarkan data. Jika belum ada posko terpadu, mereka bisa melakukan pendataan tetapi harus tetap dikoordinasikan dengan BPBD setempat.

”Jika sudah ada komandan yang ditunjuk kepala daerah, wajib hukumnya data keluar dari satu orang komandan,” tegasnya.

Menurutnya, siapapun tidak boleh mengeluarkan rilis sembarangan agar data tidak simpang siur. Tidak boleh juga instansi yang mengklaim menangani sendiri sekian banyak korban. Mereka harus melebur ke dalam satu komando BPBD.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik menyebutkan, Tagana NTB sudah membuka posko induk di Desa Sepapan. Sejak kemarin mereka melakukan droping logistik dan bantuan lainnya bagi korban bencana. Seperti beras, minyak goreng, makanan siap saji, air dan sebagainya. Tagana juga melakukan pendataan dan membuka dapur umum.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD NTB H Nurdin Ranggabarani meminta kepada pemerintah daerah bergerak cepat menangani korban bencana. Apa saja upaya yang bisa dilakukan, maka harus segera dieksekusi, apakah itu soal perbaikan jembatan, rumah rusak. Terutama di daerah Jerowaru dan Keruak yang cukup parah.

”Supaya segera diperbaiki,” katanya.

Polisi PPP itu juga meminta agar alokasi dana tidak terduga juga ditambah tahun depan. Sebab NTB berada di wilayah yang rawan bencana, semua potensi bencana ada di NTB. Mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, gunung berapi, dan sebagainya. Dengan besarnya potensi bencana itu maka sewajarnya dana tidak terduga diperbesar.
Comments


EmoticonEmoticon