Penyelenggaraan Festival Budaya Jepang Tahunan untuk Membentuk Citra Sekolah - HadaCircle

Sabtu, November 24, 2018

Penyelenggaraan Festival Budaya Jepang Tahunan untuk Membentuk Citra Sekolah

Penyelenggaraan Festival Budaya Jepang Tahunan untuk Membentuk Citra Sekolah


DOWNLOAD WORD | PDF


Server: HadaCloud 1 (Ango Sako)

PENYELENGGARAAN FESTIVAL BUDAYA JEPANG TAHUNAN UNTUK MEMBENTUK CITRA SEKOLAH
(Studi Deskriptif Kualitatif di SMA Negeri 5 Mataram Tahun 2018)
PROPOSAL PENELITIAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester Metodologi Kualitatif


Nama
:
Humaedi Suhada
NIM
:
L1B016032



PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM NTB
2018


Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah mengizinkan terselesaikannya tugas proposal penelitian berjudul “Penyelenggaraan Festival Budaya Jepang Tahunan untuk Membentuk Citra Sekolah”.
Tentunya dalam proses penyusunan proposal, peneliti mengalami hambatan dan memerlukan bantuan terutama dari dosen pengampu mata kuliah, Bpk. Ir. I Wayan Suadnya, M.Agr.Sc., Ph.D. Oleh karena itu penulis menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat.
Karena proposal ini masih memiliki sangat banyak kekurangan karena keterbatasan saya sebagai penulis, maka penulis sanga terbuka terhadap kritik dan saran.


Mataram, 26 Oktober 2018






Setiap sekolah tentu ingin menjadi yang terbaik dan berlomba-lomba menunjukkan perbedaan dan kelebihan agar lebih diminati daripada sekolah lain. Beberapa sekolah-sekolah menengah atas di Kota Mataram tergolong sekolah yang elit berdasarkan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler, dari segi jumlah, kemutakhiran dan kemampuan operasional oleh warga sekolah. Yang menarik untuk diteliti ialah tentang jenis ekstrakurikuler dan organisasi siswa yang berjalan di masing-masing sekolah, ada yang berbeda dan terlihat ekslusif yaitu adanya organisasi kebudayaan Jepang di dalam sekolah yang rutin menyelenggarakan acara atau festival tentang budaya tradisional dan budaya pop Jepang.
Survey pra penelitian penulis terhadap 40 siswa SMA di Kota Mataram yang diambil secara acak, yaitu dengan mencari melalui Facebook berdasarkan asal sekolah kemudian di interview via aplikasi Messenger menghasilkan kesimpulan awal bahwa 80% dari responden menyatakan bahwa SMA yang menyelenggarakan festival Jepang tiap tahunnya menjadi lebih terlihat berbeda dalam arti positif, karena dianggap peduli terhadap budaya Internasional tetapi tetap menjaga unsur budaya lokal, bahkan memadukannya.
Sebelumnya penulis juga telah mendapat data dan menghadiri sendiri tiga acara Jepang paling banyak dikunjungi di Kota Mataram pada tahun 2017 – 2018. Diposisi satu diisi oleh Festival SMANSA Japanese Culture Day yang diselenggarakan oleh SMANSA Japanese Club bersama NTB Japan Foundation di SMA Negeri 1 Mataram setiap bulan September (menjadi rangkaian peringatan ulang tahun sekolah), khusus untuk acara ini penulis memiliki data tahun 2017, karena tahun ini acara tidak berlangsung untuk pertama kalinya. Kedua ialah SMALA no Bunkasai yang diselenggarakan oleh SMALA Japanese Family di SMA Negeri 5 Mataram setiap bulan Oktober. Dan ketiga ialah festival pertama MAN 2 Mataram bertajuk MANDA no Bunkasai yang diselenggarakan oleh MANDA Nihon no Fan.
Budaya Jepang terutama budaya populernya berkembang pesat di Kota Mataram, penulis mengatakan demikian karena melihat bahwa di Mataram setidaknya terdapat 3 komunitas budaya Jepang yang terikat dengan instansi sekolah dan 3 komunitas di luar sekolah yang bisa dikategorikan besar, dengan indikator penulis yaitu jumlah anggota lebih dari 50 dan mempunyai kegiatan aktif mingguan. Serta penggemar budaya Jepang yang tidak mengikuti komunitas.
Konsep festival Jepang berbeda dengan konsep acara pada umumnya, acara ini hampir mencakup seluruh aspek, seperti hiburan, kompetisi, pendidikan, budaya, komunikasi, persaudaraan/integritas, dan membentuk pola pikir berkemajuan. Sampai titik ini penulis menarik benang merah penelitian dan berfokus untuk meneliti apa saja kenyataan yang peneliti temui tentang penyelenggaraan acara semacam ini, peneliti tidak menghitung atau menganalisis pengaruh, penulis menggunakan model studi kasus kualitatif dan mengumpulkan data kualitatif untuk penulis interpretasikan hal-hal penting seputar penyelenggaran acara tahunan di sekolah-sekolah, dan sebagai tempat penelitian, penulis memilih SMA 5 Mataram, karena penelitian akan efektif jika dimulai sejak 1 bulan pra-event, sampai 2 bulan pasca-event karena SMA 5 Mataram sedang menyiapkan acara untuk tahun ini.
SMALA no Bunkasai 2018 (festival Jepang di SMA Negeri 5 Mataram) ini akan tetap mengusung tema tradisional dan modern (budaya pop), dimana didalam acara akan banyak ditemui Stand kuliner tradisional dan modern Jepang, permainan, lomba menari tradisional atau tarian modern, lomba menyanyi lagu pop Jepang, lomba Cosplay, dan lomba akademik Jepang. Maka penulis menentukan judul penelitian yaitu “Penyelenggaraan Festival Budaya Jepang Tahunan untuk Membentuk Citra Sekolah, Studi Kasus di SMA Negeri 5 Mataram Tahun 2018)” dan akan dilaksanakan mulai 30 Oktober 2018 – 30 Januari 2018 di komunitas Jepang SMA Negeri 5 Mataram.
a.       Bagaimana penyelenggaraan festival budaya Jepang tahunan berkontribusi dalam membentuk citra SMA Negeri 5 Mataram, baik pada warga sekolah, calon siswa dan masyrakat umum usia SMA?
a.       Untuk mengetahui kontribusi penyelenggaraan festival budaya Jepang tahunan dalam membentuk citra SMA Negeri 5 Mataram
a.       Teoritis
                                                              i.      Memberikan sumbangsih pengetahuan baru
b.      Praktis
                                                              i.      Menjadi pemenuhan tugas mata kuliah metodologi penelitian kualitatif
Festival budaya Jepang adalah acara yang menampilkan pertunjukan seni, kuliner atau aspek lain dalam budaya yang berkembang di negara Jepang. Festival yang berupa perayaan tahunan disebut matsuri. Secara garis besar kebudayaan masyarakat Jepang dapat dibagi dua yaitu budaya tradisional dan budaya populer yang biasa disebut budaya pop.
Budaya tradisional Jepang diantaranya mencakup tarian-tarian, nyanyian, dan ritual-ritual yang berasal dari nenek moyang orang Jepang dan mash dipelihara hingga sekarang, seperti tarian Bon-odori dalam upacara Obon yaitu upacara untuk merayakan kedatangan arwah leluhur. Budaya pop Jepang adalah budaya yang berkembang pada masyarakat Jepang yang terpengaruh pada cara-cara berpikir modern, perkembangan industri dan kebutuhan masyarakat, sehingga budaya pop ini terbentuk seiring perjalanan kehidupan masyarakat. Contoh budaya pop Jepang adalah budaya menggambar karakter kartun atau disebut Manga (baca: mangga’), budaya Idoling (perkembangan konsep mengenai idola), musik pop Jepang, Manga yang diangkat menjadi animasi atau disebut Anime (baca: anime), dan bermain peran sebagai tokoh Anime, memperagakan adegan dan menggunakan kostum yang serupa atau disebut Cosplay (Costume-Player).
Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi memproduksi dan menyebarkan pesan kepada khalayak. Dalam hal ini SMA Negeri 5 Mataram sebagai lembaga yang berperan sebagai komunikator, khususnya saat peralihan atau tahun ajaran baru maka sekolah akan berusaha menarik minat sebanyak mungkin calon siswa untuk mendaftar. Target khalayak bersifat heterogen sehingga pesan bersifat umum. Komunikasi berlangsung satu arah, keberhasilan setiap produksi pesan untuk tujuan Branding lembaga, hasilnya akan diketahui saat musim pendaftaran siswa baru dan dengan memasukkan materi audit atau survei komunikasi berupa butir pertanyaan mengenai apa alasan calon siswa tersebut memilih mendaftar di SMA Negeri 5 Mataram.
Komunikasi massa bertujuan untuk membentuk kesamaan persepsi antara komunikator dan komunikan. Komunikasi massa mengandalkan perlatan teknis atau teknologi untuk dapat memproduksi materi iklan yang menarik dan jangkauan pesan yang luas. Karena pesannya akan disampaikan ke khalayak umum, maka komunikator harus paham akan fungsi pengawasan atau lembaga Gate Keeper yang berwenang untuk menindak setiap pelanggaran informasi yang disampaikan ke publik, seperti memilih kata yang tidak akan menyinggung pihak lain atau kompetitor, tidak menggunakan kekurangan kompetitor sebagai bahan produksi pesan, dan lain sebagainya.
Persepsi tindakan mengamati, menyusun, mengenali dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan pemahaman terhadap suatu hal atau tentang lingkungan yang ditinggali. SMA Negeri 5 Mataram dan komunitas budaya Jepang SMALA Japanese Family ingin membentuk persepsi masyarakat terutama usia muda dan penggemar budaya Jepang bahwa SMA Negeri 5 Mataram adalah sekolah yang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa untuk mempelajari budaya asing, dalam hal ini budaya Jepang sehingga juga akan sangat efektif terhadap siswa yang punya keinginan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Budaya saat lulus SMA.
            Persepsi dibedakan menjadi persepsi auditori, perabaan, penciuman, pengecapan, dan persepsi selektif.
Citra sekolah merupakan penilaian atau kesan seseorang terhadap suatu sekolah karena pemahaman dan pengalaman seseorang terhadap sekolah. Untuk Membentuk citra merupakan tugas utama  dari Humas karena humas merupakan jembatan hubungan antara sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat berupa kerjasama yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan saling menguntungkan.
Pencitraan sekolah adalah upaya-upaya untuk menanamkan kepada khalayak dan calon khalayak (calon siswa) tentang perbedaan dan harapan tinggi yang bisa didapat jika ia memilih instansi tersebut.
Untuk lebih memperkuat dan mempertajam serta menjadikannya lebih spesifik, maka penelitian ini juga diperkuat dengan data penelitian terdahulu sebagai acuan dan referensi pada poin-poin tertentu guna menunjang teori dan hasil penelitian ini.
Penelitian terdahulu yaitu oleh Gricerly Fristantry berjudul “Upaya Diplomasi Budaya Jepang ke Indonesia melalui JAK – JAPAN MATSURI 2009 – 2017” dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai bagaimana diplomasi kebudayaan yang dilakukan oleh Jepang melalui Jak – Japan Matsuri dalam upaya mencapai kepentingan-kepentingan nasionalnya yang tertuang dalam kebijakan Cool Japan ke Indonesia dari tahun 2009 – 2017. Jak – Japan Matsuri merupakan sebuah festival budaya yang diselenggarakan setiap tahun untuk memperingati hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang. Matsuri ini dilaksanakan oleh pihak-pihak pemerintah, dan aktor selain negara seperti pelaku bisnis dan expatriate Jepang di Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsep diplomasi kebudayaan yang terdiri atas enam indikator oleh Erik Patjinka. Metode penelitian bersifat kualitatif, yakni merujuk pada tinjauan pustaka dan field research. Hasil dari penelitian ini ialah bahwa terdapat lima aktivitas diplomasi budaya Jepang di Indonesia melalui festival budaya Jak – Japan Matsuri dengan dukungan dari aktor-aktor selain negara.
Perbedaannya dengan penelitian ini adalah pada judul penelitian, analisis, dan objek penelitian.
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Penelitian



3.1.      Jenis Penelitian
Penelitian dalam ilmu sosial dan kemanusiaan menurut Koentjaraningrat (2001, dalam Soriano, 2012) adalah:
“Segala aktifitas yang berdasarkan disiplin ilmu untuk mengumpulkan, menganalisa dan menafsirkan fakta-fakta secara berhubungan antara fakta alam, masyarakat, kekuatan, dan rohani manusia guna menemukan prinsip-prinsip pengetahuan dan metode-metode dalam usaha menanggapi hal-hal tersebut”.
            Penelitian dengan jenis kualitatif menurut Ndraha (2003), “Merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan tentang seluas-luasnya obyek pada satu masa atau saat tertentu”
Sedangkan menurut Moleong (2002), menyatakan bahwa penelitian kualitatif akan dapat:
1.      Melukiskan keadaan obyek pada suatu saat
2.      Mengidentifikasi data yang menunjukkan gejala-gejala daripada suatu peristiwa
3.      Menentukan data yang menunjukkan hubungan dari suatu realita
4.      Mengumpulkan data yang dapat menunjukkan suatu gagasan atau ide atau peraturan
Dengan demikian penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan mendeskripsikan temuan yang diperoleh didalam penelitian untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi.
Penelitian akan dilakukan si SMA Negeri 5 Mataram, Jl. Udayana No.2A, Mataram Bar., Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83125. Karena SMA Negeri 5 Mataram dinilai peneliti telah konsisten menjalankan program festival budaya Jepang selama 5 tahun sehingga peneliti ingin menggali apa saja kontribusinya bagi citra sekolah.
3.3.      Fokus Penelitian
Moleong (2000:62), menyebutkan ada dua tujuan dalam penetapan fokus penelitian, yaitu:
1.      Untuk membatasi studi, sehingga peneliti dapat membatasi bidang inquiri, dalam hal ini fokus akan membatasi faktor-faktor apa saja yang akan diteliti
2.      Untuk memenuhi kriteria inklusi-esklusi (inclusion-exclusion criteria) dari suatu informasi yang diperoleh dilapangan. Artinya melalui penetapan fokus, peneliti akan dapat mengetahui data mana yang perlu dikumpulkan dan data mana yang walaupun menarik, tidak perlu dikumpulkan karena tidak relevan.
Dengan demikian fokus penelitian tersebut sangat perlu untuk diperhatikan dan ditentukan, karena fokus penelitian tersebut merupakan hal-hal yang menjadi pusat dalam penelitian. Penentuan fokus penelitian juga bertujuan untuk membatasi studi dan memenuhi kriteria inklusi-inklusi suatu informasi yang diperoleh di lapangan.
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah:
1.      Kontribusi penyelenggaraan festival budaya Jepang untuk membentuk citra sekolah
3.4.      Sumber Data
Sumber-sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1.      Manusia
Dalam hal ini disebabkan karena suatu penelitian ini didasarkan dari informan-informan, yaitu manusia yang akan memberikan suatu jawaban terhadap apa yang diteliti.
2.      Peristiwa
Peristiwa itu merupakan semua hal yang terjadi, begitu juga segala aspek yang mendorong terhadap penelitian ini, semisal suatu prilaku dari obyek, atau suatu kondisi yang dialami obyek-obyek penelitian kita.
3.      Dokumen
Semua hal yang berkaitan dengan foto, audio, video, dan arsip tertulis atau lainnya merupakan sebuah dokumen yang akan dapat mendukung penelitian ini. Sehingga dengan adanya dokumen tersebut maka akan dapat membantu penelitian ini menjadi lebih riil dan jelas.
3.5.      Jenis Data
1.      Data Primer
Sumber data primer menurut Muhadjir (2000), “Asal diperbolehkannya suatu data secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat pada kegiatan penelitian”. Kemudian Marzuki (2003 dalam Soriano, 2012), mengatakan bahwa “Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertamakalinya sumber data ini langsung diperoleh dari obyeknya”.
2.      Data Sekunder
Menurut Marzuki (2003 dalam Soriano, 2012), mengatakan bahwa data sekunder “Data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti, misalnya dari biro statistik, majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya”.
3.6.      Metode Pengumpulan Data
1.      Wawancara
Menurut Sukaryana (1992 dalam Suriano, 2012), mengatakan bahwa wawancara merupakan:
“Mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan. Mengkonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai pengalaman masalalu, memproyeksi kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang. Memverifikasikan, mengubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, dan memverifikasi, mengubah serta memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti”.
Metode wawancara merupakan cara memperoleh data melalui tanya-jawab secara langsung dengan informan atau sumber data. Dalam sebuah penelitian informasi diperoleh dan dilakukan melalui wawancara terhadap obyek yang bersangkutan.
2.      Dokumentasi
Dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan serta membandingkan dengan hasil wawancara. Menurut Hadari (1995 dalam Suriano, 2012), menyatakan bahwa:
“Melalui teknik ini data dikumpulkan dengan jalan mengadakan pengamatan dan pencatatan, seperti struktur organisasi, jurnal, kebijaksanaan dan peraturan yang dapat dipergunakan dalam menetapkan berbagai hal berhubungan dengan kebijaksanaan yang dibuat dan mempunyai hubungan erat dengan masalah dan tujuan dari penelitian”.
Dokumen yang dibutuhkan dalam suatu penguatan penelitian bisa berupa arsip.
3.7.      Keabsahan Data
Untuk mengetahui derajat kebenaran hasil penelitian perlu ditetapkan keabsahan datanya. Setiap penelitian kualitatif memerlukan standar untuk melihat derajat kepercayaan atau kebenaran hasil penelitian, sehingga data yang dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan. Keabsahan data penelitian kualitatif ditentukan melalui pemeriksaan tertentu. Pelaksanaan pemeriksaan ini didasarkan beberapa kriteria (Moleong, 2000), antara lain:
1.      Derajat kepercayaan (Credibility)
Berfungsi untuk melaksanakan inquiry (penyidikan) sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan menunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti. Derajat kepercayaan dapat dicapai lewat ketekunan, pengamatan, perpanjangan partisipasi, melakukan trianggulasi, memperbanyak referensi dan mengkaji kasus negatif.
2.      Keteralihan (Tranferability)
Merupakan validitas eksternal yang didasarkan pada konteks empiris setting penelitian, yaitu tentang emic yang diterima peneliti ethic yang merupakan hasil interprestasi peneliti. Derajat keteralihan dapat dicapai melalui uraian yang cermat, rinci, tebal atau mendalam serta adanya kesamaan konteks antara pengirim dan penerima.
3.      Ketergantungan (Dependability)
Dilakukan untuk memeriksa akurasi pengumpulan data analisis data. Agar derajat reliabilitas dapat tercapai maka diperlukan audit atau pemeriksaan yang cermat terhadap seluruh komponen dan proses penelitian serta hasil penelitian.
4.      Kepastian (Confirmability)
Objektivitas yang berdasarkan pada emic dan  ethic sebagai tradisi penelitian kualitatif. Derajat ini juga dapat dicapai melalui audit atau pemeriksaan yang cermat terhadap seluruh komponen dan proses penelitian serta hasil penelitian.
            Dalam rangka mengklarifikasi kesahihan dan kemutakhiran data untuk menunjang keabsahan data, maka penelitian ini membutuhkan nara sumber sebagaimana yang telah disebutkan. Karena fungsi nara sumber tersebut adalah sebagai pemberi penjelasan dan klarifikasi atas peristiwa yang pernah diketahui atau dialami sesuai dengan perannya.
Selain itu menurut Sutopo (n.d. dalam Aminullah, 2013), “Ada metode Triangulasi yang biasa digunakan dalam berbagai penelitian, yaitu Triangulasi sumber/data, metode, peneliti, dan teori”. Maka atas dasar konsep penelitian tersebut penelitiaan ini juga menggunakan berbagai sumber guna mendapatkan banyaknya informasi yang dapat mendukung penelitian ini tepatnya sasarannya adalah manusia yang ikut serta dalam aktifitas yang diteliti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara dan dokumen guna melengkapi data, serta perbandingan dari berbagai macam teori-teori sehingga dapat dan mampu memberikan suatu kesimpulan atas perbedaan hasil penelitian yang sekarang dengan teori-teori dahulu yang digunakan. Keabsahan data juga didukung dari dokumen-dokumen (data sekunder) yang telah dikumpulkan baik berupa literatur, karya ilmiah, jurnal maupun peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Dengan adanya nara sumber dan dokumen tersebut maka keabsahan data akan semakin dapat dipertanggungjawabkan.
3.8.      Teknik Sampling
Dalam penelitian ini menggunakan dua teknik Sampling, yaitu: Purposive sampling (sampling bertujuan). Dengan menggunakan purposive sampling penelitian ini akan menggunakan informan yang berkarakteristik, artinya informan yang diperlukan itu adalah beberapa orang yang memang bergelut dengan hal yang mau dijadikan obyek penelitian, seperti mahasiswa komunikasi yang memang mengikuti matakuliah komunikasi lintas budaya dan yang mengikuti kelas diskusi online, juga dosen pengampu matakuliah komunikasi lintas budaya itu sendiri.
Selain itu, perlu diketahui bahwasanya teknik purposive sampling tersebut menggunakan target informan yang akan menjadi sumber data/diwawancarai, sehingga pada suatu praktik dilapangan akan menjadi kemungkinan penelitian ini juga diikuti atau diiringi dengan teknik yang selanjutnya yaitu: teknik Snowball Sampling. Karena dengan teknik ini penelitian ini bisa mendapatkan informan yang berantai yang kemunkinan akan dapat memberikan informasi yang lebih banyak juga lebih lengkap, dengan teknik ini pula penelitian ini bisa mengembangkan informasi-informasi yang awalnya kurang jelas menjadi lebih jelas dan rinci dengan adanya banyak informan yang memberikan informasi. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi informasi yang kurang relevan atau kurang dibutuhkan bisa dibiarkan. Sedang pencarian informasi ini akan tetap berjalan sehingga pada informan yang terakhir, maka dari sanalah akan ditemukan berbagai informasi tentang apa yang diteliti.
3.9.      Teknik Analisa
Ada banyak macam teknik penelitian yang digunakan oleh penelitian-penelian terdahulu, namun untuk penelitian ini menggunakan teknik analisa yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (n.d. dalam Aminulloh, 2013), bahwa “Teknik ini terdiri dari tiga komponen yaitu reduksi data (data reduction), sajian data (data display), dan penarkan simpulan/verifikasi (drawing and verifying conclusions).
Yang dimaksud dari reduksi data tersebut bukan lantas sembarang dalam membuang suatu data yang tidak diperlukan, akan tetapi hal tersebut merupakan suatu upaya/usaha yang dihasilkan dari dilakukannya sebuah analisa data. Penyajian data yang dimaksud disini adalah melibatkan langkah-langkah penyusunan atau pengorganisasian data, yakni menyeiringkan atau menyambungkan data yang satu terhadap data yang lain sehingga perolehan dari data-data yang dianalisis mampu menjadi satu kesatuan yang akan menciptakan satu frame dari hasil penelitian tersebut . Sedangkan pada tahap penarikan/validasi kesimpulan, penelitian ini menggunakan atau memanfaatkan sebuah prinsip  induktif  (suatu prinsip yang bermula dari hal-hal yang khusus ke umum) dengan menggunakan berbagai pertimbangan untuk mencapai pemvalidasian data dengan banyaknya data yang telah diproses dalam penyajian data (data display).



Ismail, Yusuf. 2017. Menambahkan Caption pada Gambar di Microsoft Word di            http://yusufismail91.blogspot.com/2017/12/menambahkan-caption-pada-gambar-ms           -word.html (diakses pada 26 Oktober 2018 pukul 09:03 Wita)
Moloeng, L J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Suhada, Humaedi. 2017. 7+ Contoh Daftar Pustaka dari Internet / Buku / Jurnal / Makalah          di https://www.hadacircle.com/2017/08/daftar-pustaka.html (diakses pada 26 Oktober           2018 pukul 08:08 Wita)
Suhada, Humaedi. 2017. Penulisan Daftar Pustaka di          https://www.hadacircle.com/2017/08/penulisan-daftar-pustaka.html (diakses pada 26 Oktober 2018 pukul 9.30 Wita)
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2017. Komunikasi massa – Wikipedia bahasa Indonesia,       ensiklopedia bebas di         https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_massa (diakses pada        26 Oktober 2018 pukul 08:27 Wita)
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2017. Obon – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas         di https://id.wikipedia.org/wiki/Obon (diakses pada 26 Oktober 2018 pukul 08:14      Wita)
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2017. Persepsi – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia  bebas di https://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi (diakses pada 26 Oktober 2018 pukul            08:36 Wita)

Comments


EmoticonEmoticon