Kericuhan Politik & Masa Depan Zimbabwe

HadaCircle

ANN: Dalam Tinjauan hari ini, kami akan menghadirkan penjabaran Chizuko Sato, Peneliti pada Institut Perekonomian Berkembang JETRO, yang adalah pakar akan situasi politik di Afrika bagian selatan. Ia akan menerangkan mengenai latar belakang kekisruhan politik di Zimbabwe serta masa depan negara tersebut.

Pergolakan kekuasaan internal di dalam partai ZANU-PF yang berkuasa mengenai penerus presiden yang menjabat, telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada bulan ini, Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa dipecat dari jabatannya. Diyakini bahwa pemecatan itu dipimpin oleh istri Presiden Robert Mugabe yaitu Grace, yang punya ambisi untuk menjadi presiden selanjutnya setelah suaminya meninggal. Hal ini mendorong militer untuk mengambil tindakan. Penting untuk disebutkan di sini, bahwa masyarakat menyokong langkah yang diambil militer baru-baru ini. Secara khusus, para veteran militer, yang hingga sebelumnya masih menyokong Mugabe, telah menekan presiden untuk turun. Tetapi, intervensi militer dalam politik tidak dapat diterima, baik oleh seluruh negara Afrika maupun oleh komunitas internasional. Karena khawatir keabsahan pemerintahan baru akan dipertanyakan, pihak militer menekankan bahwa perkembangan politik baru-baru ini bukanlah hasil dari kudeta.

Menurut Sato, rampungnya kericuhan politik itu bukanlah pengunduran diri Mugabe, namun Mnangagwa mengambil alih peran sebagai presiden. Kini menjadi penting bahwa peralihan kekuasaan dilakukan dalam cara yang dapat diterima oleh komunitas internasional, negara-negara Afrika dan rakyat Zimbabwe. Jika pemerintahan baru diterima sebagai sah, bukan seperti halnya pemerintahan Mugabe, dan jika pemerintahan baru memperbolehkan partai-partai politik oposisi untuk melakukan kegiatan politik dalam cara yang adil dan bebas, maka itu dapat mendorong warga Zimbabwe yang bekerja di luar negeri untuk kembali ke negaranya. Karena dihadapi dengan kesulitan ekonomi, sejumlah warga Zimbabwe meninggalkan negara itu untuk mencari pekerjaan di negara tetangga Afrika Selatan, Botswana dan bahkan Inggris. Sanksi ekonomi dapat dicabut, sehingga memungkinkan negara-negara asing menanamkan investasi atau menyediakan bantuan, yang membantu menghidupkan kembali ekonomi. Namun, Mnangagwa diyakini berada di balik ancaman keras terhadap para pendukung partai oposisi yang terlihat dalam pemilu presiden tahun 2008 yang diadakan di bawah Mugabe. Ia dipandang sebagai orang yang mendorong kebijakan yang garang, dan masih belum jelas jika pemerintahan yang benar-benar demokratis dapat dibentuk. Apakah pemilihan presiden dan pemilihan umum yang dijadwalkan tahun 2018 akan diadakan dalam cara yang bebas dan adil, ini akan menjadi ujian yang menentukan bagi masa depan Zimbabwe.

Demikian Tinjauan hari ini.

0 komentar

Posting Komentar