Identifikasi dan Pengoptimalan Potensi Desa Bilebante Menjadi Desa Wisata

Pemberdayaan Masyarakat Desa


IDENTIFIKASI DAN PENGOPTIMALAN POTENSI DESA BILEBANTE MENJADI DESA WISATA
Humaedi Suhada (L1B016032)
Universitas Mataram
ABSTRAK
Kabupaten Lombok Tengah khususnya desa Bilebante kecamatan Pringgarata adalah daerah yang kaya akan ragam keunikan desa dan lingkungan alam yang asri, namun baik masyarakat maupun pengelola lokasi wisata belum betul-betul menyadari potensi tersebut sehingga pemanfaatan potensi pariwisata belum optimal. Tulisan ini berfokus pada identifikasi berbagai potensi yang dimiliki oleh desa Bilebante untuk memaksimalkan pariwisata pedesaan yang bisa diterapkan dan juga untuk menggali nilai tambah bagi objek wisata yang telah ada, seperti pasar pancingan contohnya. Hasil identifikasi tersebut akan menjadi masukan bagi para penggiat promosi pariwisata di kabupaten Lombok Tengah pada umumnya dan Bilebante pada khususnya untuk meningkatkan kualitas pariwisata pedesaan dan juga untuk pemerintah daerah agar menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan untuk memberikan dana kepada wilayah yang strategis untuk dijadikan desa wisata.
Salah satu potensi yang sangat bermanfaat apabila dioptimalkan dari adanya desa wisata ialah peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitarnya, maka dengan mengetahui cara mengoptimalkan hal tersebut, tulisan dan hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi rujukan untuk mengembangkan model pemberdayaan masyarakat desa dan penanggulangan kemiskinan melalui desa wisata. Selain terus menyempurnakan model pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan, diperlukan pula kesiapan dari seluruh penduduk untuk membuka diri dan berubah. Untuk itu perlu diadakan pembimbingan atau pelatihan kompetensi untuk mengelola wisata desa.
Kata Kunci: pariwisata pedesaan, desa wisata, pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, desa Bilebante.
PENDAHULUAN
            Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan yang sangat diperhitungkan baik dalam skala nasional maupun skala kecil atau daerah. Dalam tingkat desa, pariwisata pedesaan berperan sebagai pendorong ekonomi kemasyarakatan, dengan adanya pariwisata pedesaan, masyarakat memiliki peluang kerja tambahan sehingga akan pengurangi pengangguran. Dengan adanya daerah wisata desa atau desa wisata, masyarakat sekitar kemudian menjadi pengelola bersama-sama pemerintah ataupun pihak lain yang membantu mengelola, seperti pada desa wisata pasar pancingan, penduduk desa Bilebante bersama-sama dengan komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) dan didukung oleh pemerintah daerah mengembangkan potensi wisata hijau ini. Dengan adanya daerah wisata desa, penduduk sekitar menjadi tergugah motivasinya untuk berperan serta membangun desa dan memberikan sumbangsih berupa pemikiran ataupun usaha-usaha lainnya. Masyarakat juga meningkat kesadarannya akan pentingnya menjaga lingkungan karena tidak ingin apa yang telah dibangun menjadi sia-sia atau rusak.
            Seiring dengan kenyataan bahwa produk wisata konvensional mulai ditinggalkan oleh wisatawan, maka perlu dirumuskan bentuk pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih tepat untuk masa mendatang, pariwisata yang tidak hanya meningkatkan pendapatan suatu daerah tetapi juga meningkatkan partisipasi warganya. Maka konsep pariwisata pedesaan dengan cirinya sebagai pariwisata yang ramah lingkunan dapat menjadi solusi baru bagi pengembangan kepariwisataan di Indonesia. Sebagai respon dari pergeseran minat wisatawan tersebut maka hingga sekarang telah muncul banyak desa-desa wisata di seluruh provinsi di Indonesia.
            Pemahaman mengenai desa wisata cukup beragam diantaranya menyebutkan bahwa desa wisata merupakan suatu bentuk lingkungan pemukiman yang memiliki ciri khusus atau khas baik dari segi alam maupun budayanya yang menarik bagi wisatawan karena wisatawan dapat menikmati, mengenal, menghayati dan mempelajari kekhasan desa beserta segala daya tariknya.
            Pada dasarnya secara umum sebuah pedesaan terletak jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan juga memiliki daerah yang masih hijau dan sedikit sekali pencemaran serta memiliki lokasi-lokasi yang indah, sesuai dengan hal-hal yang banyak dicari oleh wisatawan baik lokal maupun luar daerah bahkan mancanegara. Orang-orang mencari tempat-tempat wisata dengan kriteria-kriteria di atas untuk berbagai alasan, salah satunya untuk merelaksasi pikiran dan melepas penat di akhir pekan atau untuk sekedar mencari spot berfoto yang menarik. Oleh karena itu, pengelola desa wisata harus terus melakukan inovasi agar desa wisatanya selalu ramai dikunjungi.
            Sangat banyak konsep yang dapat diterapkan oleh pengelola, diantaranya dengan menyuguhkan suasana kehidupan masyarakat yang bersuasana tradisional sehingga di dalamnya juga terjadi proses mempelajari kehidupan masyarakat sehingga mampu mendatangkan penghargaan dari wisatawan atau orang luar terhadap nilai-nilai yang dijaga oleh masyarakat.
            Wisatawan juga disuguhkan pemandangan dan suasana alam yang masih bersih dan sangat sehat beserta keragaman budaya dan adat istiadat di dalamnya. Masyarakat juga menyediakan panganan khas setempat. Selain beberapa hal di atas, kecenderungan wisatawan saat ini lebih rasional dan memiliki karakter bahwa kepuasan wisatawan tidak hanya didasarkan pada fasilitas modern pariwisata namun juga terletak pada keleluasaan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal. Berdasarkan hal tersebut maka pembangunan desa wisata dan juga pengoptimalan desa-desa wisata yang telah berjalan menjadikan fokus baru bagi pengembangan pariwisata secara nasional di Indonesia. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi dan mengenali potensi suatu desa untuk dapat menjadi desa wisata serta mengumpulkan pemikiran dan cara untuk mengembangkan potensi desa wisata yang telah ada, dalam hal ini desa wisata Bilebante dengan pasar pancingannya.
METODOLOGI PENELITIAN
            Metode pendekatan atau penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah pendekatan normatif sosiologis dan normatif empiris, dengan sumber data dari kepustakaan atau studi pustaka dan juga data hasil turun ke lapangan atau yang dikumpulkan dan diamati dari objek wisata pasar pancingan. Data didapat dengan melakukan studi pustaka melalui referensi-referensi yang terkait dengan pengembangan pariwisata pedesaan juga dengan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar objek wisata pasar pancingan. Peneliti juga mengamati kegiatan masyarakat prasejahtera dalam keikutsertaan mereka dalam mengelola dan memanfaatkan keberadaan pasar pancingan khususnya dalam motivasi mereka untuk memperbaiki kesejahteraan.
            Oleh karena itu, peneliti juga memperhatikan hubungan antara faktor-faktor sosiologis dan psikologis masyarakat setempat yang terdampak dengan adanya pasar pancingan. Metode pengumpulan data dilakukan secara langsung terhadap objek-objek penelitian yang relevan dengan tujuan penelitian. Sebagai sumber informasi, hasil dari komunikasi dengan masyarakat akan ditelaah dengan dasar-dasar teoritis yang telah dikumpulkan melalu studi kepustakaan.
TEORI
            Penetapan dan penerapan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dan Undang-undang Nomor 24 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat telah membawa perubahan yang sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat di daerah. Kedua undang-undang tersebut menghadirkan manfaat yang besar bagi pemerintah daerah. Salah satu dampak positif dari pemberlakuan kedua undang-undang tersebut ialah tebangunnya kemandirian tiap-tiap daerah dalam hal mengelola semua potensi yang ada sehingga tercipta keuntungan dan kemerataan ekonomi. Dengan demikian pendapatan yang sidnifikan dari sektor pariwisata yang awalnya bersumber dari pariwisata nasional yang kemudian hasilnya didistribusikan untuk membangun desa, sekarang beralih menjadi pariwisata desa yang hasil pendapatannya cukup untuk memenuhi beberapa hal secara mandiri dan jika dilakukan secara masif di seluruh wilayah di Indonesia, maka potensi pariwisata pedesaan dan desa wisata menjadi sumber pendapatan di sektor pariwisata yang sangat diperhitungkan.
            Potensi-potensi ekonomi dari kekayaan alam yang pada mulanya lebih banyak terserap ke pemerintah pusat sekarang secara aktif didistribusikan kepada pemerintahan di daerah-daerah dalam porsi yang lebih besar dari sebelumnya. Selain itu, pemerintah daerah juga dapat merumuskan dan melaksanakan kebijakan daerahnya sendiri sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki daerah tersebut karena pemerintah daerah bersama penduduklah yang paling memahami potensi-potensi dan kelebihan yang dimiliki daerahnya.
            Berkembangnya banyak pariwisata pedesaan dan juga banyak yang menjadi desa wisata atau mengembangkan model desa wisata yang bertumpu pada kekhasan budaya komunitas desa tersebut sebenarnya merupakan indikator tentang perlunya pengembangan ekosistem desa untuk melindungi kearifan lokal. Daerah Bilebante sekarang belum tergolong menjadi desa wisata namun masih sebatas pariwisata pedesaan, dimana desa wisata merupakan pariwisata pedesaan yang menawarkan pembelajaran yang lebih tentang keunikan budaya yang dimiliki dengan berinteraksi langsung dengan wisatawan agar wisatawan mempelajari secara langsung apa yang terjadi dalam komunitas desa tersebut. Hal itu menjadi fokus tulisan bahwa sebenarnya desa Bilebante dengan semua potensi yang dimilikinya masih bisa berkembang pesat jika mulai memikirkan serius dan menjalankan atau bertransformasi menjadi desa wisata yang utuh yang dikelola dengna dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah. Desa Bilebante berpeluang untuk menjadi desa wisata yang sukses karena tentunya memiliki banyak kekhasan dan sisi-sisi yang akan sangat menarik bagi para wisatawan.
            Sebenarnya telah terbangun beberapa objek wisata yang mendekati kriteria desa wisata di desa Bilebante akan tetapi kenyataannya apa yang telah ada dibandingkan dengan potensi yang telah teridentifikasi ditambah dengan potensi yang belum teridentifikasi masihlah terpaut jauh. Desa Bilebante masih bisa berkembang lebih pesat dari apa yang telah dicapai sekarang.
            Kondisi di atas menciptakan urgensi untuk melaksanakan penelitian tentang model pemberdayaan masyarakat desa dan penanggulangan kemiskinan dengan cara memaksimalkan potensi-potensi desa untuk kepentingan warga dengan sebesar-besarnya dan memaksimalkan peran segala pihak terutama dukungan pemerintah setempat dalam rangka menyiapkan desa Bilebante menjadi destinasi desa wisata yang tersohor sehingga implikasi jangka panjang yang diharapkan dan diusahakan ialah terciptanya peningkatan sidnifikan pada kesejahteraan masyarakat Bilebante. Keberhasilan lain yang diharapkan dari perwujudan ide-ide dalam penelitian ini ialah munculnya kepercayaan diri masyarakat dengan pengetahuan yang mereka miliki menyangkut potensi desanya untuk selanjutnya dapat membantu pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan dan memberikan dukungan terhadap upaya-upaya komunitas-komunitas atau lembaga non pemerintahan yang sedang gencar melakukan eksplorasi keindahan dan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Lebih dari itu jika setiap desa di Indonesia memiliki kemampuan luar biasa maka akan tercipta peningkatan kepercayaan diri dan jati diri masyarakat Indonesia.
PEMBAHASAN
            Paling tidak untuk mencapai hasil yang sidnifikan dari pembangunan desa menjadi desa wisata diperlukan tiga tahun penelitian dan pendampingan agar tercipta hasil yang ideal. Tahun pertama berfokus pada studi literatur terkait desa wisata.
            Keberadaan desa wisata saat ini sangat dibutuhkan namun menjadikan semua desa menjadi desa wisata akan menyulitkan tugas dari pemerintah daerah setempat. Oleh karena dibutuhkan bantuan dari pihak-pihak di luar pemerintahan seperti dari komunitas pemerhati pariwisata untuk mendongkrak popularitas, dari perguruan tinggi untuk mengkaji potensi setiap desa untuk dijadikan desa wisata. Dalam hal ini desa Bilebante, salah satu objek wisata yang tengah digarap ialah pasar pancingan oleh pemerintah Bilebante bersama masyarakat, komunitas Genpi dan juga perwakilan dari mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Mataram.
            Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat dan lembaga non pemerintahan serta seluruh pihak yang ikut serta akan menghasilkan kegiatan yang tepat sasaran, sehingga baik desa maupun masyarakatnya akan tumbuh menjadi produk dan komunitas masyarakat yang berwawasan pariwisata luas dan bernilai jual, sekaligus akan mengangkat budaya lokal ke dunia luar. Dengan melihat potensi apa saja yang cocok untuk dikembangkan di desa-desa dalam hal ini desa Bilebante dalam upaya menjadikannya desa wisata seutuhnya diharapkan mampu meningkatkan partisipasi dan antusias untuk meningkatkan dukungan dari semua pihak demi tercapainya tujuan.
            Laporan Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengembangan Sumber Daya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2009 menerangkan tentang sektor pariwisata yang merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang sangat penting. Meskipun sektor pariwisata memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pembangunan, namun di saat bersamaan ternyata kegiatan industri pariwisata juga melahirkan sejumlah dampak negatif, seperti menurunnya kualitas lingkungan hidup, tergerusnya nilai-nilai dan budaya lokal oleh modernisasi terutama berdampak kepada generasi muda dan meningkatnya kesenjangan ekonomi di masyarakat. Dampak negatif pariwisata bagi lingkungan bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan kecenderungan terhadap terjadinya pergeseran orientasi dan preferensi pasar pada pemilihan produk wisata yang dalam arti sederhana menjadikan mayoritas wisatawan mengalami perubahan pilihan dalam hal memilih objek wisata tertentu sehingga mayoritas saat ini menilai wisata desa sebagai gagasan yang sangat menarik dan positif.
            Desa wisata harus dibedakan dengan wisata desa atau pariwisata pedesaan, dimana yang disebut wisata desa adalah kunjungan yang dilakukan ke objek-objek wisata yang terletak di daerah pedesaan, namun tidak banyak terjadi interaksi yang mendalam antara wisatawan dengan budaya dan nilai-nilai yang diterapkan oleh masyarakat setempat, seperti contoh tidak adanya fasilitas yang disediakan untuk wisatawan menginap selama beberapa hari untuk menyelami kehidupan khas warga setempat yang lazim ada di desa-desa yang telah diakui sebagai desa wisata lainnya. Hal ini juga belum ada di kawasan desa Bilebante, hal ini kemudian menjadi peluang atan nilai tambah untuk mengembangkan objek wisata yang telah ada, yang telah banyak dikenal oleh masyarakat luar bahkan mancanegara.
            Fasilitas menginap yang disediakan oleh desa-desa wisata di daerah-daerah di Indonesia sudah menjadi salah satu fasilitas atau ciri dari sebuah desa wisata sehingga juga menjadikannya perbedaan antara desa wisata dengan hanya sekedar wisata pedesaan. Fasilitas menginap di desa menjadi salah satu hal yang penting untuk di adakan di setiap desa wisata karena hingga saat ini lama tinggal (length of stay) masih menjadi acuan untuk mengukur keberhasilan suatu objek wisata.
            Wisatawan yang berkunjung ke desa wisata dapat menikmati alam pedesaan yan masih bersih dan merasakan hidup di suasana desa dengan segala adat-istiadatnya. Hal tersebut terdapat di desa Bilebante yang memiliki alam yang belum tercemar dan memiliki struktur masyarakat yang belum terlalu jauh tergerus modernisasi. Di desa wisata, wisatawan tinggal di tengah-tengah penduduk, tidur di kamar yang sederhana namun dipersiapkan secara bersih dan rapi. Makanan tradisional merupakan hidangan utama yang hendak disajikan selama di desa wisata.         Wisatawan merasakan adanya kepuasan karena  adanya sambutan yang ramah dari masyarakat, dan pelayanan yang baik dari seluruh pengelola.
            Dalam rangka meningkatkan manfaat dari dari kegiatan-kegiatan dan objek-objek wisata melalui pemberdayaan masyarakat desa, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) telah menetapkan banyak sekali desa wisata di seluruh Indonesia, yang banyak di antaranya ialah sejumlah 23 di Kabupaten Bogor. Dan melalui seluruh upaya dan keterlibatan masyarakat bersama-sama pemerintah daerah Bilebante dan pihak pemberdaya dan pendukung lainnya, diharapkan Bilebante menjadi salah satu desa wisata yang diakui di Kabupaten Lombok Tengah dan secara lebih luas di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
            Desa wisata harus dikelola dengan baik dengan dukungan semua pihak terkait, terutama dukungan penuh dari warga masyarakat. Untuk mendapatkan dukungan dari penduduk, maka sejak awal perencanaan desa wisata harus diatus agar sebagian besar atau mayoritas penduduk ikut berperan serta dan proaktif mendukung rencana untuk dapat menjadi desa wisata. Penduduk harus disiapkan dan diberdayakan untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik. Penduduk harus dilatih bagaimana caranya menerima tamu, menata ruang dan menjaga keindahan alam, serta mengasah kreativitas agar muncul inovator-inovator yang akan menjaga destinasi wisata di desanya terus ramai dikunjungi wisatawan. Penduduk juga diberikan motivasi untuk mencintai budaya lokal dan memahami budaya secara luas di luar mereka agar pemahaman masyarakat tentang budaya diharapkan akan menjadi perhatian dan mendatangkan penghargaan yang banyak di kemudian hari bagi desa.
            Jadi, yang merupakan kunci untuk sukses terbangunnya desa wisata yang baik ini ialah kesiapan dari seluruh masyarakat, seluruh penduduk untuk mau membuka diri dan melakukan perubahan. Untuk menyiapkan penduduk agar dapat mengelola desa wisata maka perlu diberikan pelatihan pengelolaan desa wisata. Pelatihan ini memerlukan kompetensi dan kurikulum yang sesuai agar dapat diserap dan diterapkan secara optimal di lingkungan masyarakat terkait.
            Sejauh ini lembaga atau komunitas non pemerintahan juga sudah menunjukkan perannya sebagai pemberdaya dengan membuat acara-acara yang menarik di objek wisata yang ada di Bilebante, menggunakan teknologi untuk promosi dan secara aktif menelaah kekurangan dari objek wisata yang tengah berjalan agar setiap saatnya selalu terjadi perbaikan. Warga Bilebante juga mengapresiasi kehadiran objek-objek wisata di desa mereka sehingga apabila desa mereka akan dikembangkan menjadi desa wisata menjadi bukan perkara yang sulit dari segi pengumpulan dukungan, hanya saja setiap dukungan harus disertai konsistensi karena salah satu tantangan dari setiap usaha pemberdayaan ialah kekhawatiran akan terhentinya apa yang telah dibangun dengan susah payah karena anggapan bahwa menjaga partisipasi masyarakat ialah sangat sulit untuk dilakukan.
            Hal lain yang dapat dilakukan untuk mendorong kemajuan di desa-desa wisata yang telah berjalan atau di desa Bilebante yang diharapkan akan menjadi desa wisata yang utuh ialah dengan dukungan dari warga luar berupa kesan positif dari pengunjung yang dapat menjadi daya tarik untuk mendatangkan pengunjung baru ke destinasi wisata. Dalam hal ini, promosi dan proyek-proyek strategis telah gencar dilakukan, contohnya oleh komunitas Generasi Pesona Indonesia, yang selalu menggaungkan nama pasar pancingan di event-event di luar daerah serta peran media massa bahkan media massa nasional yang meliput dan menulis tentang pasar pancingan yang terletak di desa Bilebante tersebut.
            Selain pasar pancingan, ada beberapa objek wisata lain yang bisa didapatkan di desa Bilebante karena memang desa Bilebante telah dikembangkan sebagai pariwisata berbasis desa sejak tahun 2015. Beberapa objek wisata tersebut diantaranya ialah atraksi bersepeda, rumah-rumah produksi topi kekere, konsep hunian hijau dan lain sebagainya. Hal-hal yang dikembangkan di desa Bilebante juga diapresiasi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Arief Yahya banyak sekali mengapresiasi ide-ide kreatif yang diterapkan oleh komunitas Genpi di berbagai daerah termasuk di Bilebante. Untuk jangka pendek, beberapa pembenahan akan menjadikan desa ini semakin tersohor namanya, karena sekarangpun daerah ini telah cukup dikenal oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Padahal sebelumnya kawasan ini dikenal dengan desa debu, karena lubang-lubang di jalan yang diakibatkan oleh kendaraan bermuatan pasir atau berat lainnya yang melintas menjadi berdebu pada musim kemarau.
            Pada awalnya pemerintah desa setempat bersama dukungan warga yang menjadi penggagas perubahan di desa Bilebante lalu seiring waktu dukungan yang datang semakin banyak karena kemajuan yang menarik perhatian pemerintah dan komunitas atau lembaga non pemerintah untuk turut serta membangun desa Bilebante. Hal-hal tersebut menjadikan banyak harapan untuk melihat desa Bilebante dan desa-desa lainnya di Indonesia untuk segera berdaya dan segera menampakkan keunikan dan kelebihan masing-masing yang bernilai jual.
            Dari segi ekonomi, tidak dipungkiri bahwa salah satu penyebab kemiskinan ialah karena kemampuan dan kreatifitas warga masyarakat yang terkadang tidak mendapatkan tempat di dunia pekerjaan atau hanya menjadi pekerjaan yang berpenghasilan rendah, sehingga masyarakat berbondong-bondong berkompetisi untuk bekerja di sektor yang jumlah peminatnya jauh lebih besar dibanding dengan jumlah yang bisa ditampung. Sektor pariwisata pedesaan merupakan salah satu jawaban atas permasalahan di atas mengingat bentuk wisata pedesaan akan banyak menguras dan memaksa pengelola untuk bertindak kreatif dan selalu berpikir inovatif dan memerlukan tenaga dari berbagai bidang keahlian, saat pariwisata desa menjadi sebuah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, maka di saat yang bersamaan seiring dengan berjalannya objek wisata desa akan membangun atau membuatkan tempat bagi setiap orang bagi setiap kemampuan orang, seluruh pihak akan terus berusaha untuk mengakomodasi apa yang bisa disumbangkan oleh tiap-tiap individu.
KESIMPULAN
            Dari beberapa rilis tentang hasil survei lapangan di beberapa desa wisata di Indonesia dapat diketahui bahwa masyarakat desa belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola desa wisata. Berangkat dari hal tersebut maka ada suatu indikasi bahwa pengetahuan tentang pengelolaan desa wisata merupakan suatu keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat desa wisata yang sudah ada maupun desa yang diharapkan menuju desa wisata seperti desa Bilebante. Untuk itu maka perlu dikembangkan suatu pengetahuan yang dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilang masyarakat dalam membangun dan mengelola desa wisata serta terus berinovasi untuk meningkatkan manfaat dari adanya desa wisata.
            Dengan dikembangkannya suatu model desa wisata, maka diharapkan pengembangan desa wisata, maka diharapkan akan menjadi pedoman bagi wilayah lain untuk turut mengembangkan desanya menjadi desa wisata.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Rianto. 2004. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta: Granit
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2006. Buku Potensi Ekonomi
Badan Pusat Statistik Pusat RI. 2006. Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005-2006
Undang-undang Nomor 24 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

0 komentar

Posting Komentar