Komunikasi dan Etnografi Komunikasi

Etnografi Komunikasi

Unduh Komunikasi dan Etnografi Komunikasi (Versi 1) - (2)






BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA




A. Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu communis, yang berarti

“sama”. Communico, communicatio atau communicare berarti membuat sama (make to common). Jadi, komunikasi dapat terjadi apabila adanya pemahaman yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan.

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain (Wikipedia).

Beberapa ahli mendefinisikan istilah komunikasi seperti berikut ini:

Bernard Barelson dan Garry A. Steiner. Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dan sebagainya.

Carl I. Hovland. Komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.

Colin Cherry. Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.





Everett M. Rogers. Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Gerald R. Miller. Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk memengaruhi perilaku mereka.

New Comb. Komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.

William J. Seller. Komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

Harold D. Lasswell. Komunikasi adalah siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa, dan apa pengaruhnya.


2. Unsur-Unsur Komunikasi

Definisi  Lasswell  tentang  komunikasi  secara  eksplisit  dan  kronologis

menjelaskan tentang lima komponen yang terlibat dalam komunikasi (Riswandi, 2009:3), yaitu:

a. Siapa, yakni pelaku komunikasi pertama yang mempunyai inisiatif atau sumber.

b. Mengatakan apa, yakni isi informasi yang disampaikan.

c. Kepada siapa, yakni pelaku komunikasi lainnya yang dijadikan sasaran penerima.

d. Melalui saluran apa, yakni alat atau saluran penyampaian informasi.

e. Dengan akibat atau hasil apa, yakni hasil yang terjadi pada diri penerima.





Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2011) dipaparkan bahwa terdapat beberapa unsur komunikasi, termasuk lima unsur di atas, ditambah dengan umpan balik dan lingkungan.

1. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Sumber sering disebut pengirim, komunikator, atau dalam bahasa Inggris disebut source, sender atau encoder.

2. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda. Dalam bahasa Inggris disebut message, content, atau information.

3. Media

Media ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Contoh media dalam komunikasi antarpribadi ialah pancaindera, telepon, surat, telegram. Sementara untuk media massa dibedakan atas media cetak dan media elektronik. Namun karena makin canggihnya teknologi komunikasi saat ini, yang bisa mengkombinasikan (multimedia) antara satu dan lainnya, makin kaburlah batas-batas untuk membedakan antara media komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi. Selain itu, terdapat pula media komunikasi sosial, seperti rumah-rumah ibadah, balai desa, arisan, panggung kesenian, dan pesta rakyat.






4. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai, atau negara. Penerima biasa disebut dengan khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver.

5. Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakuka oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang. Sehingga, pengaruh bisa juga diartikan sebagai perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.

6. Tanggapan Balik

Menurut Porter dan Samovar, umapan balik adalah informasi yang tersedia bagi sumber yang memungkinkannya menilai keefektifan komunikasi yang dilakukannya (Mulyana dan Rahmat, 2006). Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk dari pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain, seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.





7. Lingkungan

Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.


3. Karakteristik dan Fungsi Komunikasi

Berdasarkan   definisi-definisi   tentang   komunikasi,   dapat   diperoleh

gambaran bahwa komunikasi mempunyai beberapa karakteristik (Riswandi, 2009:4) sebagai berikut:

- Komunikasi adalah suatu proses.

- Komunikasi adalah upaya yang disengaja dan mempunyai tujuan.

- Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat.

- Komunikasi bersifat simbolis.

- Komunikasi bersifat transaksional.

- Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu.

Menurut Harold D. Lasswell dalam Nurudin (2008:15), fungsi-fungsi komunikasi ialah sebagai berikut:

1. Penjagaan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment). Fungsi ini dijalankan oleh para diplomat, etase dan koresponden luar negeri sebagai usaha menjaga lingkungan.





2. Menghubungkan bagian-bagian yang terpisahkan dari masyrakat untuk menanggapi lingkungannya (correlation of the part of sosiety in responding to the environment). Fungsi ini diperankan oleh para editor, wartawan dan juru bicara sebagai penghubung respon internal.

3. Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi (transmission of the social heritage). Fungsi ini adalah para pendidik di dalam pendidikan formal atau informal karena terlibat mewariskan adat kebiasaan, nilai dari

generasi ke generasi.

Selain fungsi di atas, Charles R. Wright menambahkan fungsi lain yaitu entertainment (hiburan) yang menunjukkan pada tindakan-tindakan komunikatif yang terutama dimaksudkan untuk menghibur dengan tindakan efek-efek instrumental yang dimilikin


4. Komunikasi sebagai Aktivitas Simbolik

Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan

menggunakan lambang atau simbol. Pesan atau message merupakan seperangkat simbol yang mewakili perasaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber atau komunikator. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang (Riswandi, 2009:25). Lambang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

a. Sembarangan, mana suka, dan sewenang-wenang. Artinya, apa saja bisa dijadikan lambang, tergantung pada kesepakatan bersama. Kata-





kata, isyarat anggota tubuh, tempat tinggal, jabatan, hewan, peristiwa, gedung, bungi, waktu, dan sebagainya bisa dijadikan lambang.

b. Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, akan tetapi manusialah yang memberinya makna. Makna sebenarnya dari lambang ada dalam kepala kita, bukan terletak pada lambang itu sendiri.

c. Lambang itu bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat ke tempat lain, atau dari suatu konteks ke konteks yang lain.

Lambang atau simbol terbagi atas dua, yakni verbal dan nonverbal. Simbol verbal ialah bahasa atau kata-kata. Bahasa dapat didefinisikan seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur, sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti. Terdapat tiga fungsi bahasa yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif, yakni: (a) untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita, (b) untuk membina hubungan yang baik di antara sesama manusia,

(c) untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia (Cangara, 2011:101).

Simbol nonverbal disebut juga isyarat atau simbol yang bukan kata-kata. Simbol nonverbal sangat berpengaruh dalam suatu proses komunikasi. Menurut Mark Knapp (1978), penggunaan simbol-simbol nonverbal dalam berkomunikasi memiliki beberapa fungsi (Cangara, 2011: 106), yakni:

(a) untuk meyakinkan apa yang diucapkan (repetition), (b) untuk menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kat-kata (substitution),

(c) menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity), dan

(d) menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.





Simbol nonverbal dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk (Cangara, 2011:107-115), antara lain:

a. Kinesics, yakni kode nonverbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan.

b. Gerakan mata, yakni isyarat yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan mata.

c. Sentuhan, yakni isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan.

d. Paralanguage, yakni isyarat yang ditimbulkan dari tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu di balik apa yang diucapkan.

e. Diam, yakni isyarat yang tidak semata-mata mengandung arti bersikap negatif, tetapi bisa juga melambangan sikap positif.

f. Postur tubuh, yakni isyarat yang dapat melambangkan karakter seseorang.

g. Kedekatan dan ruang, yakni isyarat yang dapat melambangkan hubungan antara dua objek berdasarkan kedekatan dan ruang di antara mereka.

h. Artifak dan visualisasi, yakni hasil kerajinan manusia (seni), baik yang melekat pada diri manusia maupun yang ditujukan untuk kepentingan umum. Artifak juga menunjukkan status atau identitas diri seseorang atau suatu bangsa.

i. Warna, yakni isyarat yang dapat memberi arti terhadap suatu objek. Hampir semua bangsa di dunia memiliki arti tersendiri pada warna, seperti pada bendera nasional, serta upacara-upacara ritual lainnya yang sering dilambangkan dengan warna-warni.





Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ke dalam 2 kategori utama (Riswandi, 2009:71), yaitu:

a. Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan, dan parabahasa.

b. Ruang, waktu, dan diam.

Menurut Hartako & Rahmanto (1998), pada simbol dapat dibedakan atas

tiga bagian (Sobur, 2009:157), yaitu:

a. Simbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidur sebagai lambang kematian.

b. Simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu (misalnya keris dalam kebudayaan Jawa).

c. Simbol individual yang biasanya dapat ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang.


5. Pemaknaan Simbol

Sebuah komunikasi yang efektif akan terjadi apabila kedua belah pihak

yang melakukan transaksi pesan atau informasi saling memahami atau mengerti pesan yang disampaikan. Pada dasarnya komunikasi memang merupakan proses pemberian dan penafsiran pesan. Sebelum mengirim pesan, komunikator mengolah dan menkoding pesannya sedemikian rupa, sehingga pesan tersebut memenuhi tujuan komunikasi. Begitu juga komunikan, ia akan mencoba menafsirkan pesan-pesan yang diterimanya dan memahami maknanya.





Astrid S. Sutanto (1978) dalam Arifin (2010:25) mengatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna. Pesan merupakan seperangkat lambang atau simbol yang memiliki makna tertentu. Makna inilah yang harus dimengerti oleh setiap pelaku komunikasi. Simbol-simbol yang digunakan oleh manusia selain sudah ada yang diterima menurut konvensi internasional, seperti simbol-simbol lalu lintas, alfabet latin, simbol matematika, juga terdapat simbol-simbol lokal yang hanya bisa dipahami oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sehingga, pemberian makna pada simbol adalah suatu proses komunikasi yang dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya yang berkembang pada suatu masyarakat (Cangara, 2011:101).

Clifford Geertz (dalam Sobur, 2009:178) memaparkan hubungan antara makna dan budaya sebagai berikut:

Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan, dan memperkembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap kehidupan ini.

Makna dapat dibedakan atas makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif ialah makna yang biasa ditemukan di dalam kamus, bersifat umum atau universal. Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya, yang dapat digunakan untuk menyampaikan hal-hal faktual. Makna denotatif tidak mengalami penambahan-penambahan makna, karena itulah makna denotatif lebih bersifat publik.

Sedangkan makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, perasaan, yang ditimbulkan oleh kata atau simbol tersebut.





Makna konotatif merupakan makna-makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi (Kriyantono, 2006:270). Sumardjo & Saini (1994) mengatakan bahwa makna konotatif sebuah kata dipengaruhi dan ditentukan oleh dua lingkungan, yaitu lingkungan tekstual dan lingkungan budaya (Sobur, 2009:266).

Ada pula klasifikasi makna yang lain, yakni makna subjektif dan makna konsensus. Makna subjektif adalah makna yang mengacu pada interpretasi individual, dikonstruksi melalui proses-proses kognitif manusia. Sementara makna konsensus adalah makna yang diinterpretasikan secara kolektif, dikonstruksi melalui proses-proses interaksi manusia (Zakiah, 2008:185). Kedua makna tersebut pada hakikatnya merupakan makna-makna yang menunjukkan realitas sosial. Asumsinya adalah bahwa realitas secara sosial dikonstruksi melalui, kata, simbol, dan perilaku dari para anggotanya. Kata, simbol, dan perilaku ini merupakan sesuatu yang bermakna. Pemahaman atasnya akan melahirkan pemahaman atas rutinitas sehari-hari dalam praktik-praktik subjek penelitian.


B. Etnografi Komunikasi

Istilah etnografi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata ethno (bangsa), dan graphy (menguraikan). Jadi, etnografi adalah usaha untuk menguraikan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan suatu bangsa. Etnografi merupakan embrio dari antropologi yang lahir pada tahap pertama dari perkembangannya , yaitu sebelum tahun 1800-an (Mudjiyanto, 2009:79). Etnografi merupakan hasil-hasil catatan budaya yang djumpai oleh penjelajah Eropa saat mereka mencari rempah-rempah ke Indonesia.





Etnografi modern muncul pada tahun 1920-an dan 1930-an, ketika para ahli antropologi, seperti Malinowski (1922), Boas (1928), dan Mead (1955) menyelidiki berbagai budaya non-Barat dan cara-cara hidup orang-orangnya. Di bidang komunikasi terencana, riset etnografi telah mengeksplorasi topik-topik besar seperti Hubungan Masyarakat di Bangalore, India (Sriramesh, 1996), pengalaman konsumsi pada etnis minoritas kelompok orang-orang Pakistan di Inggris (Jamal dan Chapma, 2000), identitas profesi di sebuah biro iklan Swedia (Alvesson, 1994), dan oleh Ritson dan Elliot (1999) yang meneliti penafsiran iklan oleh siswa-siswa sekolah di Inggris (Mudjiyanto, 2009:80).

Sarantakos (1993) mengemukakan bahwa budaya merupakan konsep sentral dari etnografi (Mudjiyanto, 2009:79). Budaya yang di dalamnya terkandung ukuran, pedoman, dan petunjuk bagi kehidupan manusia, yakni norma dan nilai yang menjadi standar berinteraksi, dibangun oleh masyarakat dari generasi ke generasi melalui proses komunikasi yang panjang. Nilai dan norma terlembagakan dalam kehidupan masyarakat, dipupuk dan dihargai sebagai pedoman atau kaidah bertingkah laku.

Perbendaharaan perilaku seseorang sangatlah bergantung pada budaya dimana ia dibesarkan. Bila budaya beraneka ragam, maka akan menghasilkan praktik-praktik komunikasi yang beraneka ragam pula. Keragaman budaya menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, dari berbagai konsep yang digunakan untuk menggambarkan kebudayaan.





Hofstede (1994) menyebutkan empat konsep yang secara keseluruhan dapat mewakili berbagai manifestasi kebudayaan secara umum, yakni simbol-simbol, kepahlawanan, kegiatan ritual, dan nilai-nilai (Zakiah, 2008:181).

Simbol dapat berbentuk kata-kata, gerakan tangan, gambar, atau objek yang memuat makna khusus dan yang hanya dapat dipahami oleh anggota kelompok yang berada di dalam sebuah kultur. Kepahlawanan biasanya menyangkut seseorang, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, baik yang nyata maupun yang berupa gambaran atau imajinasi saja, yang memiliki sejumlah karakteristik yang dianggap bernilai bagi kultur tersebut. Ritual merupakan aktivitas koletif, secara teknis tampak seperti mengada-ada di dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Namun, dalam kebudayaan, aktivitas ini memiliki fungsi sosial yang dianggap penting dan harus mereka lakukan demi kepentingan budaya yang bersangkutan. Simbol, kepahlawanan, dan ritual dapat dilihat secara jelas dalam bentuk praktiknya sehari-hari. Namun, makna kulturnya tidak demikian. Makna tersebut relatif tidak terlihat dan hanya bisa dipahami secara jelas oleh orang dalam kultur bersangkutan. Hal yang dimaksud ialah nilai yang hendak disampaikan dari praktik-pratik yang ada dari sebuah kebudayaan.

Etnografi bertujuan menguraikan suatu budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya, baik yang bersifat material seperti artefak budaya (alat-alat, pakaian, bangunan dan sebagainya) maupun yang bersifat abstrak, seperti pengalaman, kepercayaan, norma, dan sistem nilai kelompok yang diteliti.

Etnografi sebagai metode yang berada di bawah perspektif teoritik interpretivisme merupakan suatu cara bagi peneliti untuk mendekati objek





penelitian dalam kerangka interpretivisme. Adapun landasan pemikiran adalah

bahwa realitas sosial diciptakan dan dilestarikan melalui pengalaman subjektif

dan intersubjektif dari para pelaku sosial. Para pelaku sosial ini dipandang aktif

sebagai interpreter-interpreter yang dapat menginterpretasikan aktivitas simbolik

mereka, seperti permainan bahasa, ritual, metafora-merafora, dan drama-drama

sosial.

Metode etnografi dapat diterapkan dalam penelitian komunikasi.

Penerapan dalam tataran kajian etnografi komunikasi merupakan metode etnografi

yang diterapkan untuk melihat pola-pola komunikasi dalam suatu kelompok.

Etnografi komunikasi akan berbeda dengan antropologi linguistik dan

sosiolinguistik, karena etnografi komunikasi memfokuskan kajiannya pada

perilaku-perilaku komunikasi yang melibatkan bahasa dan budaya (Kuswarno,

2008:16).  Menurut  Gerry  Philipsen  (dalam  Mudjiyanto,  2009:83),  ada  empat

asumsi etnografi komunikasi, yaitu sebagai berikut:

Pertama, para anggota budaya akan menciptakan makna yang digunakan bersama. Mereka menggunakan kode-kode yang memiliki derajat pemahaman yang sama. Kedua, para komunikator dalam sebuah komunitas budaya harus mengkordinasikan tindakan-tindakannya. Oleh karena itu di dalam komunitas itu akan terdapat aturan atau sistem dalam komunikasi. Ketiga, makna dan tindakan bersifat spesifik dalam sebuah komunitas, sehingga antara komunitas yang satu dan lainnya akan memiliki perbedaan dalam hal makna dan tindakan tersebut. Keempat, selain memiliki kekhususan dalam hal makna dan tindakan, setiap komunitas juga memiliki kekhususan dalam hal cara memahami kode-kode makna dan tindakan.

Dalam sebuah penelitian etnografi komunikasi, ada tiga pertanyaan yang

harus dikejar, yaitu pertanyaan tentang : (1) norma,  (2) bentuk, dan (3) kode-kode

budaya (Mudjiyanto, 2009:84).





Pertanyaan tentang norma adalah pertanyaan yang menyangkut dengan pencarian cara-cara komunikasi yang digunakan untuk memantapkan seperangkat patokan dan gagasan tentang benar dan salah yang mempengaruhi pola-pola komunikasi. Pertanyaan tentang bentuk adalah pertanyaan yang terkait dengan jenis komunikasi yang digunakan dalam komunitas, yaitu menyangkut suatu perilaku yang dapat dikategorikan sebagai komunikasi. Pertanyaan tentang kode-kode budaya memberikan perhatian pada makna simbol dan perilaku yang digunakan sebagai komunikasi dalam komunitas budaya.

LeCompte dan Schensul (1999) menuangkan langkah-langkah umum

dalam sebuah penelitian etnografi, yakni:

a. Temukan informan yang tepat dan layak dalam kelompok yang dikaji.

b. Definisikan permasalahan, isu, atau fenomena yang akan dieksplorasi.

c. Teliti bagaimana masing-masing individu menafsirkan situasi dan makna yang diberikan bagi mereka.

d. Uraikan apa yang dilakukan orang-orang dan bagaimana mereka mengkomunikasikannya.

e. Dokumentasikan proses etnografi.

f. Pantau implementasi proses tersebut.

g. Sediakan informasi yang membantu menjelaskan hasil-hasil riset.

Teknik pengumpulan data lapangan dapat menggunakan salah satu atau


lebih yang termasuk dalam metode etnografi, yaitu observasi partisipatif,


wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan life history (Rejeki,


2004).


Adapun unit analisis utama dalam penelitian etnografi komunikasi adalah


interpretasi dari para pelaku sosial, terutama mereka yang termasuk dalam





golongan lapisan pertama, yang terdiri dari para anggota komunitas kebanyakan.


Selain itu, unit analisis lainnya adalah tindakan dan interaksi. Tekniknya adalah


teknik kualitatif melalui tahap-tahap pengkajian data, mereduksi data,


mengkategorikan data, dan memeriksa keabsahan data. Setelah data dikumpulkan,


dianalisis, kemudian dilakukan interpretasi data, yang bertujuan untuk


mendeskripsikan fakta yang ada.



C. Teori Interaksi Simbolik

Salah satu pijakan teoritis yang memberikan penjelasan tentang model penelitian etnografi komunikasi adalah teori interaksi simbolik. Istilah interkasi simbolik sendiri diciptakan oleh Herbert Blumer (1962) dalam melanjutkan penelitian yang pernah dilakukan oleh George Herbert Mead (1863-1931).

Interaksionisme simbolik merupakan sebuah cara berpikir mengenai pikiran, diri sendiri, dan masyarakat, yang telah memberi kontribusi yang besar terhadap tradisi sosiokultural dalam teori komunikasi (Littlejohn, 2008). Interaksi adalah istilah dan garapan sosiologi, sedangkan simbolik adalah garapan komunikologi atau ilmu komunikasi.

Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2006:68). Simbol adalah objek sosial dalam interaksi yang digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan dan





mengubah objek di dalam interaksi. Simbol sosial tersebut dapat mewujud dalam

bentuk objek fisik (benda-benda),  kata-kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan,

ide, dan nilai), serta tindakan (yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam

berkomunikasi dengan orang lain) (Ahmadi, 2008:302).

Berdasarkan apa yang menjadi dasar dari kehidupan kelompok manusia

atau masyarakat, beberapa ahli dari paham interaksi simbolik menunjuk pada

“komunikasi”  atau  secara  lebih  khusus  “simbol-simbol”  sebagai  kunci  untuk

memahami kehidupan manusia itu. Interaksi simbolik menunjuk pada sifat khas

dari interaksi antarmanusia. Artinya, manusia saling menerjemahkan dan

mendefinisikan  tindakannya,  baik  dalam  interaksi  dengan  orang  lain  maupun

dengan dirinya sendiri. Proses interaksi yang terbentuk melibatkan pemakaian

simbol-simbol bahasa, ketentuan adat-istiadat, agama, dan pandangan-pandangan.

Menurut Blumer, ada lima konsep dasar dalam interaksi simbolik (Ahmadi,

2008:303-304), yakni sebagai berikut:

Pertama, konsep diri (self), memandang manusia bukan semata-mata organisme yang bergerak di bawah pengaruh stimulus, baik dari luar maupun dari dalam, melainkan organisme yang sadar akan dirinya. Ia mampu memandang diri sebagai objek pikirannya dan bergaul atau berinteraksi dengan dirinya sendiri.

Kedua, konsep perbuatan (action), karena perbuatan manusia dibentuk dalam dan melalui proses interaksi denga diri sendiri, maka perbuatan itu berlainan sama sekali dengan gerak makhluk selain manusia. Perbuatan manusia tidak semata-mata sebagai reaksi biologis, melainkan hasil konstruksinya.

Ketiga, konsep objek (object), memandang manusia hidup di tengah-tengah objek. Inti dari objek itu tidak ditentukan oleh ciri-ciri intrinsiknya, melainkan oleh minat orang dan arti yang dikenakan kepada objek-objek itu.

Keempat, konsep interaksi sosial (social interaction), interaksi berarti bahwa setiap peserta masing-masing memindahkan diri mereka secara mental ke dalam posisi orang lain. Dengan berbuat demikian, manusia mencoba memahami maksud aksi yang dilakukan oleh orang lain, sehingga interaksi dan komunikasi dimungkinkan terjadi. Interaksi itu tidak hanya berlangsung





melalui gerak-gerik saja, tetapi juga melalui simbol-simbol yang perlu dipahami dan dimengerti maknanya.

Kelima, konsep tindakan bersama (joint action), artinya aksi kolektif yang lahir dari perbuatan masing-masing peserta kemudian dicocokkan dan disesuaikan satu sama lain. Inti dari konsep ini ialah penyerasian dan peleburan banyaknya arti, pikiran, dan sikap.

Oleh karena itu, interaksi sosial memerlukan banyak waktu untuk

mencapai keserasian dan peleburan. Eratnya kaitan antara kehidupan manusia

dengan simbol-simbol karena memang kehidupan manusia salah satunya berada

dalam lingkungan simbolik.

Kesimpulan  Blumer  mengenai  interaksi simbolik  bertumpu pada  tiga

premis utama (Kuswarno, 2008:22), yakni:

1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.

2. Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain.

3. Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung.

0 komentar

Posting Komentar