Memahami Tuntunan Al-Qur'an untuk Menuju Kedamaian di Tengah Perbedaan

Sharing Session - HadaCircle

Mencari Titik Temu

Mendasari seluruh sikap penuh kedamaian terhadap umat non-Islam ini adalah keluasan titik temu antara Islam dengan agama-agama tersebut. Umat Islam tidak penranh diperintahkan untuk bersikap ‘saling meniadakan’ dengan kaum non-muslim. Sebaliknya, Al-Quran justru mengarahkan umat Islam untuk saling menghormati dan bekerjasama dengan non-muslim, atas dasar persamaan yang dimiliki antar agama, sebagaimana termuat dalam Ali ‘Imran (ayat 64) yang berisikan perintah agar umat Islam berkata:

“Hai  Ahli Kitab, marilah kepada satu kata sepakat antara kita yang tidak ada perselisihan di antara  kami  dan  kamu, yakni  bahwa  kita  tidak  menyembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak pula sebagian  kita  menjadikan  sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah”.

Dengan kata lain, terlepas dari agama mereka, selama mereka mempercayai Tuhan dan bersedia menjalankan perintah-perintah-Nya, kalangan non-muslim adalah sekutu kaum muslim.

Upaya untuk membangun hubungan harmonis itu akan tercederai dengan sikap-sikap yang menganggap diri paling benar seraya melecahkan keyakinan orang lain. Di dalam Surat Saba’ ayat 26 dinyatakan, “Kami (muslim) atau kamu (nonmuslim) di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata”. Ayat terakhir ini mengandung pengertian bahwa boleh jadi kamu yang benar atau boleh jadi juga kami yang benar.

Ayat selanjutnya menjelaskan:

“Katakan (wahai Nabi Muhammad kepada orang-orang non-muslim), kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosa kami dan kami pun tidak akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan. Katakanlah, Tuhan kita akan menghimpun kita di hari kemudian. Kemudian Dia akan memberi putusan yang benar (haq), siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak perlu mempersoalkan kepercayaan yang berbeda, apakah itu Islam, Kristen, atau Yahudi. Yang penting, bagaimana masing-masing mempercayainya sendiri. Bahkan dalam ayat lain Allah berfirman, “Jangan  memaki sembahan orang. Karena, kalau kamu memaki sembahan mereka, maka mereka juga akan memaki sembahanmu.”

Terkait dengan hal ini, Nabi Saw. bersabda, “Dosa yang paling besar dari seorang  manusia adalah memaki ayahnya”. Sahabat Nabi bertanya, bagaimana ada orang yang memaki ayahnya sendiri? Nabi Saw. kemudian menjawab, “karena orang tersebut memaki ayah orang lain, maka orang lain tersebut akan memaki ayahnya”.

Kalau saja umat Islam bersedia kembali menjalankan perintah-perintah Al-Quran dan mengikuti teladan Nabi Muhammad, niscaya jarak sosial yang tercipta antara umat Islam dan kalangan non-muslim saat ini akan lebih mudah terjembatani.

Al-Quran sudah secara jelas mengajarkan etika beragama dalam berhubungan dengan kalangan non-muslim. Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Anfal (ayat 61): ””Apabila  mereka  condong  kepada  salam  (perdamaian), maka condong  pulalah  kepadanya,  dan  berserah  dirilah  kepada Allah.”

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

0 komentar

Posting Komentar