Prospek Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik

APEC 2017

KTT Kerja Sama Asia Pasifik (APEC) akan dibuka di Vietnam pada hari Jumat (10/11/2017). Bahasan utama dalam agenda kali ini adalah rencana penciptaan Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik atau FTAAP.

Pertemuan tahunan para pemimpin APEC ini digelar untuk saling bertukar pendapat tentang kerangka kerja perdagangan. Tujuannya adalah mencapai perdagangan dan investasi bebas dan terbuka di kawasan pada 2020.

Dalam Tinjauan kali ini Profesor Yorizumi Watanabe dari Fakultas Manajemen Kebijakan Universitas Keio mengulas tentang prospek FTAAP.

Watanabe mengatakan, KTT APEC kali ini akan menjadi yang pertama bagi Presiden AS Donald Trump. Mengingat pemerintahannya memusatkan perhatian pada pendekatan bilateral dalam isu perdagangan, maka fokus perhatiannya adalah apa yang akan ia sampaikan dalam pertemuan kerangka kerja multinasional untuk kerja sama ekonomi di antara 21 negara dan kawasan tersebut.

Saat pertemuan puncak Jepang-AS berlangsung pada Senin (06/11/2017) lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe menekankan bahwa Jepang akan bekerja bersama AS menuju perdagangan yang lebih bebas dan terbuka di kawasan Asia Pasifik. Dalam pertemuan puncak mendatang, AS mungkin akan mengemukakan kecenderungan pro-bilateral dan kesiapannya untuk menerapkan sanksi terhadap negara-negara yang memiliki defisit perdagangan yang besar dengan AS. Dalam kasus tersebut, Jepang diharapkan akan meyakinkan AS untuk memodifikasi kebijakannya. Itu adalah tanggung jawab yang besar kata Watanabe.

Terkait FTAAP, Jepang akan terus menekan perundingan guna mencapai kesepakatan. Bagaimana pembicaraan berlangsung dalam menentukan standar global di beberapa sektor seperti perdagangan elektronik atau E-commerce, infrastruktur dan lingkungan hidup akan menjadi kepentingan besar bagi Jepang. Apabila ada perusahaan Jepang ingin ambil bagian dalam proyek pembangunan kota di Cina. Jepang perlu mengamankan aturan perdagangan guna memastikan standar domestik Cina tidak akan menghambat rencana perusahaan tersebut.

Setiap anggota APEC memainkan peran atas inisiatif masing-masing guna mewujudkan investasi dan perdagangan yang lebih lancar. Misalnya, Jepang memimpin perundingan TPP di antara 11 negara anggotanya setelah AS mundur. Dan ASEAN berupaya untuk menghapus bea masuk lebih dari 95 persen barang dan meliberalisasikan bisnis jasa di bawah kerangka kerja Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Watanabe meyakini bahwa di KTT yang akan datang, para peserta perlu untuk membuat AS menyadari bahwa ada kerugian bagi negara tersebut dalam perspektif menengah dan jangka panjang jika tetap keluar dari upaya ini. Mendesak AS untuk mengubah sikap adalah misi tersembunyi bagi KTT ini kata Watanabe.

0 komentar

Posting Komentar