Analisis Film Still Alice Menggunakan Konsep Diri dalam Psikologi Komunikasi - HadaCircle

Kamis, November 08, 2018

Analisis Film Still Alice Menggunakan Konsep Diri dalam Psikologi Komunikasi

HadaCircle

TUGAS MID SEMESTER PSIKOLOGI KOMUNIKASI
HUMAEDI SUHADA (L1B016032)
Analisis Film Still Alice Menggunakan Konsep Psikologi Komunikasi: Konsep Diri
1. Sinopsis (Oleh Humaedi Suhada, diterbitkan di https://hadacircle.com/2018/04/still-alice.html)
Still Alice adalah sebuah film drama independen Amerika 2014 yang ditulis dan disutradarai oleh Richard Glatzer dan Wash West berdasarkan pada novel bernama sama berpenjualan terbaik tahun 2007 karya Lisa Genova. Film tersebut dibintangi oleh Julianne Moore sebagai Alice Howland, seorang profesor linguistik yang didiagnosa mengidap penyakit Alzheimer tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-50. Alec Baldwin memerankan suaminya, John, dan Kristen Stewart, Kate Bosworth dan Hunter Parrish memerankan anak-anaknya, Lydia, Anna dan Tom.
Alice (Dr. Alice Howland) menjadi pembicara di suatu seminar ilmiah sebagai perannya, yaitu seorang profesor muda di bidang Linguistik di Universitas Columbia, dia dianggap sebagai salah satu pilar pendidikan linguistik di seluruh dunia. Pada momen yang sama, mulai muncul adegan yang menunjukkan gejala-gejala “kesalahan” pada kondisi Alice (Menit ke 5 Film), yaitu ketika Alice melupakan kalimat dalam presentasinya. (Kutipan dialog: “ … into … ugh. “) Namun Alice dengan bergurau bahwa itu akibat dari terlalu banyak mengkonsumsi champagne, tetapi sebagai orang dengan kecerdasan tinggi Alice mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Selesai presentasi, dalam perjalanan pulang ia terlihat khawatir memikirkan hal yang baru saja terjadi (lupa materi presentasi) sambil memegang Handphone dan memainkan permainan mengolah kata yang biasa dimainkan bersama keluarganya. Terlihat ia salah dalam menyusun suatu kata dalam game tersebut, ia menyusun huruf H-A-D-J yang tentu saja salah (tidak bermakna).
Alice mengunjungi Lydia di apartemennya, mendapati kondisi berantakan lalu beralih ke tempat makan, lalu berbicara serius tentang kelanjutan karir Lydia, Alice ingin melihat Lydia meneruskan pendidikan (kuliah) dan tidak terlalu serius menggeluti dunia teater karena ia menganggap itu tidak menjanjikan. Tapi Lydia tidak sepaham, dan hal itu membuat suatu kerenggangan kecil terhadap komunikasi keduanya.
Alice pulang ke rumaha, lalu keesokan harinya ia melakukan kebiasaannya yaitu berlari pagi, namun ia sempat mengalami bingung seperti tersesat, lalu menangis. Setelah berusaha mengingat jalan pulang, maka Alice bisa kembali ke rumah, lalu di sambut oleh suaminya (John) yang khawatir karena menunggu lama (tidak biasanya Alice berlari selama itu).
Alice mengunjungi ahli saraf dan menjalani diagnosa awal. Diagnosa awal menunjukkan Alice menderita suatu penyakit berkaitan dengan kemampuan mengingat. Selanjutnya Alice mulai melakukan cara-cara inovatif untuk mempertahankan kemampuan mengingatnya, seperti menulis beberapa kata di dapur, mencoba mengingat dan menyebutkan kembali lalu menggantinya terus menerus sambil mengerjakan rutinitas.
Alice mulai menggunakan ponsel untuk mencatat berbagai hal untuk membantunya mengingat. Selanjutnya Alice didiagnosa mengidap Alzheimer di usia muda (50 tahun). Alice mengalami susah tidur, lalu membangunkan suaminya dan menceritakan apa yang dialami, selanjutnya ia mengunjungi dokter ditemani suaminya.
Alice dinyatakan positif mengidap Alzheimer dan lebih parahnya, jenis Alzheimer yang diderita Alice memiliki tingkat kemungkinan diturunkan ke anak-anaknya mencapai 100%. Alzheimer lebih ganas jika menerang seseorang dengan intelejensi tinggi seperti Alice. Alice dan John kemudian memberitahu anggota keluarga lain, lalu Alice mulai mengkonsumsi obat yang hanya berfungsi untuk memperlambat kerusakan otak dan membantu ia tidur. Lydia didiagnosa positif mengidap penyakit seperti ibunya.
Alice mulai mengalami kesulitan mengajar dan mendapat teguran dari pihak kampus, Alice kemudian diberhentikan dari kegiatan mengajar. Hari-hari berlanjut dan keluarga terlihat mulai merasakan dampak dari kondisi Alice, seperti Alice yang melupakan janji-janji penting dan sebagainya.
Alice mengunjungi tempat orang-orang yang mengidap penyakit sama dan melihat langsung bagaimana mereka menjalani hidup. Alice menyadari bahwa tidak lama lagi ia akan mengalami kondisi separah apa yang dia bayangkan, kemudian Alice membuat rekaman dirinya sendiri berikut data-data yang berisi pertanyaan dan jawaban tentang dirinya di komputer pribadinya.
Kondisi Alice kian parah setiap harinya, ia bahkan lupa tempat kamar mandi di rumahnya sendiri. Lydia adalah anggota keluarga yang paling merasa terganggu dengan perubahan ibunya, tapi semakin lama justru ia yang paling dekat dan paling sering menjalin komunikasi dengan ibunya, salah satunya karena Lydia juga mengidap penyakit yang sama.
Alice mengunjungi pertunjukkan teater Lydia, dalam momen ini Alice sempat lupa bahwa Lydia adalah Anaknya. Alice menjadi pembicara di depan para pengidap Alzheimer lain, dan membuat orang-orang sadar betapa pentingnya ingatan dan kenangan. Saat berbicara Alice bahkan harus meng-higlight teks yang baru saja selesai dibaca agar ia tidak membaca teks tersebut berulang.
John mendapat pekerjaan yang mengharuskannya pindah rumah, namun dengan kondisinya sekarang, Alice masih memiliki ingatan di rumahnya tersebut dan tidak mau pergi, John menyadari bahwa selanjutnya Alice akan melupakan rumahnya, maka ia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengajak Alice pindah.
Alice terbangun tengah malam karena histeris kehilangan Handphone, tempat semua catatan-catatannya. Ia harus dibantu mengenakan pakaian dan sebagainya. Sebulan kemudian John, Anna dan suami dari Anna mendiskusikan tentang kemungkinan untuk pindah ke Minnesouta, namun Lydia tidak dipercaya bisa menjaga ibunya yang perlu penjagaan 24 jam.
“Anna: … jika dia (Lydia) peduli, dia tidak berada di negara lain sekarang.“
Disisi lain sebenarnya Lydia menjadi semakin dekat dengan ibunya, hampir setiap hari mereka berhubungan melalui teleconference, Alice tinggal bersama seseorang yang dipercaya menjaga dia.
Alice membuka rekaman yang ia buat dulu dan mengikuti arahannya untuk mencari obat di kamarnya, namun ia sangat kesulitan. John mengajak Alice ke kedai pinkberries dan melihat bahwa Alice menunjukkan tanda-tanda bahwa ia masih ingat dengan kota tersebut (kampung halamannya) dan tidak ingin pindah.
Tak disangka Lydia memutuskan untuk pulang dari Los Angeles untuk mengurus dan menemani Alice, saat ini Alice lebih sering ditemani Lydia, ia sampai tidak mengenali asistennya, padahal baru sebentar ditinggal. Di bagian akhir terlihat kedekatan dan bagaimana saling memahaminya antara Alice dan Lydia, Lydia memutuskan tinggal mengurus ibunya saat orang tuanya harus ke luar kota mengerjakan suatu pekerjaan penting dan saudaranya yang lain memiliki anak sehingga tidak mungkin menyerahkan Alice ke mereka.
2. Kajian Teori
a. Teori Kepribadian
Teori Kepribadian yang akan penulis pakai dalam penelitian ini adalah Penelitian Kepribadian oleh Carl Rogers. Carl Rogers adalah seorang psikologi yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-tahun.
i. Diri dan Aktualisasi Diri
1. Diri (Self)
Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”. Self mempunyai bermacam-macam sifat:
Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungan.
Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar.
Self mengejar (menginginkan) consistency (keutuhan/kesatuan, keselarasan).
Kesuluruhan individu bertingkah laku dalam cara yang selaras (consistent) dengan self.
Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.
Menurut Rogers (1959), konsep diri dibangun sejak bayi, saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan aktualisasi mereka mulai berkembang. Aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran.
2. Konsep Diri
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
Congruence. Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral dan sejati.
3. Diri Ideal
Diri ideal didefinisikan sebagai pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang diharapkannya. Diri ideal biasanya meliputi semua atribut yang positif yang dimiliki oleh seseorang.
4. Menjadi Manusia
Rogers (1959) mendiskusikan proses yang diperlukan untuk menjadi manusia adalah harus membuat kontak-positif ataupun negatif- dengan orang lain. Saat seseorang mengembangkan kebutuhan untuk dicintai, disukai atau diterima oleh orang lain merupakan kebutuhan yang dirujuk Rogers (1959) sebagai penghargaan positif (positif regard). Apabila kita melihat bahwa ada yang peduli atau menghargai kita, maka kebutuhan kita untuk mendapatkan penghargaan positif setidaknya terpenuhi sebagian. Rogers (1959) yakin bahwa menerima penghargaan positif dari orang lain diperlukan dalam memberikan penghargaan positif pada diri sendiri, namun saat penghargaan positif terhadap diri sudah terbangun, hal tersebut menjadi independen dari kebutuhan untuk dicintai.
5. Dinamika Kepribadian
Menurut Rogers, pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan- kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan (Hall dan Lindsey, 1995: 136-137). Rogers menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu:
Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologi, termasuk kebutuhan dasar (makanan, minuman dan udara), kebutuhan mengembangkan dan memerinci fungsi tubuh serta generasi.
Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri sendiri.
Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justu meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembangkan dan menjadi lebih baik.
3. Analisis Film Still Alice Berdasarkan Konsep Diri
a. Penampilan dan Sikap Awal Diri (Self) Tokoh Alice
i. Dosen Linguistik (Wanita dengan Pengetahuan dan Karir yang Tinggi)
“… seorang profesor muda di bidang Linguistik di Universitas Columbia, dia dianggap sebagai salah satu pilar pendidikan linguistik di seluruh dunia.“
ii. Penderita Jenis Penyakit Alzheimer yang Langka
b. Sikap Positif Diri dan Dukungan Positif Lingkungan Sekitar Alice
i. Tetap Diterima dan Didukung Penuh Oleh Keluarga agar Tetap Menjalani Hidup dengan Bahagia dan Normal
c. Diri Ideal Alice
i. Terus Melatih Diri untuk Mengingat Kata-Kata Sembari Melakukan Rutinitas
ii. Mencoba Tetap Mengajar
d. Incongruence dan Congruence yang Dialami oleh Alice
i. Incongruence
ii. Congruence 
4. Pustaka
http://digilib.uinsby.ac.id/9746/5/bab%202.pdf diakses pada 22 April 2018 14.15
http://e-journal.uajy.ac.id/5781/1/jurnal.pdf diakses pada 22 April 2018 14.18
http://etheses.uin-malang.ac.id/2223/6/08410018_Bab_2.pdf diakses pada 22 April 2018 14.20
http://etheses.uin-malang.ac.id/629/6/10410181%20Bab%202.pdf diakses 22 April 2018 14:17


Comments


EmoticonEmoticon