Contoh Isu dan Krisis (Manajemen Isu dan Krisis) - HadaCircle

3 April 2019

Contoh Isu dan Krisis (Manajemen Isu dan Krisis)

Manajemen Isu dan Krisis


Karena Gula, Timbul Propaganda (Coca-Cola)

The Coca-Cola Company boleh jadi merahasiakan resepnya secara resmi. Namun, sebagaimana nasib beberapa perusahaan besar lain, resep rahasia Coca-Cola bocor. Bahan-bahannya telah diketahui publik sejak awal 1990-an atau saat perusahaan menerbitkan buku For God, Country & Coca-Cola. Sang penulis, Mark Pendergrast, tak sengaja melihat resep Coca-Cola di buku formula milik Pemberton.

Kritik yang paling sering dilancarkan pada Coca-Cola adalah apa yang terkandung di dalam minumannya. Dalam catatan Departemen Pertanian AS, satu kaleng Coca-Cola standar mengandung 38 gram gula. Angka ini termasuk tinggi dan banyak pihak yang menilai perlu perhatian khusus sebab ada sebagian masyarakat dunia yang mengonsumsi Coca-Cola untuk minuman sehari-hari seperti halnya mengonsumsi air mineral.

Menurut penelitian Harvard School of Public Health pada 2015, “orang yang mengonsumsi 1-2 kaleng minuman bergula tiap harinya akan terkena risiko 26 persen lebih tinggi untuk penyakit diabetes tipe 2”. Sementara itu Medical News Today pernah melaporkan sebuah studi yang mengklaim bahwa 184.999 kematian warga dunia tiap tahun adalah sebagai dampak dari konsumsi minuman bergula seperti Coca-Cola dan sejenisnya.


Memasuki abad-21, kampanye untuk berhenti mengonsumsi minuman ringan dengan kandungan gula tinggi terus bermunculan. Salah satunya tentu saja menyasar Coca-Cola. Kini, tak sulit menemukan riset yang menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berkarbonisasi seperti Coca-Cola lebih punya dampak buruk untuk masa depan yang bersangkutan.

Kampanye ini menuai keberhasilan, dibantu dengan penyebar luasan sejumlah riset yang menyatakan bahwa penyakit obesitas dan diabetes di AS makin mengkhawatirkan. Dalam survei Gallup dua tahun lalu, misalnya, ditemukan bahwa 60 persen rakyat AS mengaku sedang dalam upaya menghindari minum minuman bersoda.

Coca-Cola dan perusahaan minuman soda lain tahu akan hal ini. Dalam laporan The Guardian pada 2015 lalu, disebutkan bahwa laporan tahunan Coca-Cola dalam sepuluh tahun terakhir kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS tercantum obesitas dan konsekuensi kesehatan lain sebagai ancaman terbesar bagi perusahaan. Coca-Cola pun mengakalinya dengan pemasaran yang intensif, membuat Coca-Cola rendah gula, lobi-lobi, serta kampanye tandingan dengan modal duit yang tak sedikit.

Salah satu kampanye tandingan yang pernah dilancarkan Coca-Cola yakni dengan cara mendanai organisasi Global Energy Balance Network. Mereka bertugas mempromosikan ide pencegahan obesitas yakni dengan tak usah repot-repot mengurangi porsi makan atau porsi minum soda, melainkan cukup dengan lebih aktif bergerak atau berolahraga. Ini hanya salah satu contoh sebagaimana mereka meluncurkan produk Diet Coke dengan promosi lebih rendah gula.

Para peneliti dari University of California pada akhir Oktober kemarin mempublikasikan analisisnya dari 60 hasil penelitian yang dilakukan sepanjang periode 2001 hingga 2016 bertemakan kaitan antara konsumsi minuman ringan dengan risiko kesehatan.

Hasilnya: penelitian yang menunjukkan tak ada hubungan antara obesitas, diabetes, dan minuman soda dengan pemanis buatan hampir 100 persen didanai oleh industri minuman ringan itu sendiri. Dari 34 penelitian yang berkesimpulan ada hubungan antara minuman ringan dengan risiko buruknya, hanya satu yang didanai oleh industri tersebut.

Profesor Carl Henegan, Direktur Centre for Evidence-Based Medicine di University of Oxford, berkata pada The Independent bahwa analisis tersebut menambah literasi terkait bias lembaga penelitian atas riset yang mendapat dana dari pelaku bisnis. Pembuat dan penegak kebijakan, katanya, mesti memahami sumber-sumber penelitian yang dipublikasikan ke pubik karena efeknya akhirnya kembali ke publik itu sendiri.
"Kenyataannya saat ini kita sedang dalam perang dengan penyakit diabetes. Di setiap perang ada propaganda. Publik mesti sadar bahwa mereka sedang dimainkan. Jika Anda mengecualikan studi yang didanai oleh industri dan hanya melihat studi yang didanai secara independen, menjadi jelas bahwa minuman bergula manis menyebabkan obesitas dan diabetes,” ujarnya.

Fakta-fakta kesehatan itu masih akan menjadi "musuh besar" Coca-Cola di masa mendatang. (Sumber: Akhmad Muawal Hasan - tirto.id)

Isu Membahayakan
Karena riset yang tidak dibiayai oleh perusahaan Coca-Cola akan terus mempublish data bahwa produk Coca-Cola membahayakan kesehatan, walaupun Coca-Cola berhasil meng-counter isu tersebut dengan membiayai banyak riset untuk membuktikan bahwa produknya tidak ada hubungannya dengan ketakutan dari konsumen.



Huawei Dianggap Mata-Mata Cina

Dalih penangkapan Wanzhou memang soal kongsi Huawei dengan Iran. Namun, AS juga mengaitkan Huawei dengan sentimen negatif. Laporan Vox, pada 2014 Huawei diblokir mengikuti tender AS terkait jaringan telekomunikasi. Pada Agustus di tahun yang sama, AS memperkuat larangan dengan menerbitkan aturan khusus pemblokiran penggunaan infrastruktur Huawei oleh pemerintah dan kontraktornya.

AS juga melarang anggota militer AS menggunakan smartphone bermerek Huawei. Pada 2018 AT&T, salah satu provider besar di AS, memutus kerja sama penjualan smartphone Huawei di AS. Tiga bulan berselang, Federal Communication Commissions (FCC), komisi yang mengatur dunia telekomunikasi AS, mengusulkan aturan yang melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan dana dari Universal Service Fund untuk digunakan membeli perlengkapan telekomunikasi dari Cina, terutama Huawei.

AS juga menggunakan kekuatan korporasi. Saat Broadcom hendak membeli Qualcomm, perusahaan pembuat chip mobile terbesar, Presiden Trump memutus untuk menghentikan aksi korporasi itu. Salah satu alasan yang berkembang, ada kekhawatiran bahwa Qualcomm, yang memiliki hubungan baik dengan Huawei, akan memangkas pendanaan soal penelitian dan pengembangan Qualcomm, yang akan membuat Huawei berpacu sendirian.

AS punya kecurigaan pada Huawei bahwa perusahaan itu menjalin hubungan istimewa dengan Pemerintah Cina. AS khawatir Cina bisa menggunakan Huawei sebagai sarana mata-mata. Menurut AS, Zhengfei pernah ikut serta dalam Kongres Partai Komunis pada 1982. Huawei dianggap memiliki Komite Partai Komunis di tubuh perusahaan.

Laporan berjudul “Investigative Report on the U.S. National Security Issues Posed by Chinese Telecommunications Companies Huawei and ZTE” yang dirilis parlemen AS mengungkap “Huawei memasarkan diri sebagai ‘penyedia solusi ICT global terkemuka’, yang berkomitmen untuk menyediakan jaringan yang dapat diandalkan dan aman. Sepanjang penyelidikan, Huawei secara konsisten membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Cina dan mempertahankan sikap sebagai perusahaan swasta, tak ada urusan dengan negara.
Namun, banyak analis industri, bagaimanapun, telah menyarankan sebaliknya, banyak yang percaya, pendiri Huawei, Ren Zhengfei, adalah seorang direktur Akademi Teknik Informasi Pembebasan Rakyat (PLA), sebuah organisasi yang mereka yakini terkait dengan 3PLA, divisi intelijen sinyal Cina, dan bahwa koneksinya ke militer.

Beberapa negara dunia terpengaruh dengan AS, misalnya Australia dan Selandia Baru yang memblokir Huawei untuk membangun jaringan 5G. Namun, negara sekutu seperti Kanada, Inggris, dan Jerman, belum melakukan sesuatu pada Huawei.

Di Indonesia, Huawei menjejakkan kakinya pada hulu dan hilir telekomunikasi sejak 2000. Panji Pratama, Public Relation Manager Huawei Indonesia, mengatakan Huawei beroperasi dengan tiga inti bisnis di Indonesia, antar lain infrastruktur telekomunikasi, enterprises, dan konsumer. Di bidang infrastruktur telekomunikasi seperti perangkat BTS. "Huawei melayani major customer operator-operator besar di Indonesia," kata Panji.

Pada 2012, XL Axiata, salah satu provider di Indonesia, menunjuk Huawei sebagai penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi. XL menunjuk Huawei untuk mengelola jaringan telekomunikasi mereka. Menurut rencana, kerja sama yang dimulai sejak April 2012 akan berakhir pada April 2019.

Selain XL, Telkomsel, provider Indonesia, juga bekerjasama dengan Huawei. Pada 2014, Huawei akan menyediakan infrastruktur BTS 3G bagi Telkomsel. Kerja sama Telkomsel-Huawei merupakan kerja sama penyediaan 100 BTS 3G.

Singue Kilatmaka, Manager Media Relation Telkomsel, mengakui penggunaan infrastruktur Huawei untuk Telkomsel. “Pasti ada (penggunaan infrastruktur Huawei). Semua operator juga pasti ada. Namun, selain Huawei ada juga misalnya Ericsson.”

Soal dugaan penggunaan kekuatan Huawei untuk mata-mata Cina, Denny Abidin, GM External Corporate Communications Telkomsel, menegaskan provider Telkomsel “selalu memastikan bahwa perangkatnya bekerja sesuai dengan seluruh standardisasi.”

Huawei pernah mengirimkan surat terbuka dalam menanggapi tuduhan miring “Huawei merupakan institusi komersial normal, tidak lebih.” Mereka “mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku di negara dan wilayah tempat kami beroperasi, termasuk undang-undang kontrol ekspor.”

Tuduhan AS kepada Huawei memang belum terbukti, dan bisa jadi hanya ketakutan belaka. Suka tidak suka, perangkat produk Huawei kini masih menjadi bagian keseharian kita, secara langsung atau tak langsung. (Ahmad Zaenudin - tirto.id)

Isu Tidak Membahayakan
Secara luas, orang-orang telah mengetahui tensi tinggi persaingan dagang antara kedua negara tersebut, jadi sejak lama telah menjadi hal biasa antara keduanya menggunakan sentimen negatif untuk melemahkan masing-masing jadi tidak akan berpengaruh sidnifikan terhadap pengguna perangkat Huawei di luar Amerika Serikat.


#ReadMoreKnowMore #HadaCircle #MediaNusantaraBerkemajuan
Editor: Humaedi Suhada
Comments


EmoticonEmoticon